Tak Ada Hubungan Dengan Ketiak

Di wall fb temanku kutulis; "bermula itu bulu ketek adalah baik dijadikan sapu lidi. Tapi dengan syarat itu bulu ketek mesti ianya berukuran kasar serupa kasarnya lidi daun kelapa punya. Maka bermula sapu lidi yang dibuat dari bulu ketek, adalah baik digunakan untuk ngupil atau perbuatan-perbuatan lain yang sejenis dengannya. Sekian!"

Tanya seorang teman, kenapa pula kau tulis buah-buah hiu di fesbuk, sedang orang sedang sibuk malam mingguan dengan khusyu' plus khidmat di malam meugang jelang ramadhan? Kujawab; kenapa mesti sok religius sedang isi kepala serba misterius?

doc. Idrus bin Harun
Kata teman yang lain; kau boleh jadi setengah gila malam ini. Dengan tangkas kutukas teman punya kata, begini; "gila, boleh jadi ada dengan sendirinya. Secara alami (orang bule bilang nature) gila diidap oleh orang-orang yang bermental jamur namun bertemperamental beringin ketika otaknya sudah tak sanggup mencerna suatu masalah atau persoalan. So, apa hubungannya pula denganku? Toh, otakku masih bisa membaca rambu jalan koq. Lagian, bagiku representasi sebuah kegilaan adalah semisal kegilaan yang sibuk ber-euforia dengan suatu suasana, tapi euforia itu adalah untuk dilihat orang banyak belaka. Contohnya, jelang ramadhan kali ini banyak orang jadi sok-sok religi, padahal ... (pembaca boleh mengisi sendiri titik-titik yang tersedia). Bagiku itu adalah sejatinya gila.


Maka pada malam minggu yang khidmat lagi meutuah ini, aku merasa banyak mendapatkan kekonyolan-kekonyolan setelah membaca secara acak status orang-orang. Darinya (bacaan status-status sok religius) pula, aku malah membayangkan bulu ketek yang tumbuh, apakah di ketiakku, ketiak kamu, ketiak kita, ketiak kami, ketiak kalian, ketiak mereka, berupa bulu-bulu yang kasar, yang dengannya bisa dijadikan sapu lidi di kemudian hari.

Hmmmm... Coba kau bayangkan!

Oya, jelas-jelas di sini, aku tidak menghendaki pembaca untuk membayangkan hal yang tidak-tidak. Tapi bayangkan saja tentang perihal hakikat yang kusampaikan barusan. Seperti orang-orang yang mendadak alim misalnya. Orang-orang yang serta merta menjadi pribadi yang agamis secara tiba-tiba hanya karena persoalan suasana belaka. Dan bagi yang beragama Islam seperti halnya kami di Aceh sini dan mayoritas kita di Indonesia, waktu yang termaksud bisa dijumpai dalam setahun sekali. Maka orang-orang yang mendadak alim ini seperti kumat menjadi seorang berkepribadian agamis dalam setahun sekali pula. Contoh lain selain orang-orang yang meng-update status fesbuk seperti yang kusebut sebelumnya, pembaca boleh menemuinya di telivisi. Bagaimana musisi, artis, dan orang-orang tenar menjadi demikian bersahaja menjelang ramadhan datang. Musisi sibuk menciptakan lagu-lagu religi, artis sibuk menampilkan mode kerudung atau pakaian-pakaian islami, pejabat-pejabat sibuk bersedekah sana-sini walaupun sang pejabat itu sedang terkait dengan kasus korupsi.

Maka menghadapi keadaan yang begini, aku secara pribadi kadang-kadang berkerut dahi. Sebab, menjadi religius koq seperti penyakit akut saja. Sesekali kambuh. Sesekali sembuh. Lalu kambuh lagi. Entah kemudian bisa lagi sembuh?

Pun begitu, sebenarnya aku tak bermaksud sentimentil di sini. Salam!

Banda Aceh, 1432 H. Malam Meugang.

Popular Posts