Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2013

Ganja - II

"When you smoke (ganja), you don't want to war."  [Bob Marley]
Sambil berkelakar kukatakan, sampai saat ini kami percaya selama tanah masih subur untuk 'ganja', selama itu pula kami tak pernah tahu bagaimana hidup sejahtera. "Benarkah? Tolong kirim aku ganja," tukasnya. "Tapi di sini, kami tak serupa negara. Kami tak mengutuknya kecuali diam-diam mendewakannya dengan menyimpan dalam kepitan selagi kami pergi kemana-mana," elakku segera.Ganja di sini adalah apa saja yang membuat orang-orang lekas fly, lekas buai, atau malah cepat terkulai. Ganja bisa berarti belitan hutang di tambah tunggakan kreditan. Ganja bisa bermakna kebelet kawin sementara calon mertua memasang tarif mahar calon pengantin di atas rata-rata. Ganja juga bisa kami artikan serupa masalah pemerintah yang tertimpa ke pundak rakyatnya, sementara wakil rakyat sering silap ketika bicara di media massa. Atau boleh jadi ganja dimaknai dengan seduhan kopi pagi yang kalau tid…

Konser Iwan Fals Di Blang Padang & Pawang Hujan?

Berdasar kondisi cuaca Banda Aceh selama beberapa pekan terakhir, barangkali agak tak masuk akal kalau konser 'Presiden Musisi Indonesia', Iwan Fals bisa berjalan mulus. Hujan mengguyur sekujur Aceh sepanjang bulan Juni ini. Khusus Banda Aceh dan beberapa daerah lainnya, terpaan angin kencang seperti menggenapkan keadaan kalau kondisi begini rupa sangat tidak bersahabat untuk membuat pagelaran acara out door. Namun Iwan Fals, legenda hidup dunia musik Indonesia tentu tak bisa menggeser jadwal manggung di Banda Aceh yang sudah jauh-jauh hari disusun schedule itu. Maka sabtu malam, 15 Juni 2013, sekitar pukul 21.00 WIB, naiklah sang maestro musik ini ke pentas yang disediakan dengan ikhlas oleh panitianya TOP Coffee.

Konser berjalan lurus, mulus, tanpa ada cacat suatu apa. Kalau pun ada cacatnya, itu tak lebih dari teriakan konyol penonton-penonton tak tahu adab, tak berpendidikan ketika sekelompok anak muda tanah Gayo menampilkan seni tari tradisi Didong yang telah mendunia. A…

Yang Lain Di Simpang Lima

Aku temukan orang-orang diam menikmati deru kendaraan di traffic light Simpang Lima. Aku temukan beberapa pekerja taman, menggali trotoar jalan dengan sabar. Tak menoleh ke muka siapa pun, sementara di badan jalan, orang-orang yang berhenti menunggu lampu hijau nyala memperhatikan mereka dengan berbagai cara pandangnya. Aku temukan juga serombongan gadis chinese berjalan bergandengan menyebrangi badan jalan sambil saling bercengkerama satu sama lain.Sore di tengah hiruk pikuk kota, bening mata sipit mereka adalah pengganti teduh pohon yang ditebang akibat pelebaran jalan.

Sementara bayang baliho iklan yang tumpah di badan jalan adalah tempat yang baik untuk berteduh oleh semua pengendara. Ketika lampu hijau traffic light belum lagi menyala. Di sisi jalan lain, suara klakson dan deru mesin kendaraan adalah nyanyian panjang suka cita. Nyanyian tentang bebasnya tubuh dan pikiran dari kungkungan jam kerja. Serupa nyanyian panjang anak-anak gembala yang menuntun kambing-kambing piarannya…

Obrolan (Bualan) Warungkopi

Kita kabarkan pada orang-orang, warungkopi adalah rumah kedua kita selama ini. Selain rumah pribadi yang kita huni, warungkopi telah menggeser masjid dan meunasah. Dan kita malas mengakui berita buruk ini. Lihatlah, kantor-kantor ditinggalkan oleh para abdi, masjid atau meunasah kehilangan shaf, sementara rumah sekolah telah kosong kursi sebab nihil yang duduki. 

Pantat kita telah menyarang di kursi warungkopi. Obrolan yang topiknya kerap terdengar membosankan urai ditingkah sulutan rokok yang telah berganti belasan puting. Sementara satu dua pengemis masuk. Menadah tangan sambil memasang mimik muka derita serupa orang merajuk. Sementara SPG rokok berseragam sexy lagi seronok juga masuk. Mengulur bungkus rokok produk terbaru sembara tersenyum genit. Seolah-olah yang mereka jual sore ini adalah senyum dan suara yang menggoda, dan rokok hanyalah jualan pemancing belaka.

Warungkopi tak ubahnya pasar malam. Tempat segala celotehan tumpah ruah. Ada yang tertawa, dan tak sedikit pula yang ser…

Surat Cinta

Aku datang manakala hatimu menolak segala kedatangan. Aku ada ketika otakmu sedang terisi dengan pelbagai ketiadaan. Aku hadir saat benakmu merasa tak penting atas semua kehadiran. Tapi aku bertahan pada kedatangan, sambil meninjau keadaan, sembari mengisi daftar kehadiran. Lantas kububuhi sekadar tandatangan di beberapa tempat sensitive pikiranmu itu. Di hati, otak dan juga benak. Dasarnya, adalah rumit membubuhi tandatangan. Tapi rasa yang terpendam adalah celaka jika tak segera kukerjakan. Itu sebabnya, walau kau risau, aku berusaha tampil memukau selagi tak ada orang lain yang mau menghirau.
Boleh jadi kau menganggapku sekadar angin lalu. Tapi aku cukup tahu, lalunya angin adalah hal kecil yang mampu menyibakkan anak rambut yang tumbuh di ujung dahimu. Aku juga tahu lalunya angin adalah perihal paling remeh di dunia ini, namun tetap saja bisa membuatmu mendengus bau sesuatu. Boleh bau baik semisal harum bunga bajik, boleh juga bau buruk seperti anyir bangkai busuk. 
Aku datang manak…

Sawala Adalah

mulanya nama Akhirnya aku memilih kata sawala sebagai kata awal judul blog ini. Ditambah nama belakangku, maka jadilah blog ini berjudul Sawala Mustafa. Mulanya Simetris Sisi. Namun setelah blog ini bertahan sekitar dua tahunan, beberapa waktu lalu kepuasan batin memakai dua kata itu buyar seketika. Aku tak tahu sama sekali perihal sebab musabab buyarnya puas batin ini. Tak bisa kujelaskan walau memakai pikiran jernih sekali pun. Konon lagi jika ingin menjelaskannya secara ilmiah. Aku mesti angkat tangan tentunya. Menyerah begitu saja. Lantas menggeleng-geleng kepala kalau ditanyakan alasan apakah aku mengganti judul blog yang sudah bertengger untuk waktu bilangan tahun lamanya.

Kemudian, demi memancing kepuasan lain atasnya, kupilih nama lengkapku sendiri menjadi judul blog. Celakanya, ini tak bertahan lama. Hanya dalam hitungan minggu, nama pemberian nenekku sekitar akhir April 1984 lalu, terasa tak cocok sama sekali jika harus bertengger di kepala blog. Tentang ini, aku juga tak cuku…

Susilo Bambang Yudhoyono, Boediono, dan Retno

Banda Aceh; Suatu Siang Yang Penuh Razia