Skip to main content

Posts

Showing posts from 2011

A Long December *

A long December and there's reason to believe//Maybe this year will be better than the last// I can't remember the last thing that you said as you were leavin'//Now the days go by so fast// ..., sebut Adam Duritz, vokalis band Counting Crows dalam lirik lagunya yang berjudul A Long December. Lagu yang ditulis pertengahan Desember 1995, memang masih layak dikonsumsi gendang telinga. Apalagi menjelang tengah malam akhir Desember tahun ini.

Dinasti Abbasiyah

Pokok Bahasan:  Pecahnya Dunia Islam & Timbulnya Dinasti-dinasti Kecil di Barat dan Timur Baghdad Pada Masa Dinasti Abbasiyah 
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Setelah mengikuti beberapa kuliah terakhir mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, dimana di dalamnya telah dibahas tentang dua dinasti besar setelah masa khulafaurrasyidin, yaitu Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah (selanjutnya disebut Abbasiyah saja). Dari pembahasan-pembahasan ini di antara banyak kesimpulan yang telah diambil, penulis mencatat bahwa terdapat satu perbedaan mencolok antara kedua dinasti ini. Perbedaan ini dapat penulis pahami khusus pada aspek perkembangannya masing-masing. Bahwa pada Dinasti Umayyah aspek yang sangat berpengaruh dan berkembang adalah aspek politik. Ini dapat dibuktikan melihat pada luasnya wilayah penaklukan yang dicapai pada masa pemerintahannya. Sedangkan Abbasiyah, aspek yang paling mendominasi –bukan bermaksud berpendapat bahwa aspek lain tidak berkembang sama sekali– dalam perkembanga…

Tsunami; Mengenang Kembali

Jika kau suruh kami untuk mengenang kembali, tentang pagi minggu yang penuh maut itu. Mohon mengerti. Kami sudah tak tahu mengenang apa lagi. Kami sudah tak tahu bagaimana melupa atau membuang pikiran tentang orang-orang yang mati menggenang atau hanya dengan sekali alir air, orang-orang menghilang. Kami sudah tak tahu bagaimana mengenang dengan baik dan benar, sesuai akal waras dan sehat logika. Jangan katakan kami sedang dilanda traumatis akut pula. Sebab, jauh hari sebelumnya, kami sudah banyak belajar bagaimana menghibur diri ketika menderita kehilangan. Kami sudah tahu bagaimana membendung perasaan ketika suami kami tertembak peluru nyasar, anak kami yang tak pulang-pulang, entah kesasar, hingga jika kau sebut pagi minggu penuh maut itu adalah muasal penyakit trauma. Dengan tegas kami menolak. Kami tak pernah trauma dengan kematian. Kami tidak trauma dengan kematian dalam bentuk apa pun. Kau tahu bagaimana bisa? Jawabannya: kami masih punya keyakinan atau iman dalam dada. 



Image s…

Melanjutkan 'Perkelahian' Hasan Aspahani

Barusan, beberapa menit lewat, melalui blog ini, saya melakukan perjalanan jauh di dunia maya. Berjalan selayaknya saya berjalan kaki di siang hari. Banyak singgah di sana-sini. Singgah di blog sana, istirahat di blog lain lagi. Begitulah. Tengah malam jum'at, dalam keadaan dingin begini, blog teman-teman yang saya ikuti, saya singgahi satu-satu. Tak semuanya memang. Tapi boleh dikatakan melebihi setengah dari semua yang ada. Hingga setelah beberapa kali singgah di banyak blog, akhirnya saya menetap lama di blog salah seorang tukang puisi Indonesia yang namanya sering nangkring di media-media cetak nasional. Blog Hasan Aspahani. Blognya ini bertajuk: "Sejuta Puisi Hasan Aspahani". Nah, di sini pula saya menemukan sebuah puisi yang membuat saya menetap lama di sini. Banyak puisi yang dapat saya nikmati di sini. Dan buat malam ini, salah satu puisi yang paling berkesan di hati saya adalah puisi yang berjudul "Berkelahilah". Setelah membaca puisi ini berkali-kali,…

Orang-orang Beruang

uang ada di tangan. orang-orang yang mabuk selangkangan. orang-orang yang berebut jatah pendidikan. sayang nian. namun bermulalah uang. berakhir jua pada kematian. tapi apa pasal itu mati? jikalau hidup serupa mimpi. jikalau jabatan bisa dibeli. apalagi harga nasi. perkara mati, begi kami; orang-orang yang lupa diri, adalah perkara yang tak perlu digurui. sebab, uang sedang demikian penting. kami tak mau pening-pening. mati adalah urusan lain. toh, kami tak hidup di alam lain.

maka bermulalah uang. kemudian perang. kemudian dendam. kemudian nikmat perawan. kemudian perempuan simpanan. kemudian pesiar mingguan. kemudian penyakit akut. kemudian perasaan takut. kemudian kulit berkerut. kemudian malaikat maut.

tapi mati, tetap saja urusan lain. toh, kami tak hidup di alam lain. maka kembali kepasal pertama. uang ada di tangan. orang-orang yang memegang jabatan. orang-orang yang minim keturunan. celaka sudah. ceulaka dua blah, buat si miskin bermodal aamiiiin. sebab uang, kami …

