Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2011

Hari Lebaran

Beberapa hari kedepan, kita tiba pada hari lebaran. Sekarang adalah hari menuju kesana. Ke hari lebaran itu. Lebaran. Kata yang bermuasal dari kata lebar tentunya, kemudian ditambah akhiran an, sehingga menjadilah sebuah kata yang menggembirakan kita semua. Mungkin hari lebaran ini adalah hari yang lebar, yang di dalamnya terdapat suatu luasan yang memuat orang-orang untuk bisa bergembira ria. Bersumringah cita. Silaturrahmi untuk saling salam-salaman dan maaf memaafkan adalah hal yang patut dikerjakan bagi yang berlebaran. Di kampung-kampung, dusun-dusun, sampai ke kota-kota, orang-orang yang berlebaran akan mengerjakan ritual silaturrahmi ini. Lebaran adalah hari kemenangan, katanya. Tapi kadang kita sering tak paham, menang dari apa? Setelah bertarung melawan siapa?

Roberto Baggio, Italian Buddhist Itu

Para penggila bola dunia, tentu mengenal orang yang punya ini nama: Roberto Baggio. Pesepakbola top dari Italia. Sekarang, saya ingin membicarakan hal-hal yang berhubungan dengannya, ala kadarnya saja.
Sebagai pengantar, kenapa di bulan penuh rahmat yang sedang menuju akhir ini, saya malah ingin membicarakan seorang sosok yang tak ada sangkut pautnya dengan ramadhan. Hal keadaan ini bersebab beberapa jam lewat saya baru saja menonton acara highlight champions leaguedi salah satu stasiun tv dalam negeri yang (entah) kita cintai ini. Nah, beranjak dari sini dengan tiba-tiba saja saya teringat dengan sosok Baggio. Tanpa penyebab apa-apa sebelumnya saya seperti sangat menggebu-gebu ingin menulis tentangnya. Dan dari sini pula, beranjak dari pengetahuan saya yang bisa dibilangin kurang tentang kehidupan ini orang, saya menulis saja apa yang ada, seperti menulis tentang bagaimana saya pertama mengenal ini orang punya nama. So, teman-teman yang sempat membaca tulisan ini, saya minta maaf se…

Do'a Akhir Bulan Ramadhan

Kenapa mesti berdo'a?  Bermula kata seorang zahid, bahwa ikhtiar (usaha) dan do'a itu bersenyawa. Adalah baik bagi kita untuk kembali menghafal atau sekadar mengingat beberapa do'a. Hal keadaan ini mesti ianya kita kerjakan agar kita selamat dari penyakit lupa-lupa ingat. Yaitu, penyakit yang sekali ingat kemudian keterusan lupa. Maka pada hari baik dan cantik ini, hari dalam bulan yang teramat-amat cantik pula; adalah cantik dan baik juga jikalau kita sama-sama berdo'a. Mari berdo'a, sekiranya kita bisa hidup tenang dalam segala rupa persoalan.

Jakarta, Sebelah Kiri Jalan

Pengantar:
Ternyata, Jakarta tak serupawan yang dikabarkan iklan. Jakarta memang ibukota negara. Tapi bukan ibu bagi semua rakyatnya. Jakarta, ibukota;  ibu bagi mereka yang hartawan saja. Ibukota Jakarta. Namun, bukan ibu yang benar-benar mengibu. Bukan ibu yang pintar menyusu. Jakarta, ibukota yang pilih kasih. Ibu yang pintar memilih. Jakarta, ibu baik dan bajik bagi yang banyak uang. Tapi tak menganggap anak-anak jalanan, tak menggubris orang-orang kecil dan sinis bagi yang datang dari kampung terpencil. Jakarta ibukota negara, ibu bagi segenap kota-kota. Entah pernah mengandung kampung-kampung? Jakarta kota yang berkeriput. Namun nafsu menyelimut. Malam-malam Jakarta adalah lampu jalanan dan tubuh-tubuh, sesiangan Jakarta tak lebih dari asap hitam dan aroma peluh. Tapi Jakarta tak seburuk neraka tentunya.  Pun begitu, Jakarta serupa candu. Serupa manisan yang dikerumun semut dari waktu ke waktu. Semua seperti kecanduan Jakarta. Disihir dengan iming-iming, digilir dengan pelbagai ing…

