Skip to main content

Posts

Showing posts from 2012

Sementara Zarathustra

Sekali ini kita tanggalkan puisi-puisi Puisi yang kita sendiri tak bisa mencerna Apalagi mengangguk mengerti Di luar orang-orang telah banyak Berlalu lalang telanjang Tanpa puisi tanpa alas kaki
Kita masih belum mengerti tentang puisi Tidak sesekali, pun ketika kita pernah Menanggalkannya saat pergi ke kamar mandi Dan kita tak ubahnya seorang egois dungu Tanpa tahu secara utuh tentang alasan Mengapa puisi mesti tumbuh di halaman rumah Atau tersangkut lekat di tubuh kita
Di luar orang-orang bergegas lalu lalang. Tong sampah telah penuh dengan puisi. Puisi mati. Tapi Tuhan tak pernah mati. Tidak sama sekali. Tak pernah mati walau si bijak tua berkoar-koar meneriaki Tuhan telah mati di jalan-jalan pasar yang kumuh dan terkutuk. Itu Zarathustra. Barangkali si bijak tua itu sama terkutuknya dengan pasar dan penghuninya. Siapa tahu?
Sementara jalanan kian menghimpit Kian membuat nyeri si pejalan kaki Sebab jalurnya telah dicuri Pertanyaannya: adakah puisi yang lahir dari hati nurani? Yang…

Road to Survive, Sebuah Film Mengekalkan Ingatan

Bagi kita yang hidup, lahir, berak, dan berdaki tanah di bumi Aceh, tentu tidak akan lupa tentang 'kiamat' yang pernah melanda pada Desember sewindu lalu. Bencana yang memilukan ini sampai sekarang masih saja menyisakan trauma mendalam bagi korban yang selamat atau bagi keluarga yang telah kehilangan sanak saudara dan orang-orang terdekatnya. Tsunami adalah bencana besar. Ia datang sebagai kiasan kiamat yang menggemparkan seluruh isi bumi. Ratusan ribu orang yang menjadi korban adalah satu pertanda yang tak dapat ditawar-tawar lagi untuk mengukuhkannya sebagai salah satu bencana terdahsyat abad ini. Untuk inilah ianya layak dikenang dan diperingati agar ingatan para 'orang-orang sisa' tidak hilang begitu saja. Agar semua kenangan pahit yang tersimpan dalam benak kita menjadi pemancing untuk terus bangkit dari kubang lumpur dan lumur duka.

Ada berbagai cara untuk mengenang bencana tsunami. Yang paling lazim bagi kita orang-orang bertuhan adalah mengenangnya dalam bentu…

Prosa Tak Bermakna

Sekali ini akan kutulis satu paragraf saja. Satu tulisan yang tak sanggup kau baca, apalagi kau beri makna. Tulisan tanpa kata-kata. Tak berkata, tak berucap, tak terbaca. Satu paragraf, aku perkirakan cukup untuk memusingkan kepala. Cukup juga untuk membuat siapa saja berdahi kerut, sampai-sampai ketika seseorang selesai membaca, ia dilanda takut. Inilah yang kusebut tulisan misteri itu. Misteri semisterinya sejarah hantu-hantu. Hantu sehantunya iblis buduk nan terkutuk yang baru saja melarikan diri dari lubang paling jahannam di dunia. Dan tulisan pun tiada berkata. Tiada berlidah untuk mengucap, tiada bermata untuk melihat. Konon lagi untuk memberi makna. Ia tak punya apa-apa. Ia nihil adanya. Kosong melompong tanpa tanda petik, tanpa tanda kutip, tanda seru, tanda tanya, beserta titik koma. Semua terhimpun dalam ketiadaan. Ketiadaan dalam himpunan kata-kata yang tak pernah ada. Ketiadaan yang sama maksudnya dengan ketidakberadaan apa-apa. Inilah yang kusebut tulisan penuh misteri…