Barangkali Kita Adalah Sekumpulan Xenomania Belaka

Akhir-akhir ini perang opini tentang kebijakan pemerintah kota Banda Aceh yang menggaruk keberadaan komunitas punk sangat gencar terjadi. Ada yang pro dengan pemerintah ada juga yang kontra. Berkenaan dengannya, saya ingin katakan begini:
Mungkin, atau boleh jadi, atau barangkali, kita sedang keranjingan untuk terus memusatkan pikiran terhadap hal-hal kecil belaka akhir-akhir ini. Banyak isu-isu (idea-idea) yang dikembangkan oleh (kebanyakan) Barat (untuk kata ini, kau boleh baca: orientalis), sekarang ini sudah menjadi trend para intelektualis kita untuk mengadopsinya sebagai landasan berpikir dalam melemparkan gagasan terhadap sebuah masalah.

Belajar Pegang Camera

Ya, saya sedang belajar pegang camera. Camera yang sering dipegang oleh photographer-photographer itu. Kamera mahal tentunya, sebab ia bukan kamera pocket, dan bukan juga kamera biasa yang jangkauan zoom-nya hanya beberapa ratus centimeter saja. Tapi, terus terang kamera yang saya pegang bukan kepunyaan pribadi. Punya abang angkat saya, yang sekali waktu datang ke tempat saya. Maka, selagi ada kamera begini, saya minta izin untuk belajar motret dengannya. Mengambil gambar apa saja. Saya tak tahu ilmu photography; entah itu berkenaan bagaimana cara mengambil gambar yang bagus, sudut pandang, letak objek, angel, dan lain sebagainya. Saya tak tahu tentang hal-hal detil begitu. Jadi, di sini saya memotret suatu objek dengan modal insting yang ada di hati dan kepala. Itu saja. Hasilnya? Kalian boleh lihat seperti gambar di atas dan gambar-gambar berikut:

Tak Ingin Membati Buta

Kiranya ketika melangkah, kita butuh penunjuk arah. Sebab kita masih buta. Kita memang buta. Ya, hakikatnya kita benar-benar buta, walau mata terbelalak, terpelotot lebar terbuka. Kita mesti mengakui banyak hal tentang kebutaan ini. Mungkin kita pernah membaca kalimat Seno Gumira Aji Darma dalam Kisah Mata. Sebutnya, "... dunia ini penuh dengan keajaiban karena hal-hal yang tidak masuk akal masih terus berlangsung. Seorang fotografer ingin membagi duka dunia di balik hal-hal yang kasat mata. ..., para fotografer membagi pandangan, tetapi yang memandang foto ternyata buta meskipun mempunyai mata." Kita tahu yang dimaksudkan Seno dalam kutipannya tak lain adalah sinyal untuk menerangkan bahwa kebutaan manusia pada dasarnya tidak melulu berhubungan dengan indera melihat saja. Tapi ia menerangkan dengan halus, bahwa, meskipun seseorang punya mata, tetapi hakikatnya dia adalah seorang buta. Kenapa demikian? Boleh jadi, hal keadaan demikian disebutkan karena banyak di antara kita …

Sanad Hadits; Kajian Tentang Naqd as-Sanad/Kritik Eksternal

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam perkembangannya, hadits, setelah wafatnya Rasulullah SAW sampai pada abad pertama dan kedua hijriah diturunkan secara lisan dari mulut ke mulut melalui hafalan-hafalan. Sehingga pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (99-101 H) upaya penulisan hadits secara resmi dilakukan. Sejak dari sini perkembangan ilmu hadits berkembang sedemikian pesatnya. Ilmu hadits dipelajari oleh para ilmuwan, baik ilmuwan Islam maupun non-muslim. Hal keadaan ini bisa dilihat dari banyaknya karya-karya besar para ilmuwan tersebut setelah mereka menelaah ilmu hadits. Kajian-kajian para ilmuwan seperti tersebut di atas adalah dipengaruhi oleh kedudukan hadits itu sendiri. Di mana hadits merupakan sumber utama hukum Islam setelah Al-Qur’an. Dari sini dapat diketahui bahwa mempelajari hadits merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dilakukan oleh siapapun ketika ingin memahami Islam secara mendalam. Maka dalam mempelajari hadits diperlukan macam-macam kaidah di dalamnya sehingga meng…

Zaman Jahat & Mengkarat

Malam buruk rupa. Jahat tiba-tiba. Tiba jahat dengan gesa. Tanpa permisi, tanpa basa basi. Sedang angin tak satu pun hembus. Apalagi bintang. Pun jangkrik. Semua seperti tak berkutik. Dan jahat dengan sempurna ada. Tanpa undangan, tanpa isyarat tangan. Jahat seenak perutnya melakukan kejahatan. Kerjaan serupa menggugat yang alim, mengagungkan isu-isu lalim adalah perkara yang rutin dikerjakannya. Jahat adalah jahat adanya.

