Makassar, Akhirnya Saya Harus Pulang

Makassar, akhirnya saya harus pulang. Selamat tinggal. Semoga nanti ada kuasa yang menggerakkan langkah untuk bisa kembali ke sini. Makassar, saya pamit. Minta izin pulang sambil mengapit beberapa kenangan. Barangkali kau akan merasa kehilangan atau malah sebaliknya dengan kepulangan saya hari ini. Itu saya anggap saja sebagai misteri. Dan untuk membesarkan hati, saya benar-benar yakin bahwa kau merasa kehilangan dengan pamitan ini.

Makassar, akhirnya saya harus pulang ke kampung halaman. Sebab sudah selesai berbagai urusan, dan saya memang benar-benar harus pamitan. Jika saya telah berangkat nanti dan kau merasa kehilangan, bukan tidak mungkin kau akan menanyakan betahkah saya selama berada di sini? Dengan jujur saya harus menjawab: "Maaf, saya tidak betah sama sekali."

Makassar, tolong jangan langsung masam muka. Jangan bermuram durja begitu rupa. Saya hanya berusaha jujur saja. Dan kau harus mendengarkan penjelasan lanjutannya. Begini: Ketidakbetahan saya di sini hanya karena satu persoalan saja. Saya yakin kau sudah tahu itu persoalan apa. Atau, baiklah saya beritahukan saja apa adanya. Saya tidak betah dengan jalanan yang kau punya.

Makassar, saya tahu kau itu kota besar. Dan sudah sepantasnya punya jalanan besar-besar. Saya sangat memaklumi itu. Maklum sembari terkagum-kagum. Tapi duduk perkara jadi lain ketika pertama sekali saya menginjakkan kaki di sini. Saya ingat, itu hari sabtu. Sabtu jelang maghrib tepatnya. Saya naik taxi dengan seorang teman menuju rumahnya yang terletak -jika kau diumpamakan sebagai tubuh- di sekitar ketiakmu. Di ujung Jl. Sirua Daeng Abdullah kalau tidak salah ingatan. Perjalanan dari bandara menuju tempat kediaman sang teman, kata sopir taxi hanya memakan waktu sekitar 19-25 menit saja. Tapi kau tahu, Makassar? Ternyata perkiraan sang sopir taxi terpental jauh ketika mobil yang disopirinya memasuki jalanan kota. Ketika sampai di kediaman, saya mencatat waktu yang terpental itu mencapai 35 menit. Jadi ada 1 jam lamanya saya dijalanan.

Makassar, terus terang, saya punya masalah dengan kemacetan jalan. Masalah yang tak bisa saya ungkapkan di sini denganmu. Itulah alasan kenapa saya tidak betah di sini. Saya tidak tahan dengan kemacetan. Mungkin itu karena saya sudah terbiasa dengan jalanan lengang di kampung halaman. Atau boleh jadi juga, saya tidak ingin tua di jalan. Jadi, hanya faktor kemacetan saja yang membuat saya tidak betah. Tak ada faktor lain. Orang-orangnya ramah-ramah. Saya punya banyak teman baru di sini. Semuanya, ketika berjumpa dan berbicara, saya seperti menjumpai teman lama saja. Percakapan mengalir apa adanya. Tanpa ada rasa sungkan atawa segan. Nah, jika saya tidak mengakui keramahtamahan inlander begini macam, tentu saja: terkutuklah saya hari ini.

Makassar, saya pamit pulang. Sebentar lagi saya berangkat ke kampung halaman. Karenanya saya minta izin untuk membawa serta kenangan dan beberapa pengalaman. Kubawakan pula beberapa rupa rasa makanan yang banyak saya santap selama di sini. Coto, Karupung, Pisang Epe, Barongko, Sarabba', dan beberapa macam makanan lain yang saya tidak hapal namanya. Juga beberapa potret diri yang mengambil tempat di sana-sini, yaitu tempat-tempat yang saya anggap erotis di sekujur tubuhmu. Losari, Fort Rotterdam, Somba Opu, Unhas, adalah beberapa tempat erotis itu. Dan ketika mengambil foto di situ, saya membayangkan sedang mencumbu sekujur tubuhmu.

Makassar, pertama sekali menginjakkan kaki ke sini, saya telah menuliskan sebuah cerpen tentangmu. Itu cerpen tentang kesan pertama saya belaka. Tidak lebih. Maka begitu juga hari ini. Saya menuliskan tulisan ini sebagai pelengkap kesan yang saya maksudkan. Tidak lebih. Atau jika ada sedikit lebih, itu tidak lain sebagai bentuk pamitan, minta izin, mohon maaf, titip salam, dan ucapan-ucapan yang lazim lainnya ketika perpisahan tiba di ambang.

Maka; akhirul kalam, saya ucapkan selamat tinggal dan salam.
Wassalam

Popular Posts