Roberto Baggio, Italian Buddhist Itu

sumber: http://www.greatitalians.com/baggio.htm
Para penggila bola dunia, tentu mengenal orang yang punya ini nama: Roberto Baggio. Pesepakbola top dari Italia. Sekarang, saya ingin membicarakan hal-hal yang berhubungan dengannya, ala kadarnya saja.

Sebagai pengantar, kenapa di bulan penuh rahmat yang sedang menuju akhir ini, saya malah ingin membicarakan seorang sosok yang tak ada sangkut pautnya dengan ramadhan. Hal keadaan ini bersebab beberapa jam lewat saya baru saja menonton acara highlight champions league di salah satu stasiun tv dalam negeri yang (entah) kita cintai ini. Nah, beranjak dari sini dengan tiba-tiba saja saya teringat dengan sosok Baggio. Tanpa penyebab apa-apa sebelumnya saya seperti sangat menggebu-gebu ingin menulis tentangnya. Dan dari sini pula, beranjak dari pengetahuan saya yang bisa dibilangin kurang tentang kehidupan ini orang, saya menulis saja apa yang ada, seperti menulis tentang bagaimana saya pertama mengenal ini orang punya nama. So, teman-teman yang sempat membaca tulisan ini, saya minta maaf sebanyak-banyaknya jika terdapat banyak kekurangan. Mohon dimaklumkan saja, atau beberapa hari lagi, maafkan saya ketika lebaran tiba. Dan untuk menambah saya punya wawasan, kritik atawa saran teman-teman tentu menjadi bahan kajian saya selanjutnya.
sumber: progressalberta.com
Terus terang, jujur, dan suerr; saya tak seberapa kenal dengan sosok yang kita bicarakan ini. Jangankan untuk mengenali sepak terjangnya di luar lapangan, menonton Baggio main secara live di tv saja saya tak seberapa sering. Tak sesering seperti menonton aksi Messi atau tendangan pisangnya Beckham, misalnya. Tapi pertama mengenal namanya, saya sedikit ingat, waktu itu saya masih kelas 6 SD tahun 1994, pas Piala Dunia digelar di Amrik sana. Waktu itu seisi kampung (maksudnya, ya, seisi kampung saya) pada gila bola semua. Anak-anak seumuran saya yang ketika itu masih suka main bola plastik di lampoh u, dibeli baju bola dengan nama punggung pemain-pemain hebat kelas dunia oleh ayahnya masing-masing. Termasuk saya. Saya dibelikan baju bola dengan nama punggung: Roberto Baggio. Saya sangat senang waktu itu. Senang bukan dalam artian saya sudah mengidolakan seorang Roberto Baggio sejak sebelumnya, bukan. Tapi senang selaku anak ingusan yang dibeli baju bola oleh ayahnya. Dan saya kira, jika waktu itu baju yang dibeli dengan nama punggung Alexi Lalas (asing ya?) sekalipun, saya tetap akan senang juga. Secara, waktu itu saya kurang mendapatkan informasi tentang pemain-pemain bola top dunia. Apalagi zaman 90-an di kampung-kampung pelosok Aceh, seperti kampungku, rata-rata rumah penduduknya masih beratap daun rumbia. Jadi sudah pasti tak mampu menyangga tiang parabola di atasnya. Hmmm... Kalian pasti tahu dua kalimat terakhir ini maksudnya apa.
Kembali ke Roberto Baggio. Begitulah, saya mengenal nama ini pertama kalinya. Berikutnya saya mulai kenal dengan nama Baggio melalui media-media yang ada. Membaca berita-berita atau dengan menonton video-video tentang permainannya adalah hal yang sering saya lakukan setelahnya. Sampai tulisan ini saya ketik, Baggio adalah sosok pesepakbola besar saya kira. Dan adalah pantas, jika dunia melalui tangan yang punya kuasa di organisasi tertinggi sepakbolanya, yaitu FIFA, pernah menabalkan gelar pemain terbaik dunia di bahunya. Ini terjadi pada tahun ketika ia gagal menjaringkan sepakan penalti pada final Piala Dunia ketika timnas Italia versus Brazil. Saya kira teman-teman tahu tahun berapa yang saya maksudkan ini. 
Terus, yang menjadi daya tarik dari orang yang kita bicarakan ini -yang ketika saya menulis tentangnya, yang bersangkutan entah sedang melakukan apa- selain bermain bolanya yang sudah terakui dunia, rambut kuncir kuda adalah salah satu penampilan khasnya. Selain itu agama yang dianut olehnya sekarang termasuk unik juga, dan saya sangat terkesan dengan pilihannya ini. Saya katakan unik, bukan bermaksud mendiskreditkan suatu agama, tapi lebih kepada rujukan tentang dari mana dia berasal. Dimana di negaranya, Italia, yang dianggap sebagai kiblat agama Kristen dengan keberadaan Vatican di sana, Baggio malah beragama Budha setelah sebelumnya dikenal sebagai penganut Kristen Katolik. Ini adalah hal yang tidak biasa  saya kira. Diluar kebiasaan orang-orang Italia secara umum, tegasnya. Tapi tentu saja, menyangkut keyakinan seseorang adalah hak azasi manusia dan semua mesti menghormati dan menghargainya. Sampai di sini, saya semakin mengidolakan saja orang-orang yang berkepribadian seperti pesepakbola ini. Menurut saya, orang-orang yang di luar kebiasaan kadang memendam sesuatu yang tak biasa pula. Sesuatu yang luar biasa. Roberto Baggio, salah satunya. Sekian.

O-ya, saya hampir lupa. Tentang data dan fakta Roberto Baggio sendiri, saya merasa sedikit malas untuk mereferensikannya dalam tulisan ini melalui copy-paste sana sini. Terlalu banyak soalnya. Lebih baik lihat dan baca saja sendiri, beberapa link di bawah ini:
Wassalamu, 
Banda Aceh, jelang lebaran 1432 H.


Popular Posts