Pendekatan Antropologis Dalam Kajian Islam

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Sejak kedatangannya, agama Islam telah menimbulkan banyak tatanan perubahan di dunia. Perubahan yang mencakup berbagai aspek kehidupan umat manusia, baik dalam tatanan masyarakat, kebudayaan, politik, sejarah, dan lain sebagainya. Perubahan tatanan ini kemudian ada yang menjadi tatanan baku dalam suatu kultur masyarakat, dan ada pula yang menjadi sebagai bahan kajian para ilmuwan bagi mengembangkannya sesuai dengan konteks tatanan masyarakat itu sendiri. Kajian-kajian yang dimaksud kemudian terus berkembang sedemikian rupa merujuk kepada berbagai aspek ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh para ilmuwannya.

Ketika Obama & Chavez Berciuman

Pertama sekali membuka mozilla dengan maksud ingin browsing, berita yahoo adalah laman yang telah terdefault di mozilla saya. Ketika loading wifi-an usai, berita teratas yang muncul di dalamnya adalah berita foto tentang iklan kontroversial Benetton (sesuai dengan judulnya). Inilah yang membuat saya ingin menulis sesuatu tentang kedua orang besar ini sesuai dengan isi pikiran saya saja. Jadinya, ya seperti yang sedang kalian baca, ini tulisan saya kasih judul 'Ketika Obama & Chavez Berciuman'.

River Cruise Melaka

Suatu sore ketika berkesempatan berkunjung ke Melaka, Malaysia. Sendirian saja saya jalan-jalan di seputar kotanya. Melaka, kota yang berjarak dua jam perjalanan darat dari ibukota Malaysia; beberapa tahun lewat masuk dalam daftar UNESCO sebagai kota warisan sejarah dunia. Melaka, kota yang dibelah oleh sungai berair keruh punya warna. Namun usaha pemerintah setempat dalam menarik wisatawan dalam dan luar negeri telah membuat sungai ini menjadi hidup dengan aneka rupa bangunan di pinggirnya. Pada kesempatan yang baik ini, saya menyempatkan diri berjalan di sepanjang pinggiran sungainya. Mendokumentasikan tempat dan suasana dengan kamera seadanya. Terus terang, saya masih amatiran dalam bidang fotografi, tapi tata kota yang rapi menjadi daya tarik didokumentasi. Hasilnya, kalian boleh lihat sendiri beberapa gambar berikut ini:

Jika Boleh Bertanya

jika benar pahlawan memang ada
kenapa mesti kubur yang kau tunjuk saja
jika benar pahlawan punya rupa
ke pajang foto sajakah arah mata kita

sudahlah
kerja sajalah

cukup do'a di kuburan orang tua
atau hening cipta pada sanak keluarga
sebab sekarang mengenang pahlawan
adalah pengalih berita tentang celaka

jika benar pahlawan membela negara
segelintir orang sajakah yang bisa kaya
jika benar pahlawan tak punya nama pernah ada
bagaimana dengan anonim yang sedang terlunta

entahlah
kentut sajalah

toh, di sini kita sedang hidup sendiri-sendiri
untuk kemudian meng-antri mati di depan televisi
sedang mereka yang berdo'a dalam baris upacara
adalah orang-orang salah pilih dalam ritual pilih memilih

kelak ketika kentut dan kerja mencapai akhir
kita paham bahwa pahlawan tak pernah berhasil
berusaha dalam derita sampai anak cucu di ambang lahir
tapi tak pernah berkesempatan memetik hasil

Bivak Emperom, 10 November 2011.

Televisi Will Kill You

Mulanya kita tak segila sekarang ini. Mulanya kita adalah orang-orang udik yang tak tahu apa-apa. Namun ketika televisi ada, tiba-tiba, kita menjadi orang-orang yang serba tahu. Apa saja; tentang perang, artis, aktor, musik, bencana, demonstran, olah raga, dan lain sebagainya. Mulanya televisi mengajarkan  kita tentang bagaimana menjalani hidup dengan suka cita. Berbagai pesan-pesan gembira hadir di depan mata, dicerna otak, dan kemudian menyemat dalam hati kita. Sehingga ketika menonton tayangan berita peperangan pun, kita masih bisa tersenyum menyimaknya.

Kita tak segila ini pada dasarnya. Pada saat televisi mati, kita adalah orang-orang waras yang mampu berlogika dengan baik dan mendekati sempurna. Hingga kita bisa menyebut diri tak gila sama sekali. Tapi apa hendak dikata. Televisi hadir tanpa kita ketahui, dengan serta merta, tanpa tegur sapa, tanpa izin pamit, tanpa basa basi pula. Pun begitu kita menerimanya dengan suka cita. Kita memperlakukannya dengan baik dan kemudian men…

Menulis November

Bagaimana kalau tak kutuliskan apa-apa di awal november ini? Atau bagaimana kalau nanti seseorang datang mengetuk pintu belakang, dan bertanya; "Adakah sesuatu tulisan yang bisa kusantap nanti malam?" Apa yang mesti kujawab? Mungkin kamu ada saran. Dan sementara kutunggu kau punya saran, aku akan mencoba menyarankan -itupun kalau kau mau untuk diberi saran- tentang bagaimana semestinya saran yang sedang kutunggu datang darimu itu kau pikirkan. Aku mengharapkan beberapa saran yang punya keterikatan dengan soalan. Serupa saran yang merujuk kepada pokok permasalahan. Bingung? Jika begini saja sudah bingung, bagaimana pula kau akan memberi saran. Sudahlah, lupakan saja!


