Skip to main content

Setelah Ngopi Dengan Arkeolog Indie

:deddy besi

Itu sebuah siang yang terik, kawan. Di pelataran rumah lama gaya Belanda yang telah diubah fungsi jadi warung kopi. Di bawah rindang pohon jambu, kita bertukar cerita tentang negeri kanal yang sedang kita duduki ini. Negeri yang jika ditulis riwayatnya, punya seribu satu atau bahkan lebih, cerita yang terbaca. Kita bertukar cerita, atau lebih tepatnya kau yang bercerita-aku pendengarnya, tentang abad-abad lampau. Abad-abad silam yang pernah melahirkan putra-putra terbaiknya. Yang pernah membuat tanah beserta rakyatnya penuh digdaya oleh peradaban yang mereka cipta. Kita berbicara amburadul. Tapi bukan dalam bahasan yang ngalor-ngidul.

Hingga sampai pada saat angin kencang datang, menggoyang dahan-dahan jambu di atas kepala kita, kau bercerita tentang wajah kota Venesia di kota kita. Kau jelaskan tentang kanal-kanal ukuran sekali lalu kapal, melintas saling-silang di sekujur tubuh kota. Konon, kau katakan juga, gaya tata ruang kota begitu rupa adalah hasil adopsi pekerjaan orang-orang Utsmani yang dikolaborasi dengan karya orang-orang Viet di kampungnya.

Sekejap aku terkesima. Sementara kau nikmati keterkesimaan aku dengan menyeruput kopi yang sejak sepuluh menit lewat sudah terseduh di atas meja. Lantas kau lenting juga tembakau khusus yang kau bawa dalam satu gulungan ukuran kelingking jari tangan. Dan aku masih terkesima saat lentingan tembakaumu telah terbakar menguar asap yang dalam sekejap dibawa angin. Namun, angin yang sama pula meniup-niup rambut gondrongmu itu.

Tapi aku masih mencerna, masih membayangkan tapak-tapak kanal tersisa yang jika dibayang dalam pejam mata, ia hanyalah sebentuk garis tak berpangkal-ujung, meliuk-liuk pada sekujur tanah yang telah padat oleh ramainya warung kopi, yang penuh dengan kenderaan mesin biang polusi, dan kerap dikepung oleh isu mesum terselubung.

Kubayangkan juga kapal-kapal ukuran tanggung melintas, menyisir Lampaseh, Bitai, Geuceu, Beurawe Peunayong, hingga masuk ke Daroy, merapat di sebuah anak tangga dekat Meuligoe hanya untuk mendaratkan para tamu yang lantas bersetapak menuju Masjid Raya. Dan di sana, belum juga tumbuh, apa lagi untuk sekadar berganti nama.

Sementara pengembaraan pikiranku sudah kemana-mana, kau menyambung cerita hingga sampai pada sebuah masa seorang pembesar menulis sejarah seenak kepalanya, sesuai isi perutnya. Sampai di sini, aku mengernyit dahi. Belum terlalu mengerti. Tapi itu tak lama, sebab setelahnya dengan sigap kau utarakan alasan-alasan tentang timpangnya sejarah oleh titik koma penanya.

Lantas aku jadi malas untuk membayangkan si sejarawan yang kau katakan menulis seenak perutnya itu. Yang jika hari itu juga aku ingin bertemu, bisa kutemukan wajahnya di lembar-lembar buku sejarah yang ada di banyak pustaka. Tapi bagiku, inilah hari celaka itu. Celaka oleh sebab geram dengan ketakbersisaan apa-apa dari kedigdayaan orang-orang lama.


Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…