Laju Waktu

Sumber: http://media.photobucket.com/image/
Jelang maghrib. Senja raib. Lelaki menutup aib. Perempuan tak percaya ghaib. Raja yang pergi ke tabib. Di selangkangannya telah tergantung beberapa penyakit. Mungkin selir yang khianat itu.

Kata tabib. Pada mula ini penyakit. Sungguh bukan penyakit kulit. Maka obatnya adalah istri yang baik. Gundik yang baik. Juga selingkuhan yang berkelamin apik.

Musim lalu pangeran negeri ujung merasa kurang beruntung. Kekasihnya hilang akal
Saban hari bingung linglung. O, kekasih pangling angin anjing. Bukan sebab kutuk si sirik busuk. Bukan gara-gara pening bunting. Bukan apa-apa. Bukan pula berburuk sangka.

Isya tiba. Megap-megap ia hinggap. Dari arah selatan menelikung jalan bulan. Isya hadir seketika; tanpa jejak, tanpa suara. Sedang di meunasah sang imam sudah ingin pulang. Di keraton sang menteri belum juga mandi. Di kampung tabib, sang raja di rajah sampai junub basah kuyup. Di negeri ujung, pangeran patah arang, asah parang, bakar kemenyan. Katanya, ada tukang tenung yang patut dihukum  pasung. Pancung. O, kekasih yang menggubris bengis.

Subuh runtuh. Tubuh-tubuh berpeluh luruh. Kata penyair, subuh adalah waktu baik bersetubuh. Kata sang alim, subuh adalah waktu buruk untuk menuduh. Kata raja, aku belum jua sembuh, sedang birahi sedari siang membayang tubuh. Kata subuh, jangan banyak cakap. Cepat wudhu’ sebelum aku benar-benar rubuh.

Maka pagi hari. Tiada sesiapa yang tersisa. Tidak lelaki, tidak perempuan. Tidak raja tidak pula menteri. Tidak kekasih, tidak juga pangeran. Sang tabib hilang tak berbayang. Tiada sesiapa yang punya cerita. Kecuali waktu. Waktu yang laju. Waktu yang ketika orang-orang panik munafik, ia diam bisu. Waktu laju diam bisu. Waktu laju. Laju waktu. Waktu ke waktu.

White Box Coffee-Menteng, May 31, 2011

Popular Posts