Syarat Pemimpin Ala Seokarno

Tentu saja, Bung Karno adalah orang hebat. Tokoh Indonesia yang belum ada pesaingnya sampai sekarang. Foundingfather-nya Indonesia. Soekarno adalah orang besar. Siapapun setuju dengan itu.

Facebooknya Indonesia, Join!

I want you to take a look at: Indonesian Social Network Mulanya jumpa dengan situs ini, aku disodorin alamat linknya sama seorang temen. Nama linknya terkesan agak-agak nyeleneh gitu. Ini: http://www.kombes.com. Pertamanya aku pikir ini situs berbicara tentang salah satu lembaga pertahanan di negara kita. Secara Kombes setahu aku adalah singkatan dari Komisaris Besar, dan biasanya ini gelar disemat pada sebuah jabatan Polisi Indonesia. Hehehehe... Tapi, pas kukunjungi ini link, rupanya isi di dalamnya adalah situs jejaring sosial yang dikembangkan oleh anak negeri. Ya, tepatnya seperti judul tulisan ini; Facebooknya Indonesia lah! Maka beranjak dari iklan yang pernah digembar-gemborkan anak-anak negeri kita beberapa tahun lalu -kalian pasti ingat iklan Aku Cinta Indonesia (ACI)- akupun mendaftarkan diri di sini. Hitung-hitung sebagai wujud rasa nasionalismaku kepada negara yang sampai sekarang belum ketiban untung ini (sebab ulah pejabat-pejabat negara kita yang sampai sekarang seperti b…

Togel

malam ini bulan tak jadi jatuh
si peramal telah berdusta
yang diramal sakit, kambuh


malam ini bintang tak berekor
si peramal takut, bersimpuh
yang diramal membawa teror

katanya, 

kau peramal keparat
khianat dusta tambah laknat
tak keluar itu nomor

malam ini peramal jatuh
yang di ramal melepuh
keduanya sama-sama runtuh


malam ini bulan bintang geli hati
nomor-nomor adalah mimpi
nomor-nomor adalah candu di sela gigi


Tanjung Balai - Bukit Mertajam, 2009 - 2010



the man who has secondhand brain

it's my self, the man who they call a thousand hopes, drunk the man who have many dreams
it's i am yes, just i am the man who would never be satisfied with what he got before
it's me not someone else the man who have many doodle in his head
it's my self, the man who always thinking of with his secondhand brain fully secondhand brain
oct. 2011, emperom.

Munafik Waktu

Ada yang tersisa dari sebuah perjalanan. Aku menyisakanmu. Kau menyisakan gelak senyummu. Di taman kita saling mengenang. Segala langkah yang pernah terpijak. Segala jejak yang tertinggal. Dan kemudian pupus dalam lamun kabut malam. 
Senja ini tak ada yang dirundung murung, katamu. Selain si perempuan yang bermain biola itu. Alunan gesekan senarnya serupa alunan lagu yang menceritakan si durhaka Delilla.Yang memangkas rambut kekasihnya pada sebuah malam tak berkata.
Tapi di sini, kita tidak sedang pacaran, tukasku. Tapi dekapanmu berkata lain, jawabmu.

el amor falso

Cinta. Padanya, jiwa kita larut. Hati kita hanyut. Pelbagai macam rasa kerap hinggap, dan berkedut. Kadang rasa cemas yang membuncah, cemburu yang menghantu, atau juga rindu yang membiru. Rasa seperti ini menjadi hal rutin yang hadir. Hadir melingkup otak kiri kanan kita, mengatup sisi jantung yang berdegup, yang dengannya kita menjadi hilang akal untuk mencernanya. Serta merta pula kita mesti larut dengan apa yang menjadi rasa. Cinta adalah nyata, tapi kadang juga jadi tak benar-benar nyata. Cinta bukan barang ganjil. Genap adalah adanya, sebab cinta membutuhkan sepasang benda untuk bertaut. Sepasang. Berpasang, hingga kemudian ketika cinta tersemat lekat, kita menyebut sepasang itu sebagai pasangan. Pasangan, yang keduanya saling cinta mencintai. 

Solilokui Pejabat Bangku Panjang

:Tuan Kuasa, Yang Baru Bertahta Tuan, langsung saja; tanpa mukaddimah, bermula bismillah. 
Kuasakan pada saya sedikit pangkat. Engkau tahu saya cukup berkiprah dalam pemilu lalu, dekat dengan siapa saja; baik si ini apalagi si anu. Hingga massa banyak yang memilihmu dalam pemilu. Tuan, pendekatan yang dulu-dulu itu saya lakukan demi memenangkan Tuan tentunya. Walau banyak rintangan dalam melakukannya, namun tetap saja saya lakukan itu pendekatan hingga kadang-kadang mesti dengan lidah menjulur sambil berpura-pura meneteskan air liur. Tapi begitulah, semua yang pernah saya kerjakan, mungkin adalah sebuah ikhtiar demi mencapai apa yang saya cita-citakan. Apa yang Tuan inginkan.

Technorati Claim in Progress

Hmmm... September untuk Banda Aceh tahun ini mungkin adalah bulan angin-anginan. Bulan yang penuh dengan angin sibuk dan hujan yang mengutuk. Seperti dua hari ini. Hujan dan angin kencang seperti mengepung Banda Aceh dan sekitarnya. Orang-orang yang sedikit alergi untuk berbasah-basah menjadi malas keluar rumah. Dan buatku yang sedari pagi tak keluar rumah sebab hujan dan angin kencang, mungkin termasuk juga dalam kelompok orang-orang yang alergi ini.