Agnosia Akut

Sebab. Ingin jauh. Dari sesuatu yang tak utuh. Sesuatu yang ketika kau raba, ia berupa helaan angin saja. Sesuatu yang ketika kau tatap ia berwujud bayang semu. Aku ingin jauh. Darinya, juga dari keberadaan adanya.
Aku punya sebab. Ketika orang-orang khidmat meratapi kampung yang tak pernah beruntung. Aku bergelut dengan sesuatu yang menyerupai kata bingung. Adalah detak jantung, berdegup-degup busung. Perut yang mengikut busung, ketika daya khayal mengering akibat rupa musim yang buruk. Kutuk. Saat itu, apapun yang berlaku; kampung seperti ditakdir untuk tak boleh beruntung. Kota juga. Kota ramai-ramai batuk serupa serangan wabah mengutuk. Sedang rakyat melarat. Seamsal ulat. Melata dan meyayat. Aku ikut pula dalam perkara begini rupa. Aku adalah atom terkecil dari kata rakyat.

Bung Karno

Bung Karno. Siapa yang tak kenal beliau di negara ini. Salah satu foundingfather-nya Indonesia ini memang benar-benar orang besar adanya. Dan adalah layak (mesti) pula sepak terjangnya pada zaman revolusi dulu diteladani oleh kaum muda sekarang. Telah banyak pula buku-buku yang menulis tentang pribadi yang satu ini. Dari lisannya pula banyak keluar qoute-qoute yang sampai sekarang patut dipelajari dan direnungi. Apalagi dengan kondisi negara seperti sekarang ini. Kasus-kasus tumpang tindih, dan rakyat seperti makin kejepit saja kelihatannya. Maka ucapan-ucapan Bung Karno yang pernah tercatat kadang bisa menjadi sebagai petuah yang seharusnya diemban oleh penguasa. Beberapa diantaranya, khusus pemahamannya tentang demokrasi saya catat dari beberapa buku seperti berikut ini: 
"Negara Indonesia memang negara demokrasi, dan demokrasi berarti kebebasan, kebebasan berfikir, kebebasan menulis, kebebasan bertindak, kebebasan menurut perubahan. Hanya saja kadang-kadang demokrasi itu tak ken…

Resensi Film: 9

Bermula seorang ilmuwan sadar. Bahwa mesin-mesin yang telah diciptakan manusia, kelak membawa malapetaka bagi kehidupan di planet bumi. Mesin-mesin yang tadinya diciptakan untuk dapat  memudahkan segala urusan duniawi, akhirnya menjadi bumerang bagi umat manusia di bumi secara menyeluruh. Hal keadaan ini terjadi pada klimaks yang sangat tragis ketika mesin tersebut memang benar-benar menghancurkan kehidupan di bumi. 


Pada keadaan sadar yang boleh dikatakan sudah rada-rada telat ini, sang ilmuwan pun seperti mendapati ilham untuk menciptakan boneka-boneka, dimana nantinya dia mengharapkan boneka-boneka ini akan menjadi peredam kebrutalan mesin-mesin tersebut. Si ilmuwan memahami bahwa menyangkut dengan cara kerja mesin, maka menyangkut pula ia dengan angka-angka. Karenanya dia memutuskan menciptakan wujud angka-angka dalam bentuk boneka. Angka 1 sampai dengan 9. 

Padahal, Kita Sedang Menuju Tua

Sahur Aceh Kini & Dulu

:mengenang MoU Damai Aceh [sekadar wacana saja].
Ketika sejarah terbakar di pakaianku/dan kuku-kuku biru tumbuh dalam kitabku/Ketika aku berteriak kepada siang hari-/siapakah engkau, siapa yang melemparmu/ke dalam buku-bukuku/ke bumi perawanku?/aku lihat dalam buku-bukuku/di bumi perawan/ dua mata debu/Aku dengar seseorang berkata:/ "Aku adalah luka yang mulai membesar dalam sejarahmu yang kecil" --Ali Ahmad Said (Adonis)--
Jika waktu memang telah betul benar sahur. Mari bangun. Lepaskan diri dari berbagai unsur dengkur dan lelap mata tidur. Kita regang tubuh dari empuknya kasur, untuk kemudian lekas menuju dapur. Lantas mari kita siapkan menu-menu sederhana sambil kembali mengingat-ingat sesuatu perkara agar kita tak lekas lupa. Sebab sebelum pikun adalah bajik bagi kita untuk tidak melupa. Kita makan dengan sederhana pula. Tak perlu mesti lekas, tak usah dengan mata awas. Kita makan tanpa memendam rasa was-was. Sebab imsak tak lekas datang. Tak akan benar-benar datang sebelu…

Laju Waktu

Jelang maghrib. Senja raib. Lelaki menutup aib. Perempuan tak percaya ghaib. Raja yang pergi ke tabib. Di selangkangannya telah tergantung beberapa penyakit. Mungkin selir yang khianat itu.

