Selagi Menanti

doc. pribadi [sudah terpublish di fb]
Selagi menanti. Sesuatu yang entah pasti. Kata pasti mungkin tak sedang di tepi. Tak seperti denganku saat ini. Menepi atau memang berada di tepi. Aku tak bilang menunggu. Sebab kata orang, menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Menanti saja. Menanti adalah kata baik menurutku, dan mungkin di dalamnya mengandung unsur harapan. Serupa harap seorang pengantin perempuan yang menanti mempelai suaminya di pelaminan. Sebenarnya kata menanti dan menunggu adalah kata yang ambigu. Cuma bersebab (menurutku) menanti lebih ambigu dari pada menunggu, maka menanti adalah kata baik bagiku. Mungkin untuk saat ini. Entah lain kali atau kali lain.

Aku menanti di tepi, di pinggir. Di pinggiran atau mungkin juga terpinggirkan. Aku pernah merasa terpinggirkan. Keterpinggiran aku sekarang tak lebih bersebab ulahku sendiri. Bersebab perilaku sehari-hari. Sungguh, di zaman yang suka meminggirkan orang-orang kelas bawah seperti sekarang ini, kejujuran menjadi momok bagi diriku sendiri. Betapa tidak, aku didepak dari pekerjaan sebab pernah mengakui dengan jujur tentang dosa yang dilakukan seorang atasan. Didepak, ya di depak. Didepak atau disepak. Namun di sini, aku tak ingin menceritakan proses penyepakan aku dari pekerjaan karena kejujuran itu. Namun, aku lebih suka membahas tentang apa yang kukerjakan ketika menepi di sini. Tentang menanti, dan berdiri di tepi. Menanti dan berdiri di tepi setelah sesuatu yang berada di tengah telah direnggut. Direnggut hingga menyisakan sengkarut pikiran yang carut marut. Pikiran yang serupa dengan apa yang sedang dipikirkan orang di ambang maut. Kalut, takut. 


Maka selagi menanti, aku menulis. Menulisi sesuatu yang mungkin tak punya arti. Sama sekali tak berarti. Namun sebab orang bilang dengan menulis bisa memperkaya pikiran. Apalah yang bisa kulakukan selain meng-iyakan ini keadaan. Mencari harta ragawi (baca: material) pun sudah kepalang susah di zaman yang semakin serampangan ini. Apalagi dengan kondisi seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Menanti di tepi. Di pinggiran dalam keadaan terpinggirkan.

Menulis menjadi sesuatu pengalih beban. Mungkin iya. Tapi boleh jadi juga tidak. Atau ketika menulis dari tepian seperti ini, aku membayangkan Paman Pram (maaf, tidak ada niat menyamakan nama sebutan Paman Sam) yang juga pernah menulis ketika ia berada di pinggiran. Ketika ia di kurung (lebih dahsyat dari didepak, tentunya) dalam kurungan Buru. Ia menulis. Apa saja ia tulis. Bung Hatta dan Bung Karno pun menulis ketika dalam kurungan. Tan Malaka juga. Beberapa ulama besar yang aku tak tahu namanya, kudengar juga menulis karya-karya besar ketika dalam kurungan.  Maka saat ini, aku sok-sok mengikut keadaan tokoh-tokoh yang tersebut itu walaupun sedang tidak berada dalam kurungan. Aku menganggap orang yang dalam kurungan saja bisa menulis hingga menghasilkan karya monumental, kenapa aku tidak menulis selagi berada di luar kurungan.

Pun begitu, adalah patut bagiku untuk tidak bermimpi secara muluk-muluk, bahwa apa yang kutulis saat ini, kelak menjadi karya yang monumental pula. Tidak sama sekali. Hal keadaan ini mengingat kemampuanku yang masih buta ilmu juga. Belum punya daya nalar yang bagus, apalagi daya analisis yang magis. Menulis aku sekarang ini hanya untuk memperkayakan pikiran belaka, sambil dalam hati kecil (terus terang) berbangga pada diri sendiri, bahwa aku sedang mengikut jejak tokoh penulis yang sudah mendunia.

Selagi menanti aku menulis. Mungkin menulis puisi, prosa yang tak ada arti, atau cerita yang menjual harga diri. Atau mungkin juga aku menulis satu dua kata saja. Lantas dengannya, (masih) dalam hati kecil, aku bisa berbangga, bahwa aku akan menjadi penulis yang kelak entah besar atau malah redup sebelum terang. Ke depan, aku tahu apa? Aku hanya menulisi saja apa yang ada di kepala. Selagi menanti. Ya, selagi berada di tepi.

Lampaseh - Emperom, 1432 H.

Popular Posts