el amor falso

ilustrasi, Rully Sabhara Herman
Cinta. Padanya, jiwa kita larut. Hati kita hanyut. Pelbagai macam rasa kerap hinggap, dan berkedut. Kadang rasa cemas yang membuncah, cemburu yang menghantu, atau juga rindu yang membiru. Rasa seperti ini menjadi hal rutin yang hadir. Hadir melingkup otak kiri kanan kita, mengatup sisi jantung yang berdegup, yang dengannya kita menjadi hilang akal untuk mencernanya. Serta merta pula kita mesti larut dengan apa yang menjadi rasa. Cinta adalah nyata, tapi kadang juga jadi tak benar-benar nyata. Cinta bukan barang ganjil. Genap adalah adanya, sebab cinta membutuhkan sepasang benda untuk bertaut. Sepasang. Berpasang, hingga kemudian ketika cinta tersemat lekat, kita menyebut sepasang itu sebagai pasangan. Pasangan, yang keduanya saling cinta mencintai. 

Tentang cinta, sebut seorang teman; "hati kita bagaikan laut yang kadang pasang, kadang juga surut. Kita yang mencintai laut, tak peduli dengan 'kadang'-nya, karena bagi kita laut tetaplah laut". Aku menyetujui teman punya argumen. Lantas kusambung pernyataannya dengan komentar; "ketika sedang dirasuk oleh apa yang kita sebut cinta, keberadaan 'kadang' adalah sesuatu yang absurd. Sedang yang benar-benar nyata bagi kita hanyalah laut. Walau dengannya membuat kita hanyut menuju maut."

Pun begitu, untuk bertaut, cinta butuh proses. Teorema cinta yang bertaut tak mengenal jalan instant di dalamnya. Pram pernah mengungkapkannya jauh tahun sebelumnya. Katanya, "tak ada cinta muncul mendadak, karena dia anak kebudayaan, bukan batu dari langit." Maka cinta tiba-tiba mungkin hanya cinta imitasi saja. Dan apakah yang perlu kita hirau pada sesuatu yang palsu, menipu, tak asli, menyerupai asli tapi tetap saja imitasi. Maka mendadak cinta adalah hal yang patut dicurigai. Patut kita cek orisinalitas cinta itu sendiri. Sebab, mendadak cinta kadang mengelabui kita. Kadang ia hadir dan nampak di depan mata serupa cinta yang orisinil. Cinta asli, atau boleh jadi cinta mati. Namun, hakikatnya sama saja. Mendadak cinta mungkin saja palsu. Walau sudah mendekati orisinil pun, ia masih palsu adanya. Imitasi, bukan asli. Dan apakah kepentingan kita untuk menggubris suatu hal seperti yang tak seberapa palsu dengan yang benar-benar palsu. Toh, keduanya adalah sama-sama palsu, imitasi, bukan asli. Karenanya pula kita mesti hati-hati dengan cinta yang menyerupai cinta asli. Kita mesti mencurigai cinta imitasi.

Untuk mengamati suatu cinta, apakah ia asli atau imitasi; tak ada ketentuan, atau hukum, atau peraturan yang disepakati bersama secara mendunia. Hanya saja orang yang sudah berpengalaman dengannya pernah mengingatkan kita dengan petuahnya; bahwa: "Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan dalam dirinya", (Anonim). Maka ketika kita temukan seseorang yang ingin membentuk pasangannya sekehendak isi perutnya, merujuk pada petuah tadi, kita dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut tidak benar-benar mencintai pasangannya. Ia hanya ingin menduplikasi wataknya pada orang lain dengan kedok mencintainya. Dan inilah gambaran cinta imitasi, cinta palsu itu.

Cinta. Padanya, jiwa kita larut. Hati kita hanyut. Pelbagai macam rasa kerap hinggap, dan berkedut. Kadang rasa cemas yang membuncah, cemburu yang menghantu, atau juga rindu yang membiru. Sebab cinta pula, kita sering merasa tekanan suhu badan yang meninggi. Kita demam tiba-tiba. Demam yang mengamuk sampai kita mabuk. Mabuk cinta tepatnya. Namun satu hal yang kita tak boleh luput dari padanya adalah; bahwa ketika tertahan cinta itu serupa kentut. Dan semua kita tentu setuju, menahan kentut akan berakibat busung perut. Mungkin cinta adalah kentut itu sendiri. Siapa peduli?

Bivak Emperom, Sept. 2011.

Popular Posts