Resensi Buku Biografi Angka Nol

Judul: Biografi Angka Nol
Penulis: Charles Seife
Penerbit: e-NUSANTARA – Yogyakarta
Cetakan: I – Juni 2008
Tebal/Ukuran: 348 hal/140 x 200 mm
--- Konon, ketika di barat sedang tak percaya pada suatu ketiadaan. Timur sedang cerlang dengan sebuah temuan. Temuan yang mengubah cara orang berlogika. Namun di barat, pikiran Phytagoras beserta konco-konconya masih saja berkuasa. Yunani adalah sentral segala pemikiran. Dan barat mengiblati ini negeri dalam berfilsafat. Maka pemikiran mereka adalah yang utama. Segala pemikiran. Apa saja. Tak terkecuali pula pemikiran tentang kekosongan, ketiadaan, nihil, atau (secara lugas) nol. Yunani khususnya, dan barat dalam lingkup umum menolak gagasan ketiadaan. Lucretius dengan tegas mengungkap dalam De Rerum Natura, bahwa; “tak ada yang bisa diciptakan dari ketiadaan”. Apatah hendak di kata. Yunani masih berdiri tegak, dan tegas berdiri dalam prinsip: tak ada kekosongan. Dimana dengannya, barat pun mengangguk. Ya, mengangguk setuju dengan prinsip “tak ada ke…

Menghijau

Hijau boleh jadi warna harapan. Menurutku begitu. Sebab hijau membuat teduh mata jenuh. Hijau lambang kesejukan. Bulatan bola dunia merepresentasikan daratan dengan warna kehijauan. Identifikasi hutan, pohon-pohon yang rindang selalu dengan warna hijau. Bukan hitam, putih, atau warna lain yang dapat menyemaput mata serupa melihat kabut. Untuk sesuatu yang alami, hijau adalah warna yang disukai, yang tumbuh, penuh dan tak pernah melepuh.  Hijau daun sering memanjakan mata. Mataku, atau mungkin saja matamu yang di sana. Ketika mata mengarahkan pandangannya pada yang hijau, ada sejuk tertangkap. Sejuk yang tak menusuk, namun tak membuat mabuk. Pernah kubaca beberapa artikel tentang filosofi warna. Disebutkan bahwa seseorang yang menyukai hijau adalah pertanda ianya seorang yang romantis, suka yang indah-indah, mencintai sesuatu yang alami, dan lain sebagainya. Pun begitu, bagiku, hijau tetap saja hijau adanya. Tetap tumbuh di berbagai media yang ada. Pada batu, kayu, sumur, atau bisa sa…

Meureudu; Sebentuk Egosentrisma Rasa

#1
pusaka yang kau dapat dari tanah. adalah kafan berbalut belulang. warisan yang kau dapat dari petuah. adalah ludah berbau amis nanah. maka adalah aku, anak sulungmu, menyibak tirai luka masa lalu. seperti menyulut bara di pucuk matahari senja. ada merah menyala.
rencong bersarung gading pertanda ksatria. adalah tempahan tukang tenung yang terusir dari kampung utara. meukeutob bersusun pualam lima rupa. adalah sulaman si gadis binal rumah pelacuran. maka adalah aku, anak bungsumu, merapal hikayat syamsuddin demi menunai dendam fitnah celaka. seperti mengusung keranda raja antara amukan perang durja. ada bengis mengutuk malam.
#2
begitulah. kisah oral rakyat celaka. sedang sang raja bertitah menunggu. si malem dagang dan japakeh tak jelas batang hidungnya. hingga di suatu pagi yang sepi, raja murka. sungguh rakyat celaka. tak ada yang menyambutku selain fitnah purapura. 
nun jauh di utara. lamatlamat takbir berbunyi. sayup langkah kuda diterka tukang jejak. tuanku paduka raja. kiranya …

Tak Ada Hubungan Dengan Ketiak

Di wall fb temanku kutulis; "bermula itu bulu ketek adalah baik dijadikan sapu lidi. Tapi dengan syarat itu bulu ketek mesti ianya berukuran kasar serupa kasarnya lidi daun kelapa punya. Maka bermula sapu lidi yang dibuat dari bulu ketek, adalah baik digunakan untuk ngupil atau perbuatan-perbuatan lain yang sejenis dengannya. Sekian!"

