Skip to main content

Alexi Lalas; Jenggot, Bin Laden, dan Sepakbola Indonesia

Mungkin, Alexi Lalas adalah seorang yang pertama mengubah persepsi anak muda Amerika tentang olahraga sepakbola. Berawal diselenggarakannya perhelatan Piala Dunia tahun 1994 di negerinya, nama Alexi Lalas mencuat sebagai salah satu tulang punggung timnas Amerika yang ketika itu masuk dalam grup A bersama 3 tim lain, yaitu Rumania, Swiss, dan Kolombia.

pict. onesoccerstar.
Membahas nama Alexi Lalas sebagai seorang pesepakbola professional dunia, tentu saja tidak sama dengan membahas nama-nama serupa Romario, Eric Cantona, atau pemain-pemain tenar lain yang semasa dengannya. Lalas, boleh dikatakan tak setenar Irfan Bachdim sekarang di Indonesia. Bahkan di negaranya pun, namanya kalah tenar dari Hakeem Olajuwon, pebasket tahun 90-an yang muslim itu. Namun, penampilannya yang nyentrik sedikit tidak menjadi faktor kenapa tulisan ini ada.

Alexi Lalas menjadi ikon sepakbola modern AS kala itu. Meskipun karirnya tak sematang karir para juniornya sekarang, seperti halnya Landon Donovan yang mendapat tempat di beberapa klub Liga Eropa, dia mempunyai kharisma tersendiri dalam dunia sepakbola. Apalagi di tengah-tengah masyarakat yang lebih menyukai olahraga lain ketimbang olahraga yang digelutinya. Sepakbola bukanlah olahraga favorit bagi masyarakat Amerika. Anak-anak mudanya, lebih memilih menjadi atlit baseball, rugby, basket, atau boleh jadi lebih memilih menjadi pemeran acara Smack Down di televisi ketimbang menjadi atlit sepakbola. Nah, di tengah-tengah kondisi seperti inilah seorang Alexi Lalas meniti karir sepakbolanya, hingga seusai Piala Dunia tahun 1994 dia berkesempatan merumput di klub Padova, Liga Seri-A Italia.  

Dengan nama lengkap Panayotis Alexander, sejatinya Lalas adalah seorang keturunan Yunani yang lahir pada tanggal 1 Juni 1970 di Birmingham kota Michigan, negara Amerika. Dan ketika membicarakan sosok ini, penampilannya yang nyentrik adalah hal menarik untuk dibahas selain kiprah permainannya di lapangan hijau. Hal ini melihat dari tampilan tampangnya yang memelihara jenggot ketika membela tim negaranya di piala dunia tahun 1994 lalu. Menyangkut jenggotnya ini, kita terbayang tentang keberadaan negara Amerika ketika itu. Dimana pada tahun-tahun tersebut, sensitivitas politik negaranya terhadap negara-negara Timur Tengah yang notabene penduduknya memelihara jenggot belum terlalu mencuat diberitakan media massa. Dimana ketika itu sosok Osama Bin Laden yang juga berjenggot belum begitu tenar di kalangan masyarakatnya. 

pict. grandstandsports.com
Terdapat satu kesamaan di balik berbagai perbedaan antara Lalas dengan Bin Laden. Tentu saja kesamaannya adalah, ketika tenar keduanya sama-sama berjanggut. Cuma dalam kesamaan inipun, sebenarnya terdapat perbedaan pula, yaitu salah satunya berjanggut pirang dan satunya lagi berwarna hitam. 

Namun, adalah hal yang tidak relevan dan sangat-sangat tidak penting, jika kita membandingkan kedua tokoh di atas dalam kesempatan sekarang ini. Sebab, suatu hal penting yang perlu kita ambil adalah keberadaan sosok Alexi Lalas di Amerika. Meniti karir sepakbolanya di tengah-tengah masyarakat yang buta sepakbola dan kemudian menjadi pemicu lahirnya pemain bola berbakat dunia setelah masanya adalah hal yang patut diketahui masyarakat bola Indonesia. Ini dikarenakan merujuk kondisi sepakbola Indonesia sekarang ini. Indonesia secara keseluruhan masyarakatnya, lebih dulu mengenal sepakbola dari pada masyarakat Amerika. Tapi melihat prestasinya, Indonesia kalah jauh dari Amerika. Karenanya pula, mungkin Indonesia membutuhkan seseorang seperti Lalas sebagai pemicu semangat pemuda Indonesia menjadi pesepakbola profesional dan bisa meraih prestasi pada level tertinggi. 

Ketika tulisan ini terpublish, mungkin Alexi Lalas sedang buang air besar di toilet umum sebuah restaurant, atau boleh jadi sedang memetik gitar sambil menyanyikan lagu berjudul Goodnight Moon milik band Ginger yang vokalisnya adalah dirinya sendiri. Di lain waktu, mungkin Alexi Lalas tak akan memelihara jenggot sampai mati. 

Lamteumen, September 2011.

Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…