Hari Lebaran

Beberapa hari kedepan, kita tiba pada hari lebaran. Sekarang adalah hari menuju kesana. Ke hari lebaran itu. Lebaran. Kata yang bermuasal dari kata lebar tentunya, kemudian ditambah akhiran an, sehingga menjadilah sebuah kata yang menggembirakan kita semua. Mungkin hari lebaran ini adalah hari yang lebar, yang di dalamnya terdapat suatu luasan yang memuat orang-orang untuk bisa bergembira ria. Bersumringah cita. Silaturrahmi untuk saling salam-salaman dan maaf memaafkan adalah hal yang patut dikerjakan bagi yang berlebaran. Di kampung-kampung, dusun-dusun, sampai ke kota-kota, orang-orang yang berlebaran akan mengerjakan ritual silaturrahmi ini. Lebaran adalah hari kemenangan, katanya. Tapi kadang kita sering tak paham, menang dari apa? Setelah bertarung melawan siapa?  

Lebaran memang patut dirayakan. Sebab ini pula, lebaran disebut juga hari raya. Hari yang raya, yang kita semua dapat memastikan secara pribadi seberapa rayanya hari ini. Dan sudah menjadi adat kebiasaan pula dalam merayakan hari raya atau hari yang lebar ini, kita berkemas dengan segala perkakas baru. Baju baru, kain sarung baru, celana dalam baru, peci baru, juga taplak meja baru, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya yang baru-baru. Tapi sungguh celakanya, sebab kebiasaan begini sudah menjadi trend di kalangan kita semua, sehingga kita menjadi salah kaprah dalam mengartikan hari lebaran yang memang patut untuk dirayakan ini. Kita menjadi berlomba-lomba untuk tampil sebaru mungkin di kalangan sesama. Kita menjadi lupa atau bahkan tidak mengerti lagi hakikat dari hari lebaran itu sendiri. Dan lebih celakanya lagi, ketika kita berlomba-lomba untuk memperbaharui semuanya, kita menjadi lupa pada orang-orang di samping kita. Tetangga-tetangga kita yang mungkin ketika buka puasa hari terakhir bulan ramadhan hanya dengan seteguk dua teh manis saja. Sedang kita dalam keadaan bergembira ria sambil membicarakan harga-harga baju, atau membincangkan setelan baju apa untuk shalat hari raya keesokannya. Saat-saat seperti ini, hari lebaran bagi kita adalah hari yang benar-benar lebar jadinya. Kelebaran hari tepatnya. 

Sungguh, hari lebaran adalah hari yang patut kita rayakan kiranya. Hari yang membuat kita serasa lepas dari beban yang ada. Cuma ketika kita terlalu ber-euforia dengannya, terlalu mabuk masyhuk dalam merayakannya; mungkin ini menjadi pertanda bahwa sebenarnya kita hanyalah orang-orang yang kalah belaka. Orang-orang yang kalah. Yang kalah. Dan kalah!

Terakhir, selamat lebaran semua. Mohon maaf lahir batin.

Bivak Emperom, 1432 H.

Popular Posts