Skip to main content

Televisi Will Kill You

http://drawinglovers.tumblr.com/
Mulanya kita tak segila sekarang ini. Mulanya kita adalah orang-orang udik yang tak tahu apa-apa. Namun ketika televisi ada, tiba-tiba, kita menjadi orang-orang yang serba tahu. Apa saja; tentang perang, artis, aktor, musik, bencana, demonstran, olah raga, dan lain sebagainya. Mulanya televisi mengajarkan  kita tentang bagaimana menjalani hidup dengan suka cita. Berbagai pesan-pesan gembira hadir di depan mata, dicerna otak, dan kemudian menyemat dalam hati kita. Sehingga ketika menonton tayangan berita peperangan pun, kita masih bisa tersenyum menyimaknya.

Kita tak segila ini pada dasarnya. Pada saat televisi mati, kita adalah orang-orang waras yang mampu berlogika dengan baik dan mendekati sempurna. Hingga kita bisa menyebut diri tak gila sama sekali. Tapi apa hendak dikata. Televisi hadir tanpa kita ketahui, dengan serta merta, tanpa tegur sapa, tanpa izin pamit, tanpa basa basi pula. Pun begitu kita menerimanya dengan suka cita. Kita memperlakukannya dengan baik dan kemudian menempatkannya di dalam rumah pada tempat yang strategis dan apik. Begitulah, televisi dari tiada kemudian mengada. Ada demi mentahbiskan bahwa televisi adalah serupa kebutuhan pangan bagi kita. Kemudian kita menjadi bagian dari televisi. Sebagai pemirsa sejati, sebagai orang yang kehilangan gizi jika tak menontonnya dalam sehari. Begitulah, televisi dari tiada kemudian ada. Mengada. Kemudian mengikis kewarasan berpikir kita. Entah kita menjadi gila setelahnya?

Kemudian, Nicholas Johnson -kita tak seberapa kenal dengan orang ini punya nama- angkat bicara (mungkin pada suatu waktu ketika kita sedang memelototi mata di layar televisi), begini; "All television is educational television. The question is: What is it teaching?" Bahkan, jauh-jauh hari sebelum kita mengenal televisi, seseorang yang masih sadar pernah berpesan bahwa; "Bentuk yang paling tulus dari televisi adalah imitasi." [Fred Allen, 1894-1956]. Celakanya, hmmm... ketika di depan televisi, kita tidak menanyakan dan berpikir seperti ini. Tentu saja kita sangat-sangat lupa untuk berpikir atau bertanya. Otak kita kehilangan tanda tanya akhirnya. Artis dan aktor itu sedang diisukan saling cinlok, kata seorang presenter acara infotainment. Dan dengan segera kita membesarkan volume suara televisi. Kita menyimaknya, dengan khidmat, penuh semangat dan sekonyong-konyong terasa kehilangan penat.

“Did you ever think about life as a metaphor for television?”, tanya John Lennon sebelum ajal.

Sungguh, televisi sudah tak pernah mati. Dan memang tak akan mati. Televisi telah menjadi teman hidup bagi kita, teman bermain anak-anak kita, tempat belanja istri kita. Kemudian kita sama-sama hidup seperti yang dianjurkan televisi. Televisi menjadi serupa nabi, yang menganjurkan risalah-risalah ketika kita kehilangan sikap dalam hidup. Hingga kelak, tanpa sadar kita sepaham dengan ungkapan: "Televisi! Guru, Ibu, Selingkuhanku", [Homer, tokoh dalam The Simpsons]. Maka, sebelum ajal tiba, kita mesti sadar dan berucap pada orang-orang sekitar. "Awas. Televisi will kill you!"

Set Off.

Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…