Skip to main content

Syarat Pemimpin Ala Seokarno


Tentu saja, Bung Karno adalah orang hebat. Tokoh Indonesia yang belum ada pesaingnya sampai sekarang. Foundingfather-nya Indonesia. Soekarno adalah orang besar. Siapapun setuju dengan itu.

Soekarno tak pernah 'jaim (jaga image)'. Kenapa harus jaim? Ia membawa diri bagaimana adanya. Tak pernah kaku dalam bergaul. Sebagai seorang pemimpin negara, berkelakuan formal adalah harus. Tapi terperangkap dalam aturan serba protokoler, seorang Soekarno tak pernah mengalaminya. Inilah ciri seorang pemimpin yang mampu menularkan karakternya yang kuat kepada rakyatnya. Dalam masa sekarang, kita belum menemukan pribadi pemimpin yang seperti ini. Suharto tidak, Habibie pun tak. Gus Dur memang biasa nyeleneh, namun sering terlihat murahan. Kemudian muncul Mbak Mega -konon ia ingin meniru kepemimpinan ayahandanya-, tapi apa yang ia bisa? Sekarang SBY (nama yang disingkat dengan huruf gede); nah untuk orang terakhir ini, pemimpin negara yang bercokol di tahta sekarang, hmmmm..., di depan publik, ketika tampil di depan televisi; kekakuannya sering tertangkap kamera. Terlalu serius, bahkan terlalu protokoler kesannya. Kadang kita merasa malas sendiri melihatnya. 

Entahlah! Mungkin seorang pemimpin seperti sosok Soekarno masih sangat dibutuhkan negara yang sedang sakit ini. Negara yang dalam kepribadian rakyatnya sudah hilang rasa nasionalisma. Negara yang rakyatnya terus-terusan diajak sabar dalam hidup miskin sambil mengurut dada melihat kekayaan pejabat dan pemimpin. Soekarno pernah mengungkapkan syarat pemimpin untuk bisa memimpin ini negara sebenarnya. Syarat yang sebenarnya harus dipunyai oleh setiap pemimpin oleh orang yang melanjutkan kerjanya. Namun apa boleh buat, negara ini memang sudah begini adanya. Mungkin kita harus menunggu berpuluh-puluh tahun lagi untuk bisa mendapati sosok pemimpin yang memenuhi syarat seperti apa yang diungkapkan oleh Soekarno puluhan tahun lalu. Tentang syarat pemimpin; Soekarno bilang begini:

