Mulai Menulis dari Hal-hal Kecil


Kali ini, kuajak kamu menulis hal-hal kecil. Perihal yang sama sekali tak kau pikirkan sebelumnya. Tentang orang ngupil contohnya. Atau tentang seseorang yang kehilangan kunci lemari pakaiannya. Sementara ia sudah mencari kesana-kemari. Sementara ia, belum berpakaian juga sedari tadi, sehabis mandi. Sementara setengah jam kedepan ada janji penting yang harus ia hadiri. Bukankah ini perihal kecil?

Untuk menulis hal-hal kecil seperti ini, tentu saja kita tak mesti membuka-buka buku referensi. Atau mesti kita jajaki narasumber, atau mencari-cari data akurat untuk menguatkan tulisan yang ada. Kita cukup membayangkan saja. Membayangkan seseorang, dengan dililit handuk di pinggang berjalan kesana-kemari. Mondar-mandir tak menentu sambil merogoh kantong celana, baju, atau membuka laci-laci. Bisa kita bayangkan pula bagaimana mimik orang yang dirundung hilang.

Menulis perihal kecil begini, hanya butuh panjang imajinasi. Beda halnya jika kau ingin menulis sesuatu yang besar. Isu-isu yang menggelepar. Ini butuh banyak modal. Selain mesti punya data-data, kau mesti tahu betul seluk-beluk isu yang dibicarakan nantinya. Ambil contoh, bayangkan jika kita ingin menulis tentang sebuah essai sastra atau riview buku. Bukankah untuk menulis perihal begini rupa kita mesti punya modal awal dalam kepala. Setidaknya, kita mesti membaca buku yang ingin kita review. Atau boleh jadi juga kita mesti tahu betul dan paham apa yang dimaksudkan si penulis melalui isi bukunya. Ini agak susah kukira. Sebab, walaupun modal dasar menulis adalah membaca, toh, kita masih jarang juga membaca. Ini sudah dari sananya. Kita tak terlahir dalam masyarakat gila baca. Kita terlahir dalam masyarakat banyak bicara. Banyak oral, banyak berkelakar.

Jadi, untuk mengawali menulis, setelah tahu bagaimana menempatkan kata dan menyusun kalimat, kau mesti berpanjang-panjang imajinasi. Selanjutnya, tinggal kau tulis apa yang ada dalam kepala. Tulis saja. Tak usah berpikir kalimat ini tak bagus, istilah anu tak serius, kata itu bisa bikin mampus. Tak usah berpikir begitu. Tulis saja dulu. 

Memang, ketika akan mulai menulis, kita sering berpikir kalau kita akan menulis sesuatu yang besar. Kita akan menulis suatu tulisan yang enak dibaca, yang membuat pembaca tergila-gila, dan kita menjadi penulis ternama nantinya. Ini memang biasa. Lumrah adanya. Kita sering berandai-andai sebelum mulai bekerja. Tapi bukankah berandai-andai saja tak akan melahirkan apa-apa? Karena itu, sekarang, ada baiknya kita mulai menulis dari hal-hal kecil dulu. Perihal yang sama sekali luput dari pikiran orang, tapi kita sudah mengemasnya dalam sebuah tulisan. Menulis topik-topik kecil boleh jadi sama enaknya dengan ngupil. Apalagi jika kau mampu menulis bertema kecil namun punya nuansa magis dan ganjil. Mungkin, ini yang diminati pembaca.[]

Popular Posts