Alexi Lalas; Jenggot, Bin Laden, dan Sepakbola Indonesia

Mungkin, Alexi Lalas adalah seorang yang pertama mengubah persepsi anak muda Amerika tentang olahraga sepakbola. Berawal diselenggarakannya perhelatan Piala Dunia tahun 1994 di negerinya, nama Alexi Lalas mencuat sebagai salah satu tulang punggung timnas Amerika yang ketika itu masuk dalam grup A bersama 3 tim lain, yaitu Rumania, Swiss, dan Kolombia.

Ganja

Hari Lebaran

Beberapa hari kedepan, kita tiba pada hari lebaran. Sekarang adalah hari menuju kesana. Ke hari lebaran itu. Lebaran. Kata yang bermuasal dari kata lebar tentunya, kemudian ditambah akhiran an, sehingga menjadilah sebuah kata yang menggembirakan kita semua. Mungkin hari lebaran ini adalah hari yang lebar, yang di dalamnya terdapat suatu luasan yang memuat orang-orang untuk bisa bergembira ria. Bersumringah cita. Silaturrahmi untuk saling salam-salaman dan maaf memaafkan adalah hal yang patut dikerjakan bagi yang berlebaran. Di kampung-kampung, dusun-dusun, sampai ke kota-kota, orang-orang yang berlebaran akan mengerjakan ritual silaturrahmi ini. Lebaran adalah hari kemenangan, katanya. Tapi kadang kita sering tak paham, menang dari apa? Setelah bertarung melawan siapa?

Roberto Baggio, Italian Buddhist Itu

Para penggila bola dunia, tentu mengenal orang yang punya ini nama: Roberto Baggio. Pesepakbola top dari Italia. Sekarang, saya ingin membicarakan hal-hal yang berhubungan dengannya, ala kadarnya saja.
Sebagai pengantar, kenapa di bulan penuh rahmat yang sedang menuju akhir ini, saya malah ingin membicarakan seorang sosok yang tak ada sangkut pautnya dengan ramadhan. Hal keadaan ini bersebab beberapa jam lewat saya baru saja menonton acara highlight champions leaguedi salah satu stasiun tv dalam negeri yang (entah) kita cintai ini. Nah, beranjak dari sini dengan tiba-tiba saja saya teringat dengan sosok Baggio. Tanpa penyebab apa-apa sebelumnya saya seperti sangat menggebu-gebu ingin menulis tentangnya. Dan dari sini pula, beranjak dari pengetahuan saya yang bisa dibilangin kurang tentang kehidupan ini orang, saya menulis saja apa yang ada, seperti menulis tentang bagaimana saya pertama mengenal ini orang punya nama. So, teman-teman yang sempat membaca tulisan ini, saya minta maaf se…

Do'a Akhir Bulan Ramadhan

Kenapa mesti berdo'a?  Bermula kata seorang zahid, bahwa ikhtiar (usaha) dan do'a itu bersenyawa. Adalah baik bagi kita untuk kembali menghafal atau sekadar mengingat beberapa do'a. Hal keadaan ini mesti ianya kita kerjakan agar kita selamat dari penyakit lupa-lupa ingat. Yaitu, penyakit yang sekali ingat kemudian keterusan lupa. Maka pada hari baik dan cantik ini, hari dalam bulan yang teramat-amat cantik pula; adalah cantik dan baik juga jikalau kita sama-sama berdo'a. Mari berdo'a, sekiranya kita bisa hidup tenang dalam segala rupa persoalan.

Jakarta, Sebelah Kiri Jalan

Pengantar:
Ternyata, Jakarta tak serupawan yang dikabarkan iklan. Jakarta memang ibukota negara. Tapi bukan ibu bagi semua rakyatnya. Jakarta, ibukota;  ibu bagi mereka yang hartawan saja. Ibukota Jakarta. Namun, bukan ibu yang benar-benar mengibu. Bukan ibu yang pintar menyusu. Jakarta, ibukota yang pilih kasih. Ibu yang pintar memilih. Jakarta, ibu baik dan bajik bagi yang banyak uang. Tapi tak menganggap anak-anak jalanan, tak menggubris orang-orang kecil dan sinis bagi yang datang dari kampung terpencil. Jakarta ibukota negara, ibu bagi segenap kota-kota. Entah pernah mengandung kampung-kampung? Jakarta kota yang berkeriput. Namun nafsu menyelimut. Malam-malam Jakarta adalah lampu jalanan dan tubuh-tubuh, sesiangan Jakarta tak lebih dari asap hitam dan aroma peluh. Tapi Jakarta tak seburuk neraka tentunya.  Pun begitu, Jakarta serupa candu. Serupa manisan yang dikerumun semut dari waktu ke waktu. Semua seperti kecanduan Jakarta. Disihir dengan iming-iming, digilir dengan pelbagai ing…