"Tiga syarat pemimpin: Pertama, memang saudara harus menggambarkan, mengiming-ngiming: Mari kita capai itu! Lihat itu bagus, lihat itu indah, lihat itu lezat; di situlah kebahagiaan! Pemimpin yang tidak bisa menggambarkan, melukiskan cita-cita, tidak akan mendapat hasil. Itu syarat pertama. Ia harus bisa melukiskan cita-cita. 
Di dalam sejarah dunia  saudara akan melihat bahwa pemimpin-pemimpin besar yang menggerakkan massa, semuanya adalah pemimpim-pemimpin yang bisa melukiskan cita-cita. Bukan saja di lapangan politik, tetapi di dalam segala lapangan. ... Demikianlah saudara-saudara, maka salah satu syarat untuk bisa menjadi pemimpin ialah harus dapat mengiming-imingi, tetapi jangan mengiming-imingi barang yang bohong. Itulah salah satu syarat. Perkataan saya saja mengiming-imingi, tetapi sebenarnya ialah dapat membentangkan 'Lietsar' kepada rakyat.
Nomor dua, harus bisa memberi kepada rakyat. Demikianlah: menganalisa hidup, cara kerjanya pemimpin-pemimpin besar, bisa memberi kepada rakyat rasa mampu apa yang diinginkan itu. Merasa mampu, membangunkan rasa mampu. 
Meskipun engkau bisa mengiming-imingi, tetapi jikalau engkau tidak bisa membangunkan rasa mampu di dalam rakyat bahwa rakyat bisa mencapai apa yang engkau iming-imingkan, ya, maka di dalam kalbu rakyat akan hanya hidup kepingin, ingin, tetapi belum menggumpal menjadi satu kehendak, kemauan, satu 'wil'. Sebab sebelumnya sudah terhambat oleh rasa toh tidak mampu. Ibaratnya engkau bisa mengiming-imingi seseorang yang badannya lemah. Lihat itu, di puncak pohon itu ada buah merah, buah itu paling enak. Si dahaga ingin buah itu, tetapi ia merasa dirinya lemah, dus, tinggal kepingin saja, tidak ia punyai kehendak, kemauan, wil, untuk mencapai buah itu.
Atau engkau bisa ambil seorang pemuda, anak orang biasa. Engkau iming-imingi dia dengan seorang gadis cantik, entah anak bangsawan tinggi, entah milyuner. Bung lihat, bukan main cantiknya. Tetapi ia tidak mempunyai rasa mampu untuk mengambil hati si gadis itu. Malahan ia merasa dirinya lemah sekali. Aku anak orang miskin, ia anak orang kaya. Mana bisa kawin sama dia. Tidak akan timbul kehendak, wil untuk mengawini gadis itu. Itu syarat nomor dua.
Syarat nomor tiga, bukan saja menanamkan keyakinan atau rasa mampu, tetapi menanamkan kemampuan yang sebenar-benarnya. Menanamkan kemampuan, memberi kepada rakyat 'de werkelijke kracht' dengan cara mengorganisir rakyat itu. Jadi tadinya sekadar keinginan oleh karena teriming-imingi, keinginan ini timbul, naik lagi setingkat menjadi kemauan, oleh karena saudara bisa memberi rakyat itu rasa mampu, 'krachtsgevoel'. Krachtsgevoel ini dinaikkan setingkat lagi menjadi de werkelijke kracht, dengan cara mengorganisir rakyat itu. 
Kalau tiga ini, saudara-saudara sudah bisa jadikan trimurti, artinya dipersatukan di dalam tindakanmu sebagai pemimpin, saudara akan bisa menggerakkan massa. Dus, Leitsar yang dinamis saudara-saudara, harus memberi kemungkinan kepada tiga hal ini. Rakyat tertarik, satu. Rakyat mempunyai rasa aku atau kita bisa mencapai, dua. Tiga, bukan saja rasa mampu, tetapi memang mampu untuk mencapai itu. Kalau sekadar dua: dapat mengiming-imingi, dapat memberi krachtsgevoel, tetapi saudara tidak bisa memberi tenaga, buah di atas pohon tidak bisa terpetik. Saudara bisa berkata, he, buat itu enak betul, kepingin apa tidak? Kepingin. Mau apa tidak? Mau. Tetapi saudara lupa melatih dia untuk memanjat pohon itu. Meskipun ia mempunyai kemauan tetapi ia tidak bisa memetik oleh karena baru naik dua tiga meter sudah jatuh lagi. 
Tiga syatat itu harus dipenuhi!"

Nah, merujuk seperti apa yang pernah diungkapkan oleh presiden pertama ini. Kita dapat menilai sendiri pemimpin negara kita selanjutnya, setelah masa kepemimpinan Soekarno tepatnya. Suharto kah, Habibie kah, atau pemimpin-pemimpin lain sesudahnya sampai SBY kah. Apakah orang-orang tersebut ini sudah memenuhi syarat seperti yang ditawarkan Bung Karno? Syarat ini memang bukanlah sebuah syarat baku, tapi setidaknya bisa menjadi sebuah tolak ukur tentang bagaimana kondisi pemimpin kita sekarang.  Menjadi tolak ukur bagaimana cara bersikap negarawan kita kepada rakyatnya sekarang. 


Salam!

Sumber: Pena Soekarno & buku Mutiara Kata Bung Karno (untuk rakyat Indonesia).

Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…