Binatang Kertas Dalam Kepala Rudy Atjeh

Di Aceh, boleh jadi nama Rudy ‘Atjeh’ Dharmawan tak banyak diketahui orang selain sanak kerabatnya saja. Tapi ini tidak berlaku di luar sana. Khususnya Yogyakarta tempat ia berdomisili sekarang ini. Di sana, di kota budaya itu, ia telah dianggap sebagai salah satu seniman yang mempunyai talenta tak lazim dalam dunia seni instalasi. Pameran tunggal seni memotong kertas yang bertajuk ‘welcome to the jungle’ yang diselenggarakan di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta baru-baru ini (7-23 Oktober 2012) adalah bukti. Awalnya adalah kertas, cutter, dan barangkali ditambah lagi dengan imajinasi serta kreatifitas yang mumpuni. Kemudian terbentuklah berbagai macam rupa binatang setelah sang seniman menguliti. Adaharimau, ular, tikus, burung elang dan lain sebagainya. Rupa-rupa binatang inilah yang menghiasi setiap sudut galeri.Semuanya berasal dari kepiawaian Atjeh ―nama panggilan Rudy Dharmawan― dalammemainkan lobang kertas hingga menghasilkan wujud-wujud berimaji.

Guru, Antara Problema dan Dilema

Kali ini kita berbual cakap soalan guru. Orang-orang yang telah membuka mata, pikiran, dan juga telah melenturkan jemari tangan anak bangsa untuk bisa menulis, membaca dan memahami apa-apa yang ada di dunia. Bagi kebanyakan kita sudah lazim mengangguk setuju pada anggapan menjadi guru itu sama pula halnya memosisikan diri dalam rombongan orang-orang berpekerjaan mulia. Tugas guru adalah tugas mulia. Barangkali, sebab anggapan ini pula kenapa di Indonesia, lebih-lebih di Aceh, fakultas keguruan di setiap perguruan tinggi terlihat penuh dan sesak, hingga tidak jarang kondisi begini rupa sering membuat keadaan sekitar menjadi pengap. Entah ini gara-gara banyak mahasiswa keguruan sering lupa memakai deodorant ketika ke kampus atau ada sebab lain, tak ada yang tahu. Namun, ada desas-desus di sana-sini yang mengungkapkan bahwa menjadi guru itu selain mengemban tugas mulia, juga bisa mengamankan taraf hidup dengan kenaikan gaji setiap tahunnya. Keadaan ini boleh jadi sebagai faktor lain kena…

Kiri Islam Hasan Hanafi

Definisi & Latar Belakang Mengawali pembicaraan gagasan Kiri Islam yang dikembangkan Hanafi, pertanyaan pertama yang akan timbul adalah kenapa memakai istilah Kiri? Kazou Shimogaki (2007: 6), dalam telaahnya terhadap gagasan Kiri Islam Hasan Hanafi, dengan sandaran beberapa kutipan dari bahan-bahan kajiannya mengungkapkan bahwa banyak diketahui sejak revolusi Prancis, kelompok radikal, kelompok Jakobin, mengambil sisi kiri dari kursi Ketua Kongres Nasional. Sejak itu, Kanan dan Kiri sering digunakan dalam terminology politik. Secara umum, Kiri diartikan sebagai partai yang cenderung radikal, sosialis ‘anarkis’, reformis, progresif, atau liberal. Dengan kata lain, Kiri selalu menginginkan sesuatu yang bernama kemajuan (progress), yang memberikan inspirasi bagi keunggulan manusia atas sesuatu yang bernama takdir sosial. Di pihak lain, Listiyono (2010: 261) mengemukakan bahwa terminologi ‘kiri’ dalam banyak hal mengandung kesan stigmatic, terutama tatkala ia dihadapkan kepada konstruk…

Kita Butuh Makan, Saudaraku!

Ya, saudaraku. Kita butuh makan. Butuh kunyahan berupa makanan yang mengandung gizi untuk perbaiki unsur-unsur tubuh. Kita butuh sesuatu untuk dimakan. Tapi sesuatu itu bukan semacam angin. Sebab jika makan angin, adalah angin pula yang sering keluar dari lubang angin. Ini bahaya. Sangat berbahaya bagi kelangsungan nikmat indera penciuman kita. Oleh karenanya, adalah hal yang patut ditertawakan jikalau kita yang setiap hari butuh makan, namun, setiap harinya pula kita hanya duduk-duduk saja. Kita tak bekerja selayaknya orang-orang yang mencari makan di luar sana. Kita masih asyik mendekam dan berdiam diri di kamar rumah, atau di warungkopi-warungkopi.