Agnosia Akut

Sebab. Ingin jauh. Dari sesuatu yang tak utuh. Sesuatu yang ketika kau raba, ia berupa helaan angin saja. Sesuatu yang ketika kau tatap ia berwujud bayang semu. Aku ingin jauh. Darinya, juga dari keberadaan adanya.
Aku punya sebab. Ketika orang-orang khidmat meratapi kampung yang tak pernah beruntung. Aku bergelut dengan sesuatu yang menyerupai kata bingung. Adalah detak jantung, berdegup-degup busung. Perut yang mengikut busung, ketika daya khayal mengering akibat rupa musim yang buruk. Kutuk. Saat itu, apapun yang berlaku; kampung seperti ditakdir untuk tak boleh beruntung. Kota juga. Kota ramai-ramai batuk serupa serangan wabah mengutuk. Sedang rakyat melarat. Seamsal ulat. Melata dan meyayat. Aku ikut pula dalam perkara begini rupa. Aku adalah atom terkecil dari kata rakyat.

Bung Karno

Bung Karno. Siapa yang tak kenal beliau di negara ini. Salah satu foundingfather-nya Indonesia ini memang benar-benar orang besar adanya. Dan adalah layak (mesti) pula sepak terjangnya pada zaman revolusi dulu diteladani oleh kaum muda sekarang. Telah banyak pula buku-buku yang menulis tentang pribadi yang satu ini. Dari lisannya pula banyak keluar qoute-qoute yang sampai sekarang patut dipelajari dan direnungi. Apalagi dengan kondisi negara seperti sekarang ini. Kasus-kasus tumpang tindih, dan rakyat seperti makin kejepit saja kelihatannya. Maka ucapan-ucapan Bung Karno yang pernah tercatat kadang bisa menjadi sebagai petuah yang seharusnya diemban oleh penguasa. Beberapa diantaranya, khusus pemahamannya tentang demokrasi saya catat dari beberapa buku seperti berikut ini: 
"Negara Indonesia memang negara demokrasi, dan demokrasi berarti kebebasan, kebebasan berfikir, kebebasan menulis, kebebasan bertindak, kebebasan menurut perubahan. Hanya saja kadang-kadang demokrasi itu tak ken…

Resensi Film: 9

Bermula seorang ilmuwan sadar. Bahwa mesin-mesin yang telah diciptakan manusia, kelak membawa malapetaka bagi kehidupan di planet bumi. Mesin-mesin yang tadinya diciptakan untuk dapat  memudahkan segala urusan duniawi, akhirnya menjadi bumerang bagi umat manusia di bumi secara menyeluruh. Hal keadaan ini terjadi pada klimaks yang sangat tragis ketika mesin tersebut memang benar-benar menghancurkan kehidupan di bumi. 


Pada keadaan sadar yang boleh dikatakan sudah rada-rada telat ini, sang ilmuwan pun seperti mendapati ilham untuk menciptakan boneka-boneka, dimana nantinya dia mengharapkan boneka-boneka ini akan menjadi peredam kebrutalan mesin-mesin tersebut. Si ilmuwan memahami bahwa menyangkut dengan cara kerja mesin, maka menyangkut pula ia dengan angka-angka. Karenanya dia memutuskan menciptakan wujud angka-angka dalam bentuk boneka. Angka 1 sampai dengan 9. 

Padahal, Kita Sedang Menuju Tua

Sahur Aceh Kini & Dulu

:mengenang MoU Damai Aceh [sekadar wacana saja].
Ketika sejarah terbakar di pakaianku/dan kuku-kuku biru tumbuh dalam kitabku/Ketika aku berteriak kepada siang hari-/siapakah engkau, siapa yang melemparmu/ke dalam buku-bukuku/ke bumi perawanku?/aku lihat dalam buku-bukuku/di bumi perawan/ dua mata debu/Aku dengar seseorang berkata:/ "Aku adalah luka yang mulai membesar dalam sejarahmu yang kecil" --Ali Ahmad Said (Adonis)--
Jika waktu memang telah betul benar sahur. Mari bangun. Lepaskan diri dari berbagai unsur dengkur dan lelap mata tidur. Kita regang tubuh dari empuknya kasur, untuk kemudian lekas menuju dapur. Lantas mari kita siapkan menu-menu sederhana sambil kembali mengingat-ingat sesuatu perkara agar kita tak lekas lupa. Sebab sebelum pikun adalah bajik bagi kita untuk tidak melupa. Kita makan dengan sederhana pula. Tak perlu mesti lekas, tak usah dengan mata awas. Kita makan tanpa memendam rasa was-was. Sebab imsak tak lekas datang. Tak akan benar-benar datang sebelu…

Laju Waktu

Jelang maghrib. Senja raib. Lelaki menutup aib. Perempuan tak percaya ghaib. Raja yang pergi ke tabib. Di selangkangannya telah tergantung beberapa penyakit. Mungkin selir yang khianat itu.

