Skip to main content

Ganja - II

"When you smoke (ganja), you don't want to war."  [Bob Marley]

Sambil berkelakar kukatakan, sampai saat ini kami percaya selama tanah masih subur untuk 'ganja', selama itu pula kami tak pernah tahu bagaimana hidup sejahtera. "Benarkah? Tolong kirim aku ganja," tukasnya. "Tapi di sini, kami tak serupa negara. Kami tak mengutuknya kecuali diam-diam mendewakannya dengan menyimpan dalam kepitan selagi kami pergi kemana-mana," elakku segera.
 
Ganja di sini adalah apa saja yang membuat orang-orang lekas fly, lekas buai, atau malah cepat terkulai. Ganja bisa berarti belitan hutang di tambah tunggakan kreditan. Ganja bisa bermakna kebelet kawin sementara calon mertua memasang tarif mahar calon pengantin di atas rata-rata. Ganja juga bisa kami artikan serupa masalah pemerintah yang tertimpa ke pundak rakyatnya, sementara wakil rakyat sering silap ketika bicara di media massa. Atau boleh jadi ganja dimaknai dengan seduhan kopi pagi yang kalau tidak terseruput barang sekali dua kali, maka pikiran terasa sakau minta ampun.

Kerap kami dapati dari sejatinya makna ganja di sini adalah bagaimana mencitrakan diri sebaik mungkin. Berpenampilan jelita tanpa cela, sembari ogah-ogahan kerja keras walau untuk bekerja secara 'lunak' pun kami tak punya modal apa-apa. Yang kami tahu banting tulang bisa membuat telapak tangan kapalan. Terkelupas kuku jari yang setiap selasa sore dan jumat pagi kami bersihkan dengan buah belimbing biar kelihatan mengkilap. Di sini, kami sudah jarang menghisap ganja. Terlalu bau asapnya, di samping untuk meraciknya tidak sepraktis barang paling mutakhir itu. Barang yang walau tak kusebutkan namanya, kau sudah lebih duluan tahu.
 
Tapi jangan kau pikir kami sudah tak lagi menghormati ganja. Itu salah besar. Sebab, pun zaman telah sedemikian menggila dengan segala aksesoris modernitasnya, di sini, kami masih membaca risalah ganja. Masih mengutip jalan sejarahnya. Walau tentang riwayat tanah dan tuannya kerap kami jumpai sebagai sahibul hikayat belaka. Dan manakala mata kami semakin menyipit oleh sebab ganja, kami sadar sejarah yang berpencar di kampung kami sebagian besar hanyalah taklid. Celakanya, intelektual sejarah kami pun tak ingin terlibat belit untuk meluruskannya. Lebih celaka, ketika ditanya mereka tak mampu berkelit. Peu chit?

Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…