Skip to main content

Road to Survive, Sebuah Film Mengekalkan Ingatan

Bagi kita yang hidup, lahir, berak, dan berdaki tanah di bumi Aceh, tentu tidak akan lupa tentang 'kiamat' yang pernah melanda pada Desember sewindu lalu. Bencana yang memilukan ini sampai sekarang masih saja menyisakan trauma mendalam bagi korban yang selamat atau bagi keluarga yang telah kehilangan sanak saudara dan orang-orang terdekatnya. Tsunami adalah bencana besar. Ia datang sebagai kiasan kiamat yang menggemparkan seluruh isi bumi. Ratusan ribu orang yang menjadi korban adalah satu pertanda yang tak dapat ditawar-tawar lagi untuk mengukuhkannya sebagai salah satu bencana terdahsyat abad ini. Untuk inilah ianya layak dikenang dan diperingati agar ingatan para 'orang-orang sisa' tidak hilang begitu saja. Agar semua kenangan pahit yang tersimpan dalam benak kita menjadi pemancing untuk terus bangkit dari kubang lumpur dan lumur duka.

Ada berbagai cara untuk mengenang bencana tsunami. Yang paling lazim bagi kita orang-orang bertuhan adalah mengenangnya dalam bentuk do'a-do'a. Namun selebih dari do'a, berkarya dalam bentuk lain sudah barang tentu tak menjadi perkara mengingat usaha bangkit hidup di dunia tidak akan berhasil jika hanya dengan duduk berdo'a saja. Ada banyak hal yang bisa dan layak dilakukan oleh 'orang-orang sisa' yang masih tersisa kepala beserta isinya.

Adalah Lensa Kiri, sebuah divisi kreatif Komunitas Kanot Bu yang berkutat dalam dunia lensa, Desember tahun ini mencoba mengenang bencana tsunami dengan membuat sebuah film dokumenter. Film yang dimaksud bukan sebuah film yang mengisahkan tentang kepiluan para korban tsunami. Bukan juga sebuah film yang memuat video gelombang besar datang dari arah Peunayong, Punge, atau Lamjamee seperti yang sempat tertangkap kamera amatir sewaktu bencana itu datang dengan bengisnya. Jika sudah saya jelaskan begini, tentu anda akan bertanya, memangnya film yang bagaimana juga?

Jawabnya, anda boleh cek sendiri di sini.

Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…