Ganja

Pada mula ganja. Dengan ganja, ada dunia, ada rumah. Ada hutan, ada sawah. Ada raja, dewi ratu, pangeran, dan tuan qadhi. Awalan ganja, akhiran serba ada atau mungkin juga petaka. 

Asap sumringah, bunga cabai merekah. Segala suntuk, mabuk. Yang mabuk tak lagi kantuk. Paling hanya batuk. Hanya batuk; sesekali diselingi pikiran rawan, dari kerja otak yang rada-rada sawan.

Mulanya ganja. Kemudian asap tanpa rupa. Lantas binasa. Semua yang ada, memuai tak bisa pakai. Yang hadir, gigil upil. Yang hidup, carut maut. Yang sadar, batuk mabuk.

Lalu, nun tujuh purnama lewat, ganja jatuh terjerat.

Kata dewi ratu: “Bersebab ganja, pangeran tak kenal tuan. Mahkota hilang diciduk perawan. Perempuan dan ganja sejoli menawan. Memabuk hanyut, membuai kalut. Seamsal sembunyi racun dalam hidangan. Keduanya adalah tuak dalam kepung dingin hutan. Maka bermula ganja, berpadan asmara, berkumpul rasa, mengabur logika.”

“Tak ada yang salah dengan ganja”, sanggah sang tabib. Lanjutnya, “Pangeran dirundung siasat nafsu khianat. Adalah dewi ratu dan paduka raja yang terlalu memanja. Maka tak benar dewi ratu mengutuk celaka. Maka adalah benar jikalau hamba mengukur halal haramnya.”

Pada mula ganja, ranup lampuan hilang marwah!

Emperom, March 2011.

Popular Posts