Munafik Waktu

 Ada yang tersisa dari sebuah perjalanan. Aku menyisakanmu. Kau menyisakan gelak senyummu. Di taman kita saling mengenang. Segala langkah yang pernah terpijak. Segala jejak yang tertinggal. Dan kemudian pupus dalam lamun kabut malam. 

Senja ini tak ada yang dirundung murung, katamu. Selain si perempuan yang bermain biola itu. Alunan gesekan senarnya serupa alunan lagu yang menceritakan si durhaka Delilla.Yang memangkas rambut kekasihnya pada sebuah malam tak berkata.

Tapi di sini, kita tidak sedang pacaran, tukasku. Tapi dekapanmu berkata lain, jawabmu.

Ada yang perlu kita benahi pada waktu sesingkat ini. Aku membenahi tata rambut yang jatuh di keningmu. Kau membenahi letak hati di dekat jantungku. Dan kita sama-sama berdetak sampai beberapa unsur waktu membuat kita saling bergelak.

Di taman, kita hanya saling memandang saja. Kadang ke arah senja, kadang juga ke sebalik rona mata. Namun, ketika kau berpaling pada pasangan yang berangkulan di pojok sana. Sambil bergelayut di bahuku dengan manja, kau mengutip kata seorang filsuf tak bernama. Kau kata, di taman aku sering merasa sendiri. Pun ketika kau sedang berada di sini. Aku bukan kekasihmu, sebutku. Ya, dan aku pun tak pernah mau tahu tentang pentingnya seorang kekasih, celutukmu.

Taman mulai ramai. Dedaunan tua luruh, jatuh. Kita masih tak mau mengakui.Tentang cinta yang samar-samar tersemai. Cinta yang diam-diam memuai.

Taman Suropati-Menteng, 28 Mei 2011

Popular Posts