Tsunami; Mengenang Kembali

mungkin ratap. tapi ratap kami dipenuh dengan ratib-ratib.
Jika kau suruh kami untuk mengenang kembali, tentang pagi minggu yang penuh maut itu. Mohon mengerti. Kami sudah tak tahu mengenang apa lagi. Kami sudah tak tahu bagaimana melupa atau membuang pikiran tentang orang-orang yang mati menggenang atau hanya dengan sekali alir air, orang-orang menghilang. Kami sudah tak tahu bagaimana mengenang dengan baik dan benar, sesuai akal waras dan sehat logika. Jangan katakan kami sedang dilanda traumatis akut pula. Sebab, jauh hari sebelumnya, kami sudah banyak belajar bagaimana menghibur diri ketika menderita kehilangan. Kami sudah tahu bagaimana membendung perasaan ketika suami kami tertembak peluru nyasar, anak kami yang tak pulang-pulang, entah kesasar, hingga jika kau sebut pagi minggu penuh maut itu adalah muasal penyakit trauma. Dengan tegas kami menolak. Kami tak pernah trauma dengan kematian. Kami tidak trauma dengan kematian dalam bentuk apa pun. Kau tahu bagaimana bisa? Jawabannya: kami masih punya keyakinan atau iman dalam dada. 
Mesjid Ule Lheue
setegak menara ini. kami masih tegak berdiri walau dibalut puing-puing

sesat kapal sebab amuk air, Punge


pun begini, kami tahu bahwa kami tak benar-benar sedang sendiri
rex peunayong depan hotel medan
bukankah kau mengerti, sebab apa kami masih setegak ini berdiri?

Image source: berbagai sumber.

Popular Posts