Mengenang Ayah

Ada yang janggal ketika kau pulang ke rumah. Entahlah. Yang jelas hati tak seriang dulu ketika langkah telah berjejak di anak tangga samping rumah kau disapa ayah dari arah beranda. Atau paling tidak, ada protes keras ketika kau lupa merapal salam saat pintu berderit dibuka ayah. Ada sebentuk sepi yang tak juga kau mengerti. Dan ayah telah benar-benar pergi. Itu pada awal pagi. Ketika subuh sedang bersiap-siap (barangkali berdan-dan) keluar dari dekam malam.

Entahlah. Rumah yang haru adalah rumah ketika ibu membicarakan apa pun tentang ayah. Sementara kau sedang berimaji sendiri tentang lembaran-lembaran ingatan semisal debat sejarah di meja makan yang kesemuanya kerap berakhir dengan 'ejekan-ejekan'. Suatu kali setelah menyeruput kopi ayah bilang, "Kau sudah sarjana tapi itu saja tidak tahu. Saya yang tamatan SR tahu. Kiban nyan?" Ah, ayah memang punya serangan yang tak disangka-sangka jika sudah berdebat begitu rupa.

Lain waktu, ketika ibu sedang di dapur, diam-diam kau nyelinap ke kamar ayah. Kau hidu segala macam aroma kamar. Kau tatap lekat seisi kamar. Lemari, sangkutan baju, cermin yang dikerubung bintil, minyak rambut, sisir, sebingkai foto, ranjang besi yang tiang-tiang kelambunya telah terkelupas cat. Ketika itu kau hampir saja menitikkan air mata jika keponakanmu yang gendut dan nakalnya minta ampun tidak nyelonong masuk dengan tiba-tiba. Lantas dengan gegas kau keluar kamar seiring gegasnya sang keponakan mengejar. "Bi peng seuribee", kata sang ponakan.

Namun ada satu hal setidaknya masih menyemat di pikiran. Satu hal yang kau tanam dalam hati ketika janggal rumah sedang kau ratapi: "Selagi do'a terbaca di hati, selagi ibu sabar menasehati, ayah tetap ada. Ayah adalah sumber kedewasaan. Kenangannya adalah salah satu penentu kemana arah pemikiran berjalan."

Popular Posts