Skip to main content

Munsyi Menunggu Selagi Ototis Menyerbu

Baiklah, aku menunggumu kali ini. Sekali saja, ya, sekali ini saja. Sebab aku tak suka menunggu. Sama sekali tak suka. Tapi sekali ini tak mengapa. Biarlah aku menunggu. Menunggumu sembari membaca beberapa buku. Toh, aku sedang tak buru-buru.

Tetapi menunggu adalah sama juga dengan membiarkan diri menjadi batu. Membatu. Kau tahu, membatu dan menunggu sama-sama membuat keras perilaku? Entahlah, kalau tak percaya. Anggap saja aku sedang mengada-ada. Mengada-ada selagi sibuk membaca. Tapi tahukah kau, membaca dan mengada-ada pernah bertemu di sebuang kampung bernama fiksi? Fiksi, bukan fixi, vixy, atau jenis-jenis kata lain yang ketika dibaca, suaranya sama terdengar di gendang telinga.
"Di mana kampung fiksi?"
"Kampung fiksi di sana."
"Di mana?"
"Ya, di sana!"
"Koq, nggak ada? Nggak kelihatan dari sini. Dari tempat kita menunggu ini."
"Yah, kalau dari sini, ya kagak kelihatan kali. Kampung fiksi itu jauh. Di sebalik gunung sana. Di ujung selatan, utara atau mungkin juga sebelah barat laut dari arah tenggara."
"Ribet amat! Kau mengada-ada saja."
"Ya, tapi aku tak berdusta!"
"Kau tak berdusta tapi sedang menunggu dan membaca."
"Tidak juga. Bahkan aku tak mengeluarkan kentut sedari tadi. Apalagi membaca."

Terus saja menunggu. Ya, menunggu saja di situ, selagi tak diburu waktu. Walau seorang munsyi tak suka menunggu. Biarkan saja. Toh, hanya menunggu sekali ini saja. Hitung-hitung anggap saja menunggu itu sebagai perangkat melatih sabar. Bukankah sabar perlu latihan juga? Selayaknya latihan menulis yang mengharuskan kita banyak-banyak membaca. Ah, sedari tadi, sejak mulai menunggu terus saja kau celotehiku dengan membaca. Aku mesti membaca apa? Bukankah aku menunggumu sambil membaca? 

Seseorang yang ditunggu belum datang juga. Sementara si penunggu sudah habis membaca. Satu dua buku kecil telah habis di baca. Buku-buku semisal karangannya Kundera dan Mahfouz tamat sudah. Sebelum azan maghrib melalui senja datang membuncah. Namun di dalam tasnya masih ada beberapa buku tebal yang belum di baca; ada Zentgraaf, Seno Gumira Adjiedharma, dan buku bersampul merah dengan judul Kamasutra. Sementara yang ditunggu belum menampakkan batang hidungnya. Si penunggu mulai gelisah. Sebab sedari pagi tadi dia menunggu. Pun begitu, ia tak bisa berbuat sesuatu. Untuk bergerak lalu pun tidak. Mungkin dia telah bertekad bulat untuk terus menunggu. Hingga ketika bulan mulai beranjak naik dan kumandang azan isya dengan sengit menuju langit, sebentuk makhluk -entah orang, entah hantu- datang mendekat.
"Aha... Kaukah penyair itu?"
"Jangan sebut aku penyair. Telah lama tak ada syair. Kau siapa?"
"Kenalkan, aku Ototis. Panggil saja Tys. Ingat, Tys, dengan rangkaian huruf te, ye, dan es."
"Oke. Gerangan apa kau datang kesini?"
"Aku datang untuk menemanimu yang menunggu dan sedang sendiri."
"Aku tidak sendiri tapi aku memang sedang menunggu. Trus, bagaimana kau akan menemaniku di sini?"

"Aku menemanimu dengan bergelayut di sela-sela gigi. Membuat radang-radang nyeri di gigimu, hingga kau jauh dari sepi."
"Jangan ganggu aku!"
"Aku tak mengganggu."

[bersambung ...]

Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…