Resensi Buku Biografi Angka Nol

Judul: Biografi Angka Nol
Penulis: Charles Seife
Penerbit: e-NUSANTARA – Yogyakarta
Cetakan: I – Juni 2008
Tebal/Ukuran: 348 hal/140 x 200 mm
--- Konon, ketika di barat sedang tak percaya pada suatu ketiadaan. Timur sedang cerlang dengan sebuah temuan. Temuan yang mengubah cara orang berlogika. Namun di barat, pikiran Phytagoras beserta konco-konconya masih saja berkuasa. Yunani adalah sentral segala pemikiran. Dan barat mengiblati ini negeri dalam berfilsafat. Maka pemikiran mereka adalah yang utama. Segala pemikiran. Apa saja. Tak terkecuali pula pemikiran tentang kekosongan, ketiadaan, nihil, atau (secara lugas) nol. Yunani khususnya, dan barat dalam lingkup umum menolak gagasan ketiadaan. Lucretius dengan tegas mengungkap dalam De Rerum Natura, bahwa; “tak ada yang bisa diciptakan dari ketiadaan”. Apatah hendak di kata. Yunani masih berdiri tegak, dan tegas berdiri dalam prinsip: tak ada kekosongan. Dimana dengannya, barat pun mengangguk. Ya, mengangguk setuju dengan prinsip “tak ada ke…

Menghijau

Hijau boleh jadi warna harapan. Menurutku begitu. Sebab hijau membuat teduh mata jenuh. Hijau lambang kesejukan. Bulatan bola dunia merepresentasikan daratan dengan warna kehijauan. Identifikasi hutan, pohon-pohon yang rindang selalu dengan warna hijau. Bukan hitam, putih, atau warna lain yang dapat menyemaput mata serupa melihat kabut. Untuk sesuatu yang alami, hijau adalah warna yang disukai, yang tumbuh, penuh dan tak pernah melepuh.  Hijau daun sering memanjakan mata. Mataku, atau mungkin saja matamu yang di sana. Ketika mata mengarahkan pandangannya pada yang hijau, ada sejuk tertangkap. Sejuk yang tak menusuk, namun tak membuat mabuk. Pernah kubaca beberapa artikel tentang filosofi warna. Disebutkan bahwa seseorang yang menyukai hijau adalah pertanda ianya seorang yang romantis, suka yang indah-indah, mencintai sesuatu yang alami, dan lain sebagainya. Pun begitu, bagiku, hijau tetap saja hijau adanya. Tetap tumbuh di berbagai media yang ada. Pada batu, kayu, sumur, atau bisa sa…

Meureudu; Sebentuk Egosentrisma Rasa

#1
pusaka yang kau dapat dari tanah. adalah kafan berbalut belulang. warisan yang kau dapat dari petuah. adalah ludah berbau amis nanah. maka adalah aku, anak sulungmu, menyibak tirai luka masa lalu. seperti menyulut bara di pucuk matahari senja. ada merah menyala.
rencong bersarung gading pertanda ksatria. adalah tempahan tukang tenung yang terusir dari kampung utara. meukeutob bersusun pualam lima rupa. adalah sulaman si gadis binal rumah pelacuran. maka adalah aku, anak bungsumu, merapal hikayat syamsuddin demi menunai dendam fitnah celaka. seperti mengusung keranda raja antara amukan perang durja. ada bengis mengutuk malam.
#2
begitulah. kisah oral rakyat celaka. sedang sang raja bertitah menunggu. si malem dagang dan japakeh tak jelas batang hidungnya. hingga di suatu pagi yang sepi, raja murka. sungguh rakyat celaka. tak ada yang menyambutku selain fitnah purapura. 
nun jauh di utara. lamatlamat takbir berbunyi. sayup langkah kuda diterka tukang jejak. tuanku paduka raja. kiranya …

Tak Ada Hubungan Dengan Ketiak

Di wall fb temanku kutulis; "bermula itu bulu ketek adalah baik dijadikan sapu lidi. Tapi dengan syarat itu bulu ketek mesti ianya berukuran kasar serupa kasarnya lidi daun kelapa punya. Maka bermula sapu lidi yang dibuat dari bulu ketek, adalah baik digunakan untuk ngupil atau perbuatan-perbuatan lain yang sejenis dengannya. Sekian!"

Tanya seorang teman, kenapa pula kau tulis buah-buah hiu di fesbuk, sedang orang sedang sibuk malam mingguan dengan khusyu' plus khidmat di malam meugang jelang ramadhan? Kujawab; kenapa mesti sok religius sedang isi kepala serba misterius?

Kata teman yang lain; kau boleh jadi setengah gila malam ini. Dengan tangkas kutukas teman punya kata, begini; "gila, boleh jadi ada dengan sendirinya. Secara alami (orang bule bilang nature) gila diidap oleh orang-orang yang bermental jamur namun bertemperamental beringin ketika otaknya sudah tak sanggup mencerna suatu masalah atau persoalan. So, apa hubungannya pula denganku? Toh, otakku masih bisa…

Yang Tergambar Ketika Di Jalan

Kata Iwan Fals dalam lagunya yang berjudul Bongkar, "di jalanan kami sandarkan cita-cita. sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya." Hmmm... nyambung ga ya, dengan tulisanku ini. Tapi tak usahlah bersoal dengan nyambung tidaknya ini tulisan dengan apa yang tergambar dari hasil jepretanku beberapa waktu lalu. Sebab, di sini aku hanya ingin berbagi pengalaman bergambar (foto) ketika aku berjalan atau pergi ke beberapa tempat di dunia ini. So, bolehlah pengalaman ini sebagai ungkapan kepekaan aku (kita) terhadap apa yang berlaku dalam kehidupan hari-hari.