Makassar, Akhirnya Saya Harus Pulang

Makassar, akhirnya saya harus pulang. Selamat tinggal. Semoga nanti ada kuasa yang menggerakkan langkah untuk bisa kembali ke sini. Makassar, saya pamit. Minta izin pulang sambil mengapit beberapa kenangan. Barangkali kau akan merasa kehilangan atau malah sebaliknya dengan kepulangan saya hari ini. Itu saya anggap saja sebagai misteri. Dan untuk membesarkan hati, saya benar-benar yakin bahwa kau merasa kehilangan dengan pamitan ini.

Makassar, akhirnya saya harus pulang ke kampung halaman. Sebab sudah selesai berbagai urusan, dan saya memang benar-benar harus pamitan. Jika saya telah berangkat nanti dan kau merasa kehilangan, bukan tidak mungkin kau akan menanyakan betahkah saya selama berada di sini? Dengan jujur saya harus menjawab: "Maaf, saya tidak betah sama sekali."

Makassar, tolong jangan langsung masam muka. Jangan bermuram durja begitu rupa. Saya hanya berusaha jujur saja. Dan kau harus mendengarkan penjelasan lanjutannya. Begini: Ketidakbetahan saya di sini hanya ka…

Dianjurkan Merokok Di: Djendelo Koffie - Yogyakarta

Rasanya, sudah kemana-mana pergi, baru kali ini saya menemukan tempat yang jelas-jelas meminta para pelanggannya merokok sekuat tenaga. Tidak menakut-nakuti, apalagi melarang. Tak ada poster-poster larangan yang berbunyi: Dilarang Merokok atau Don't Smoking. Yang ada malah sebaliknya. Kaget?

Ceritanya ada di sini. Jika kau pernah ke Yogyakarta, sempatkanlah pergi barang sejam-dua jam ke Toko Buku Toga Mas di pangkal jalan Gejayan Affandi. Saya tidak mengajak kamu membeli buku. Saya ingin kasih tahu bahwa di lantai dua toko buku ini ada sebuah tempat melepas rehat, duduk santai sambil minum kopi atau makan penganan kecil seadanya. Ini tempat santai. Sebuah cafetaria. Namanya Djendelo Koffie.

Sampai di sini, saya juga tidak mengajak kamu atau membuat kamu ngiler dengan daftar-daftar menu. Tapi sesuai dengan judul tersebut di atas, saya ingin menceritakannya buatmu sedikit dua, tiga dikit. Di sini kamu bebas merokok. Titik. Yang anti merokok, saya kira jangan mendekat. Mesti jauh. A…

Jatidiri Manusia Berdasar Filsafat Organisme Whitehead

Judul: Jatidiri Manusia Berdasar Filsafat Organisme Whitehead, Pengarang: DR. P. Hardono Hadi, Penerbit: Kanisius - Yogyakarta, tahun 1996, Cetakan Ke-VII, 2002.
Review

Monas Dijebak Mendung

Jangan bingung. Sudah ribuan kali Monumen Nasional dalam keadaan begini rupa. Monas dijebak mendung. Atau boleh juga kau sebut Monas berpayung mendung. Terserah. Yang jelas, tak ada cerita yang perlu dilanjut ketika mata kamera menangkap ini suasana. Walau mesti diakui Berikut ini bagaimana hasilnya:

Itu gambar diambil tanggal dua bulan dua tahun dua ribu sebelas. Setahun lebih enam bulan lepas.[]

Stratifikasi Sosial Dalam Sosiologi - Bag. II (habis)

Stratifikasi Sosial Dalam Ritual Keagamaan Masyarakat Maloh  Daerah Kapuas Hulu – Kalimantan Barat Stratifikasi Sosial; Pengertian & Bahasan Singkatnya Dijelaskan dalam Sosiologi; Suatu Pengantar karya Soerjono Seokanto, bahwa selama dalam suatu masyarakat ada sesuatu yang dihargai, dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargainya, maka hal itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat tersebut.[1] Lebih lanjut, dijelaskan sistem berlapis-lapis dalam suatu masyarakat, dalam sosiologi dikenal dengan istilah social stratisfication (stratifikasi sosial). Kata stratisfication berasal dari stratum (jamaknya: strata yang berarti lapisan). Mengenai istilah ini, Soekanto mengutip Pitirim A. Sorokin dalam menjelaskan definisinya. Di mana disebutkan bahwa yang dimaksud dengan social stratisfication adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hirarkis).[2] Perwujudan gambaran definisi di ata…