Putri Yang Berulang Tahun

Kemarin satu sms masuk dari adik paling bungsu. Bunyinya; ehai, long ka 18 thon (euy, saya sudah 18 tahun). Hmm... Aku lupa. Aku tak ingat sama sekali 22 Mei adalah tanggal hari lahirnya. Tahun ini angka 18 menyatu dengan umurnya. 18 tahun sudah usia si adik bungsu. Adik bungsu perempuan bernama Nur Rizqa yang kami sekeluarga memanggilnya Putri. Selepas membaca pesannya di ponsel, aku nyengir sendiri. Betapa ingatanku tentang tanggal-tanggal penting semisal tanggal lahir adikku itu tak pernah lekat di kepalaku.

Tapi bicara tentang Putri, tak ada ingatan lain yang sekarang menyarang di kepala kecuali kenangan akan seisi keluarga. Ingatan tentang Pak Chik, Ma Chik, Ma Yeuk, Ayah, dan Cek Na. Lima orang yang telah membesarkan kami dengan kasih sayangnya, yang kini sama sekali tak bisa kami jumpai lagi di rumah atau di seisi dunia. Lima orang hebat yang telah membentuk watak kami tak kecuali Putri, adikku yang bungsu, yang kemarin berulang tahun itu. Lima tokoh penting yang sebelum bertemu ajal telah mengukuhkan banyak pelajaran tentang bagaimana hidup baik-baik di dunia.

Pak Chik itu bapaknya Emak. Ma Chik istrinya Pak Chik. Ma Yeuk adalah ibu Ayah, sementara Cek Na adiknya Emak. Kuingat adalah Pak Chik yang pertama sekali memanggil adik bungsuku dengan nama Putri. Tapi Mak Chik dengan cerita-cerita dan gaya bicaranya yang kadang-kadang lucu, kadang-kadang bikin jengkel adalah penguat segala kenangan hangat tentang keluarga besar yang hidup tanpa cek-cok tanpa ada konflik yang menyolok. Ma Yeuk lain lagi. Wajahnya yang cantik itu telah diwakilkan pada bentuk wajah adikku. Hingga sampai tahun 18 Putri hidup di dunia, hidung mancung di wajahnya adalah representasi hidung Ma Yeuk yang ketika hidupnya tak pernah berhenti mewasiatkan pada kami dengan kalimat bek ka meukaru-karu sabee keu droe-droe, nyan hana get keu tanyoe, hana get chit ji kalon le gob (jangan cek-cok sesama, itu tidak baik baik kita, tidak baik juga dilihat orang).

Tentang Ayah? Apa lagi yang mesti kami bicarakan kecuali seisi do'a di dunia, segenap rasa cinta yang ada, seluruh ungkap patuh di kepala, adalah tidak juga cukup untuk disandingkan dengan kasih sayangnya. Pun ketika Ayah terbaring sakit, ia masih saja sering tersenyum sambil sesekali bercanda. Walau kadang canda itu diiring tangis Emak yang bersimpuh di dekat kepalanya, Ayah hanya tersenyum sambil melirik manis pada Emak yang sedang nestapa. Tapi duka terdalam yang pernah kualami adalah subuh 1 Rabiul Awal itu. Ketika ayah tak bisa lagi melirik, walau senyumnya masih tersisa saat ajal datang padanya.

Barangkali, tak satu pun di antara kami sekeluarga yang luput dari budi baiknya Cek Na. Yang setia menceboki atau memandikan kami pada masa kami masih kecil mungil. Putri lebih-lebih lagi. Rasanya Putri adalah adik yang paling disayangi Cek Na semasa hidupnya. Cek Na yang setia menghabiskan malam-malamnya ketika Putri kecil menangis minta ditemani tidur olehnya.

Putri sudah besar sekarang. Sudah tak lagi bisa disebut ingusan, walau hidungnya yang mancung kerap beringus ketika cuaca tak menentu. Tapi itu sama juga seperti aku, sama seperti abangku, tak terkecuali sama dengan kondisi ayah dulu. Mungkin, hidung mancung yang diwarisi keluarga menyimpan misteri penyakit turunan yang tak bisa beradaptasi dengan debu, dengan hujan, dengan panas, atau dengan cuaca yang tak jelas. Namun masalah hidung bukanlah perkara pelik yang mesti dibicarakan. Sebab ada perkara membuncah ketika aku menulis catatan ini, yaitu kenangan yang datang tumpang tindih dengan gumamannya yang lirih.

Putri itu manja. Posisi bungsu dalam keluarga telah menempatkannya sebagai akhir tempat mengungkap segala kasih, sayang, cinta, emosi, dan ego seisi keluarga. Dan ia tumbuh besar hingga sekarang ditingkahi banyak canda, marah, lega, suka dan perasaan lain milik Emak, Abang, Kakak, Aku, dan Adik lelakiku satu lagi, abangnya Putri. Tapi Putri telah menoreh banyak cerita. Gaya bicaranya yang masih kekanak-kanakan telah memungkinkan ia adalah representasi kemanjaan dalam keluarga. Tapi Putri telah menoreh banyak cerita. Punya hobby membaca yang sering membuatnya lupa cuci piring, menyapu, atau menyetrika, ia telah tumbuh jadi gadis pintar yang punya kharisma di antara teman-temannya. Aku menyaksikan itu, dan aku yakin bagaimana ia punya peran penting dalam kelompok pertemanannya.

Untuk itu, tak ada hal penting lain yang perlu diucapkan selagi Putri berulang tahun selain mengajaknya mengenang orang-orang penting yang ada di rumah. Mengajaknya mengingat tentang kondisi hangat dalam keluarga yang sudah tak utuh itu dalam setiap aktivitasnya kini. Pun ketika Putri belajar, ketika Putri berusaha menjadi orang besar, aku ingin ingatannya tak luput pada orang-orang penting seperti Pak Chik, Ma Chik, Ma Yeuk, Ayah, dan Cek Na yang sudah meninggal dunia. Juga mengingat bagaimana senyum Emak atau canda dua Kakak, atau ejek manis abang-abangnya yang kerap berakhir pada dirinya sebagai penyemangat yang tak pernah habis-habisnya.

Terakhir, Putri bagi kami sekeluarga adalah sesempurna puisi yang tak sempat ditulis Ayah.

Popular Posts