Tanya seorang teman, kenapa pula kau tulis buah-buah hiu di fesbuk, sedang orang sedang sibuk malam mingguan dengan khusyu' plus khidmat di malam meugang jelang ramadhan? Kujawab; kenapa mesti sok religius sedang isi kepala serba misterius?

Kata teman yang lain; kau boleh jadi setengah gila malam ini. Dengan tangkas kutukas teman punya kata, begini; "gila, boleh jadi ada dengan sendirinya. Secara alami (orang bule bilang nature) gila diidap oleh orang-orang yang bermental jamur namun bertemperamental beringin ketika otaknya sudah tak sanggup mencerna suatu masalah atau persoalan. So, apa hubungannya pula denganku? Toh, otakku masih bisa…

Yang Tergambar Ketika Di Jalan

Kata Iwan Fals dalam lagunya yang berjudul Bongkar, "di jalanan kami sandarkan cita-cita. sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya." Hmmm... nyambung ga ya, dengan tulisanku ini. Tapi tak usahlah bersoal dengan nyambung tidaknya ini tulisan dengan apa yang tergambar dari hasil jepretanku beberapa waktu lalu. Sebab, di sini aku hanya ingin berbagi pengalaman bergambar (foto) ketika aku berjalan atau pergi ke beberapa tempat di dunia ini. So, bolehlah pengalaman ini sebagai ungkapan kepekaan aku (kita) terhadap apa yang berlaku dalam kehidupan hari-hari.

Maka jika aku boleh menyambung ini tulisan dengan penggalan lirik lagu Bongkar yang tersebut sebelumnya, bahwa banyak cita-cita (dalam arti yang luas) terburai di jalanan. Cita-cita yang berjalan seiring perjalanan langkah suatu makhluk dalam menelusuri laku hidupnya di dunia. Menelusuri laku hidup sesuai dengan kesibukannya masing-masing setiap hari. Dari hari ke hari. Uhmmm... trus, ya... di sini aku melampirkan beber…

Selagi Menanti

Selagi menanti. Sesuatu yang entah pasti. Kata pasti mungkin tak sedang di tepi. Tak seperti denganku saat ini. Menepi atau memang berada di tepi. Aku tak bilang menunggu. Sebab kata orang, menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Menanti saja. Menanti adalah kata baik menurutku, dan mungkin di dalamnya mengandung unsur harapan. Serupa harap seorang pengantin perempuan yang menanti mempelai suaminya di pelaminan. Sebenarnya kata menanti dan menunggu adalah kata yang ambigu. Cuma bersebab (menurutku) menanti lebih ambigu dari pada menunggu, maka menanti adalah kata baik bagiku. Mungkin untuk saat ini. Entah lain kali atau kali lain.

Aku menanti di tepi, di pinggir. Di pinggiran atau mungkin juga terpinggirkan. Aku pernah merasa terpinggirkan. Keterpinggiran aku sekarang tak lebih bersebab ulahku sendiri. Bersebab perilaku sehari-hari. Sungguh, di zaman yang suka meminggirkan orang-orang kelas bawah seperti sekarang ini, kejujuran menjadi momok bagi diriku sendiri. Betapa tid…

Barangkali

barangkali kita mesti menepi
di sini tak ada lagi yang perlu diharapkan
tak jua tuan kuasa
sementara perut kita membusung seperti busungan
perut perempuan sedang hamil tua

barangkali sekarang juga
kita mengungsi diri dari amukan birahi hidup
di sini tak ada lagi areal sawah bercocok langkah
dan langit-langit kampung telah ditutupi baliho-baliho iklan hingga
kadang-kadang air hujan malas untuk sekedar hinggap

barangkali telinga kita mesti mengutip petikan suara
sisa siul burung hantu
ketika suara merdu sang perapal do’a hilang
dibalut dentum bebunyian negeri antah berantah
yang akhirnya orang-orang alim ganti profesi menjadi bintang iklan televisi

barangkali kita mesti malas-malasan pergi ke sekolah
karena di sana guru-guru telah mengecat wajahnya menyerupai badut
lihatlah ibu guru kita yang bermake-up tebal dan
bapak guru ogah-ogahan bercerita karena mulutnya
selalu tersumpal cerutu imitasi Kuba

barangkali kantor pemerintahan kampung kita
mesti segera tutup
di sana tidak ada lagi para…

Sajak Kakus

(sebuah sajak pesanan tengah malam)
: Muhadzdzier M. Salda

tentang kakus
tentang buang hajat dalam keramaian
kau yang meraup untung dari pesing bau kencing

tentang kakus
tentang bagaimana bersikap wajar atas rendah orang pandang
kau yang tersenyum saat bau kentut menyeruak bersama angin buruk

tentang kakus
tentang euforia buang hajat bersama
sambil antri sambil memandang tarif harga-harga