Maka jika aku boleh menyambung ini tulisan dengan penggalan lirik lagu Bongkar yang tersebut sebelumnya, bahwa banyak cita-cita (dalam arti yang luas) terburai di jalanan. Cita-cita yang berjalan seiring perjalanan langkah suatu makhluk dalam menelusuri laku hidupnya di dunia. Menelusuri laku hidup sesuai dengan kesibukannya masing-masing setiap hari. Dari hari ke hari. Uhmmm... trus, ya... di sini aku melampirkan beber…

Selagi Menanti

Selagi menanti. Sesuatu yang entah pasti. Kata pasti mungkin tak sedang di tepi. Tak seperti denganku saat ini. Menepi atau memang berada di tepi. Aku tak bilang menunggu. Sebab kata orang, menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Menanti saja. Menanti adalah kata baik menurutku, dan mungkin di dalamnya mengandung unsur harapan. Serupa harap seorang pengantin perempuan yang menanti mempelai suaminya di pelaminan. Sebenarnya kata menanti dan menunggu adalah kata yang ambigu. Cuma bersebab (menurutku) menanti lebih ambigu dari pada menunggu, maka menanti adalah kata baik bagiku. Mungkin untuk saat ini. Entah lain kali atau kali lain.

Aku menanti di tepi, di pinggir. Di pinggiran atau mungkin juga terpinggirkan. Aku pernah merasa terpinggirkan. Keterpinggiran aku sekarang tak lebih bersebab ulahku sendiri. Bersebab perilaku sehari-hari. Sungguh, di zaman yang suka meminggirkan orang-orang kelas bawah seperti sekarang ini, kejujuran menjadi momok bagi diriku sendiri. Betapa tid…

Barangkali

barangkali kita mesti menepi
di sini tak ada lagi yang perlu diharapkan
tak jua tuan kuasa
sementara perut kita membusung seperti busungan
perut perempuan sedang hamil tua

barangkali sekarang juga
kita mengungsi diri dari amukan birahi hidup
di sini tak ada lagi areal sawah bercocok langkah
dan langit-langit kampung telah ditutupi baliho-baliho iklan hingga
kadang-kadang air hujan malas untuk sekedar hinggap

barangkali telinga kita mesti mengutip petikan suara
sisa siul burung hantu
ketika suara merdu sang perapal do’a hilang
dibalut dentum bebunyian negeri antah berantah
yang akhirnya orang-orang alim ganti profesi menjadi bintang iklan televisi

barangkali kita mesti malas-malasan pergi ke sekolah
karena di sana guru-guru telah mengecat wajahnya menyerupai badut
lihatlah ibu guru kita yang bermake-up tebal dan
bapak guru ogah-ogahan bercerita karena mulutnya
selalu tersumpal cerutu imitasi Kuba

barangkali kantor pemerintahan kampung kita
mesti segera tutup
di sana tidak ada lagi para…

Sajak Kakus

(sebuah sajak pesanan tengah malam)
: Muhadzdzier M. Salda

tentang kakus
tentang buang hajat dalam keramaian
kau yang meraup untung dari pesing bau kencing

tentang kakus
tentang bagaimana bersikap wajar atas rendah orang pandang
kau yang tersenyum saat bau kentut menyeruak bersama angin buruk

tentang kakus
tentang euforia buang hajat bersama
sambil antri sambil memandang tarif harga-harga

1000 untuk kencing biasa
1500 untuk kencing sedikit lama
2000 untuk buang hajat belaka
2500 untuk buang hajat sambil melakukan hajatan lainnya

nah, tarif telah terbagi dan tertera
kau tinggal duduk menunggu di depan pintu

masih tentang kakus
tentang satu-satunya bilik tinja di acara budaya
kau tak bergeming walau kentut telah berubah jadi kabut

masih tentang kakus
tentang bagaimana bersikap ramah ke sesama
kau yang banyak diam sambil sesekali menyiram kloset berwarna

melulu tentang kakus sampai sepuluh hari sepuluh malam lamanya

maka hari kesebelas atau malam keduabelas
ajaklah aku…

Panuan, Sebuah Riwayat Yang Alpa Kau Ingat

Yth. Bapak Walikota
Semoga Allah merahmati kita semua.

sayang, aku sedang panuan
jangan dekat-dekat,  panuan adalah pertanda
hari yang tak baik untuk memadu kasih apalagi bercinta
doakan aku lekas sembuh hingga beberapa minggu nanti
kau bebas menyentuh

aku sedang panuan, sayang
kota kita juga
kami mengidap penyakit yang sama
lihatlah, di pipi kanan dan leher sebelah kiri
masih tersisa bekas Kalpanax hingga menimbulkan luka

lihatlah, Banda Aceh kian lusuh serupa tak pernah tersentuh
di wajahnya yang berkeriput ada panu yang tersangkut
tak ada yang peduli untuk mengobati
sekadar mengoleskan obat di wajahnya
orang-orang merasa nyinyir atawa geli
maka jangan heran, sayang
ketika suatu saat kau dapati Banda Aceh
kumuh kuyup serupa orang menanggung junub

sayang, aku ingat benar kata-katamu itu
panuan adalah penyakit sentimentil
hingga untuk mengakuinya saja
aku mesti pura-pura menggigil

Banda Aceh, April 2011.