Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2011

Zaman Jahat & Mengkarat

Malam buruk rupa. Jahat tiba-tiba. Tiba jahat dengan gesa. Tanpa permisi, tanpa basa basi. Sedang angin tak satu pun hembus. Apalagi bintang. Pun jangkrik. Semua seperti tak berkutik. Dan jahat dengan sempurna ada. Tanpa undangan, tanpa isyarat tangan. Jahat seenak perutnya melakukan kejahatan. Kerjaan serupa menggugat yang alim, mengagungkan isu-isu lalim adalah perkara yang rutin dikerjakannya. Jahat adalah jahat adanya.

Pendekatan Antropologis Dalam Kajian Islam

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Sejak kedatangannya, agama Islam telah menimbulkan banyak tatanan perubahan di dunia. Perubahan yang mencakup berbagai aspek kehidupan umat manusia, baik dalam tatanan masyarakat, kebudayaan, politik, sejarah, dan lain sebagainya. Perubahan tatanan ini kemudian ada yang menjadi tatanan baku dalam suatu kultur masyarakat, dan ada pula yang menjadi sebagai bahan kajian para ilmuwan bagi mengembangkannya sesuai dengan konteks tatanan masyarakat itu sendiri. Kajian-kajian yang dimaksud kemudian terus berkembang sedemikian rupa merujuk kepada berbagai aspek ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh para ilmuwannya.

Ketika Obama & Chavez Berciuman

Pertama sekali membuka mozilla dengan maksud ingin browsing, berita yahoo adalah laman yang telah terdefault di mozilla saya. Ketika loading wifi-an usai, berita teratas yang muncul di dalamnya adalah berita foto tentang iklan kontroversial Benetton (sesuai dengan judulnya). Inilah yang membuat saya ingin menulis sesuatu tentang kedua orang besar ini sesuai dengan isi pikiran saya saja. Jadinya, ya seperti yang sedang kalian baca, ini tulisan saya kasih judul 'Ketika Obama & Chavez Berciuman'.

River Cruise Melaka

Suatu sore ketika berkesempatan berkunjung ke Melaka, Malaysia. Sendirian saja saya jalan-jalan di seputar kotanya. Melaka, kota yang berjarak dua jam perjalanan darat dari ibukota Malaysia; beberapa tahun lewat masuk dalam daftar UNESCO sebagai kota warisan sejarah dunia. Melaka, kota yang dibelah oleh sungai berair keruh punya warna. Namun usaha pemerintah setempat dalam menarik wisatawan dalam dan luar negeri telah membuat sungai ini menjadi hidup dengan aneka rupa bangunan di pinggirnya. Pada kesempatan yang baik ini, saya menyempatkan diri berjalan di sepanjang pinggiran sungainya. Mendokumentasikan tempat dan suasana dengan kamera seadanya. Terus terang, saya masih amatiran dalam bidang fotografi, tapi tata kota yang rapi menjadi daya tarik didokumentasi. Hasilnya, kalian boleh lihat sendiri beberapa gambar berikut ini:

Jika Boleh Bertanya

jika benar pahlawan memang ada
kenapa mesti kubur yang kau tunjuk saja
jika benar pahlawan punya rupa
ke pajang foto sajakah arah mata kita

sudahlah
kerja sajalah

cukup do'a di kuburan orang tua
atau hening cipta pada sanak keluarga
sebab sekarang mengenang pahlawan
adalah pengalih berita tentang celaka

jika benar pahlawan membela negara
segelintir orang sajakah yang bisa kaya
jika benar pahlawan tak punya nama pernah ada
bagaimana dengan anonim yang sedang terlunta

entahlah
kentut sajalah

toh, di sini kita sedang hidup sendiri-sendiri
untuk kemudian meng-antri mati di depan televisi
sedang mereka yang berdo'a dalam baris upacara
adalah orang-orang salah pilih dalam ritual pilih memilih

kelak ketika kentut dan kerja mencapai akhir
kita paham bahwa pahlawan tak pernah berhasil
berusaha dalam derita sampai anak cucu di ambang lahir
tapi tak pernah berkesempatan memetik hasil

Bivak Emperom, 10 November 2011.

Televisi Will Kill You

Mulanya kita tak segila sekarang ini. Mulanya kita adalah orang-orang udik yang tak tahu apa-apa. Namun ketika televisi ada, tiba-tiba, kita menjadi orang-orang yang serba tahu. Apa saja; tentang perang, artis, aktor, musik, bencana, demonstran, olah raga, dan lain sebagainya. Mulanya televisi mengajarkan  kita tentang bagaimana menjalani hidup dengan suka cita. Berbagai pesan-pesan gembira hadir di depan mata, dicerna otak, dan kemudian menyemat dalam hati kita. Sehingga ketika menonton tayangan berita peperangan pun, kita masih bisa tersenyum menyimaknya.

Kita tak segila ini pada dasarnya. Pada saat televisi mati, kita adalah orang-orang waras yang mampu berlogika dengan baik dan mendekati sempurna. Hingga kita bisa menyebut diri tak gila sama sekali. Tapi apa hendak dikata. Televisi hadir tanpa kita ketahui, dengan serta merta, tanpa tegur sapa, tanpa izin pamit, tanpa basa basi pula. Pun begitu kita menerimanya dengan suka cita. Kita memperlakukannya dengan baik dan kemudian men…

Menulis November

Bagaimana kalau tak kutuliskan apa-apa di awal november ini? Atau bagaimana kalau nanti seseorang datang mengetuk pintu belakang, dan bertanya; "Adakah sesuatu tulisan yang bisa kusantap nanti malam?" Apa yang mesti kujawab? Mungkin kamu ada saran. Dan sementara kutunggu kau punya saran, aku akan mencoba menyarankan -itupun kalau kau mau untuk diberi saran- tentang bagaimana semestinya saran yang sedang kutunggu datang darimu itu kau pikirkan. Aku mengharapkan beberapa saran yang punya keterikatan dengan soalan. Serupa saran yang merujuk kepada pokok permasalahan. Bingung? Jika begini saja sudah bingung, bagaimana pula kau akan memberi saran. Sudahlah, lupakan saja!