Skip to main content

Resensi Film: 9

Bermula seorang ilmuwan sadar. Bahwa mesin-mesin yang telah diciptakan manusia, kelak membawa malapetaka bagi kehidupan di planet bumi. Mesin-mesin yang tadinya diciptakan untuk dapat  memudahkan segala urusan duniawi, akhirnya menjadi bumerang bagi umat manusia di bumi secara menyeluruh. Hal keadaan ini terjadi pada klimaks yang sangat tragis ketika mesin tersebut memang benar-benar menghancurkan kehidupan di bumi. 


Pada keadaan sadar yang boleh dikatakan sudah rada-rada telat ini, sang ilmuwan pun seperti mendapati ilham untuk menciptakan boneka-boneka, dimana nantinya dia mengharapkan boneka-boneka ini akan menjadi peredam kebrutalan mesin-mesin tersebut. Si ilmuwan memahami bahwa menyangkut dengan cara kerja mesin, maka menyangkut pula ia dengan angka-angka. Karenanya dia memutuskan menciptakan wujud angka-angka dalam bentuk boneka. Angka 1 sampai dengan 9. 


Dan layarpun mulai dibuka. Sebentar, paragraf di atas cuma intro pembuka dari saya aja, gan. 


Kita membicarakan film kali ini. Sebuah film animasi tentang perjuangan boneka-boneka angka dalam mempertahankan hidup dari ancaman perang yang digencarkan mesin-mesin. Film dimulai dengan intro gambar seorang menjahitkan sebuah boneka dari goni, dan kemudian membubuhkan simbol angka 9 di punggungnya. Inilah yang jadi judul filmnya. 9. Ya, sembilan, bahasa inggrisnya, nine. Maka setelahnya film berjalan sesuai dengan alurnya. Sesuai dengan keinginan si sutradara film itu sendiri. Hehehe...


Baik. Sekarang dengan serius. Film animasi ini seperti yang pernah saya baca di artikel-artikel, bercerita tentang petualangan angka-angka yang berwujud boneka dalam mempertahankan hidup dari ancaman agresi mesin-mesin. Mesin ini dikuasai oleh semacam otak, yang dapat memproduksi berbagai robot dari rongsokan apapun untuk dijadikan mesin pembunuhnya itu. Hmmmm... Dalam sebuah artikel menyebut bahwa menonton film ini seperti melihat sebuah buku cerita anak yang diangkat ke layar lebar. Memang tak lebih kurang begitu. Tapi yang menjadi perhatian saya dengan film ini sehingga saya berkeinginan membicarakannya (meresensi) di sini adalah unsur-unsur filosofis yang terdapat dalam karakter tokoh-tokoh yang diangkat. 1 sampai 9 sebagai tokoh protagonis, dan mesin utama yang bisa kita sebut sebagai otak mesin sebagai tokoh antagonisnya. 


Nah, ketika menonton film ini, saya dihadapkan pada pemahaman tentang keberadaan angka-angka, mulai dari 0 sampai 9. Saya mulai teringat kembali dengan buku Biografi Angka Nol yang pernah saya baca. Di sini, dalam film ini, saya menjumpai adanya keterhubungan cerita film dengan apa yang pernah saya baca di buku tadi. Dalam buku Biografi Angka Nol, disebutkan bahwa pada mulanya pemahaman orang Barat terhadap angka nol adalah angka yang tidak diakui keberadaannya. Angka nol adalah momok, angka yang menakutkan. So, dalam film ini seperti saya sebut tadi, bahwa otak mesin menjadi momok bagi kehidupan manusia, dan kemudian menjadi semacam ancaman yang dahsyat bagi angka-angka 1 sampai 9 sebagai tokoh utama. Dan dalam sebuah adegan, ketika 5 ditangkap, tenaganya disedot oleh otak mesin; dimana bentuk otak mesin ini pun berupa bulatan yang disangga kaki-kaki robot. Bukankah, dalam hukum matematika setiap perkalian/pembagian dengan nol menghasilkan nol itu sendiri? Inilah letak pemancing film 9 saya kira. Secara sembunyi suatu pesan tentang pemahaman kaum-kaum phytagorean pada abad-abad sebelum masehi yang tidak mengakui keeksistensian nol seperti ingin disampaikan Tim Burton, dkk. selaku produser film ini. Tapi ini hanya semacam perkiraan saya saja. 


Lebih lanjut, film 9 ini memang mengesankan. Cocok ditonton selain oleh anak-anak, juga cocok menjadi santapan mahasiswa-mahasiswa matematika di waktu senggang atau sedang kurang kerjaan. Apalagi bagi mereka yang sudah membaca buku Biografi Angka Nol yang pernah saya resensi sebelumnya. Saya yakin, kalian mendapatkan suatu keterhubungan cerita film dan cerita yang terbaca dibuku semakin membuat kalian penasaran dengan filosofi angka-angka. Saya yakin itu!


Tentang orang-orang disebalik sukses film ini, saya copas data berikut dari wikipedia, penting:


9 adalah film fantasi/laga animasi Amerika Serikat tahun 2009 yang disutradarai oleh Shane Acker dan diproduksi oleh Tim Burton danTimur Bekmambetov. Film ini diisisuarakan oleh Elijah WoodJohn C. ReillyJennifer ConnellyCrispin GloverMartin Landau danChristopher Plummer. Film ini diangkat dari film animasi pendek Acker tahun 2005 yang berjudul sama.



Sekian, dan salam dari Emperom, Banda Aceh.

Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…