Solilokui Pejabat Bangku Panjang

Tuan, langsung saja; tanpa mukaddimah, bermula bismillah

Ilustrasi Tu-ngang Iskandar
Kuasakan pada saya sedikit pangkat. Engkau tahu saya cukup berkiprah dalam pemilu lalu, dekat dengan siapa saja; baik si ini apalagi si anu. Hingga massa banyak yang memilihmu dalam pemilu. Tuan, pendekatan yang dulu-dulu itu saya lakukan demi memenangkan Tuan tentunya. Walau banyak rintangan dalam melakukannya, namun tetap saja saya lakukan itu pendekatan hingga kadang-kadang mesti dengan lidah menjulur sambil berpura-pura meneteskan air liur. Tapi begitulah, semua yang pernah saya kerjakan, mungkin adalah sebuah ikhtiar demi mencapai apa yang saya cita-citakan. Apa yang Tuan inginkan.

Hmmmm..., Tuan! Saya patut memanggilmu sebutan ini, karena sekarang segala bentuk jabatan berada dalam genggamanmu. Entah lain kali. Maka bersebab kedekatan saya dengan Tuan, asbab saya pernah bekerja untuk memenangkan Tuan; maka adalah tak menjadi sebuah 'kemaluan' jika pada kesempatan yang khidmat ini saya menyampaikan sebuah pesan.

Kuasakan pada saya sedikit pangkat. Saya ingin menjabat. Kalau bisa menjabat pada tempat yang budget tahunannya mengkilat. Mungkin dinas ini atau badan itu. Terserah sama Tuan saja. Terus terang, menjadi pejabat seperti sekarang, sungguh sangat memusingkan kepala. Saya ingin menyejahterakan keluarga, seperti ingin menguliahkan anak keluar negeri atau sekadar membeli isteri seperangkat pakaian dalam yang dijual di butik Gucci asli. Saya ingin menyejahterakan kerabat-kerabat lain juga, atau sesiapa saja yang saya anggap layak untuk disejahterakan. Terlebih lagi dalam masa kampanye dulu, saya pernah berjanji pada masyarakat di sebuah kampung, bahwa jika mereka memilih Tuan, kakus umum yang dulunya berdinding *bleuet akan diganti dengan kakus tembok berlantai keramik. Maka melihat pada posisi saya yang sampai sekarang masih duduk di bangku panjang, bagaimanakah cita-cita tulus ini dapat tercapai. Karenanya, saya berharap kepada Tuan agar mengabulkan ini permintaan.

Sungguh, saya akan selalu menjaga reputasimu. Juga akan selalu merahasiakan segala aktivitas Tuan ketika sedang berada di luaran. Pengalaman main perempuan di Thailand, isteri simpanan di Jakarta, selingkuhan di kantoran, dan pengalaman-pengalaman lain yang pernah sama-sama kita alami, senantiasa saya jaga rahasianya sampai ajal datang tiba-tiba. Tapi seperti saya katakan sebelumnya, saat ini saya terlalu butuh itu jabatan. Jadi, mohon Tuan pertimbangkan matang-matang.

Dan apabila kuasa yang saya harap itu dalam beberapa hari ini, atau dalam kisaran bulan ini, atau boleh jadi dalam pusaran almanak tahun ini, Tuan kabulkan. Saya akan bekerja sepanjang hari dengan suka cita. Akan saya selesaikan semua pekerjaan dengan sempurna, sampai pada waktu-waktu tertentu beberapa kucuran yang ada diam-diam saya transfer ke rekening pribadi, Tuan. Maka ketika ini berlaku, suasana yang ada adalah serupa dengan apa yang digambarkan dalam sebuah bait puisi:

"Hari pun tiba//Kita berkemas senantiasa//Kita berkemas sementara jarum melewati angka-angka//Kau pun menyapa://Kemana kita?//Tiba-tiba terasa musim mulai menanggalkan daun-daun."

Begitu Tuan. Bait puisinya tak terlihat murahan, bukan? Memang, bait itu adalah penggalan sebuah puisi milik Sapardi Djoko Damono, penyair kelas kakap itu. Pasti tuan senang membacanya suatu kali waktu. O-iya, selain rahasia-rahasia Tuan yang tersebut sebelumnya, rahasia tentang kesukaan Tuan akan bacaan-bacaan sastra seperti puisi, prosa, dan roman-roman cinta juga akan saya pegang dan tak akan saya beberkan kepada sesiapa saja. Bahkan rahasia Tuan yang pernah menangis sehabis membaca bab terakhir roman bertajuk Tenggelamnya Kapal Van der Wijck juga akan saya tutup rapat-rapat. Kepada istri Tuan sekalipun tak akan saya ungkap rahasia yang satu ini. Tentang rahasia ini pun, sekali lagi saya minta maaf pada Tuan yang secara tidak sengaja memergoki Tuan sedang berlinangan air mata dengan buku yang dikarang Hamka itu masih tergeletak di atas meja. Saya ingat, kejadian ini terjadi di kantor, bulan September tahun lalu.

Tapi Tuan, yang tadi barusan saya bicarakan hanya intermezzo saja. Hanya sekadar candaan saja. Hanya usaha untuk mencairkan suasana saja. Karena yang pasti, inti dari semua yang ingin saya sampaikan pada Tuan, ya, tentang jabatan itu tadi. Tentang bagaimana impian saya selama ini akan sebuah jabatan yang layak disandang sebagaimana layaknya saya mengabdi (jangan baca menjilat) pada Tuan selama ini. Pun begitu sebagai bahan pertimbangan, tentu Tuan pernah baca apa yang dikisahkan dalam cerita Hikayat 1001 Malam. Tentang bagaimana dalam kalangan pemerintahan-pemerintahan Arab, Baghdad, Persia, dan lain sebagainya, pejabat-pejabat yang diangkat oleh penguasa adalah kebanyakan dari kalangan orang-orang terdekat. Saya pikir, beranjak dari kedekatan kita, baik dulu maupun sekarang; Tuan perlu sedikit banyak mengadopsi apa yang ada dalam cerita Hikayat 1001 Malam itu. Dan tentu saja hal keadaan ini akan semakin menambah keakraban kita dan bertambah pula ketakziman saya pada Tuan.

Maka sebagai penutup. Sandangkan pada saya suatu azimat. Kuasa untuk menjabat. Kantongi saya stempel pemerintah. Agar leluasa memerintah. Untuk ini, saya tahu bahwa Tuan sangat mengerti maksudnya, dan paham pula tentang kedekatan kita, dulu sampai sekarang. Memang, sepertinya Tuhan seperti telah menentukan kedekatan itu. Bukankah begitu, kawan? Ooopss, salah! Bukankah begitu, Tuan?

Salam Takzim,
X

Nb: Untuk pesta ananda x (putra Tuan) bulan depan. Telah saya pesan beberapa ekor kerbau sebagai tambahan daging pesta perhelatan. 

Tembusan:
1. Arsip Pikiran (softcopy)
2. Arsip Rumah Tangga (hardcopy).

Popular Posts