1000 untuk kencing biasa
1500 untuk kencing sedikit lama
2000 untuk buang hajat belaka
2500 untuk buang hajat sambil melakukan hajatan lainnya

nah, tarif telah terbagi dan tertera
kau tinggal duduk menunggu di depan pintu

masih tentang kakus
tentang satu-satunya bilik tinja di acara budaya
kau tak bergeming walau kentut telah berubah jadi kabut

masih tentang kakus
tentang bagaimana bersikap ramah ke sesama
kau yang banyak diam sambil sesekali menyiram kloset berwarna

melulu tentang kakus sampai sepuluh hari sepuluh malam lamanya

maka hari kesebelas atau malam keduabelas
ajaklah aku…

Panuan, Sebuah Riwayat Yang Alpa Kau Ingat

Yth. Bapak Walikota
Semoga Allah merahmati kita semua.

sayang, aku sedang panuan
jangan dekat-dekat,  panuan adalah pertanda
hari yang tak baik untuk memadu kasih apalagi bercinta
doakan aku lekas sembuh hingga beberapa minggu nanti
kau bebas menyentuh

aku sedang panuan, sayang
kota kita juga
kami mengidap penyakit yang sama
lihatlah, di pipi kanan dan leher sebelah kiri
masih tersisa bekas Kalpanax hingga menimbulkan luka

lihatlah, Banda Aceh kian lusuh serupa tak pernah tersentuh
di wajahnya yang berkeriput ada panu yang tersangkut
tak ada yang peduli untuk mengobati
sekadar mengoleskan obat di wajahnya
orang-orang merasa nyinyir atawa geli
maka jangan heran, sayang
ketika suatu saat kau dapati Banda Aceh
kumuh kuyup serupa orang menanggung junub

sayang, aku ingat benar kata-katamu itu
panuan adalah penyakit sentimentil
hingga untuk mengakuinya saja
aku mesti pura-pura menggigil

Banda Aceh, April 2011.

Hikayat Kentut

Kentut 1;

karena kentut tidak mesti buka celana. maka kau bisa mengeluarkannya di mana saja. seperti halnya kentut di depan seorang gadis idaman. ini bukanlah perkara sopan tidak sopan. tapi ini lebih kepada perkara hajat setiap manusia, di mana hajat ini tentu juga dimiliki oleh seorang gadis rupawan. di mana gadis serupawan bidadari sekali pun pernah merasa ingin kentut di depan pangeran. jadi kenapa harus jaim?

Kentut 2;

kentut, lumrah berbau busuk. maka itu kentut adalah sebuah isyarat. bahwa kita hidup beranjak dari hal-hal busuk seperti bau kentut. namun acap kali kita tak sadar bahwa kebusukan secara konsisten hadir dalam tubuh, akal, perbuatan, juga dalam pergaulan. dan kebusukan yang serupa bau kentut itu sering diabaikan karena kita menganggap bahwa perkara tersebut adalah perkara sepele yang tak perlu dipikirkan. sungguh, kentut adalah isyarat, bahwa jika ia keluar dari bokong (maaf, saya tak suka menyebutnya pantat) seindah apapun, ia tetap menyimpan sesuatu…

Pantat & Pengantar Proposal Iklan Dji Jam Soe

[serius]

Sebatang Dji Sam Soe, tentu saja tak seranum sungging senyummu. Sebab Dji Sam Soe adalah kawan ketika aku galau dan berkelumit dengan risau. Sedang senyummu adalah kawan ketika aku sedang mencoba bercengkerama dengan asmara. Asmara yang kadang-kadang harus kulayani kehendaknya walaupun aku sedang tak cukup uang untuk membeli nasi siang. Seperti hari ini, tiba-tiba aku dirasuk rindu yang tertahan. Rindu akan jalinan asmara yang telah lama terpendam. Rindu padamu tepatnya. Dan ketika rindu padamu ini membuncah, aku merasakan desakan asmara mulai mengaburkan akal sehatku, hingga ingatan, atau mungkin saja bayangan sesungging senyummu yang pernah kudapati beberapa bulan lalu harus dengan tergesa-gesa kuingat-ingat kembali. Dimana saat ingatan tentang senyummu itu dapat kuterka lagi dengan baik dan sederhana, rinduku sedikit demi sedikit menyusut surut. Asmara pun terbang melayang sambil mengepakkan sayapnya dan kemudian dengan sendirinya menghilang. Namun celakanya,…