Skip to main content

Mengenangmu, Don Pablo - II [Berita Kematian Pablo Neruda]

"Prosesi penguburan dimulai di rumah sang penyair, di mana almarhum semula disemayamkan ditemani istri dan saudara-saudara perempuannya. Ruangan bekas tempatnya disemayamkan itu, bekas perpustakaannya dulu, kini kebanjiran dan penuh lumpur. Buku-buku dan dokumen-dokumen mengapung di air lumpur bersama perabotan. Sehari sebelumnya tentara membelokkan arah aliran sungai kecil ke rumah itu dan mereka menghancurkan apa saja yang mereka lihat dengan popor senapan mereka dan baru pergi setelah rumah itu kebanjiran.

Peti mayat sudah dipindahkan dan sekarang sedang dipanggul oleh beberapa kawan sang penyair. Hanya sedikit yang hadir menemani istri dan saudara-saudara perempuannya dan duta besar Meksiko Martinez Corbala.

Seorang bertanya, lalu dijawab, "Pablo Neruda."
"Apa?"
"Ya, Bung, Pablo Neruda."

Dan perlahan-lahan berita itu menyebar, dan nama itu membuka pintu-pintu dan jendela-jendela, muncul di toko-toko yang sudah hampir tutup, turun dari tiang-tiang telepon bersama para pekerja yang sedang memperbaikinya, menghentikan bis-bis dan mengosongkannya, membuat orang-orang berlari dari jalan-jalan yang jauh, mereka yang sudah tiba pada menangis, masih berharap berita itu tidak benar. Nama itu terus muncul, seperti sebuah keajaiban kemarahan, dalam beratus-ratus manusia --laki-laki, perempuan, anak-anak, hampir semuanya miskin, hampir semua orang dari perkampungan kumuh kota Santiago-- setiap orang menjadi Pablo Neruda.
Kami mendengar bising kelabu sepatu-sepatu murahan biasa, kami mencium bau debu yang tak terhingga, kami rasakan di mata kami tarikan napas tertahan ribuan tenggorokan yang siap untuk meledak.

Lalu kami dengar sebuah suara: malu-malu, tersendat, berdoa secara rahasia--"Komrad Pablo Neruda"--dan kami dengar seseorang menjawab, "Jangan bilang aku yang mengatakannya," di sini sekarang dan selamanya.

Sebuah suara berteriak, "Komrad Pablo Neruda!" dan di sana, sudah mulai marah, "Ini!" --sambil melemparkan sebuah topi, melangkah pasti, menghadapi tentara yang sedang mendekati dan mengepung kerumunan itu. 

Dan di sini mulai sesuatu yang kami percaya sangat tua dan monumental, sesuatu yang berasal dari realm sastra agung, sesuatu yang luar biasa, fantastik, karena berasal dari pemikiran murni dan takkan mungkin muncul di pinggir jalan. Semacam litani raksasa untuk entah berapa banyak yang mati. Siapa yang tahu untuk berapa banyak orang yang terbunuh litani ini? Sebuah suara dari kejauhan, nyaring, berteriak dengan garang, tapi mengharukan, "Komrad Pablo Neruda!" Dan sebuah koor yang ditonton oleh jutaan pembunuh, jutaan informan, bernyanyi, "Di sini, bersama kami, sekarang dan selamanya!"

Di sana, lebih jauh lagi, di sini, di kanan, di kiri, di ujung barisan manusia yang bergerak maju ini, barusan tiga ribu manusia ini, teriakan orang Chile menggema, rontaan rahim kesedihan yang tak ada putusnya, kelebatan-kelebatan rasa luka: "Komrad Pablo Neruda!" "Komrad Salvador Allende!" "Di sini!" "Di sini!" "Di sini, bersama kita, sekarang dan selamanya!" "Bangsa Chile, kalian diinjak-injak, kalian dibunuhi, kalian disiksa!" "Bangsa Chile, jangan menyerah, revolusi menunggu kita, kita akan terus melawan sampai para algojo itu kalah!"

Gelombang teriakan, makian, ancaman, ratapan kesuraman, suara-suara penuh kemarahan. Kata-kata menyeramkan, gila, kata-kara surgawi. Tiga ribu manusia yang dikalahkan berteriak.

Dan tiba-tiba, berteriak sekuat-kuatnya, seorang perempuan mulai menyanyikan puisi Neruda. Hanya suaranya sendiri yang terdengar, "Aku dilahirkan berkali-kali, dari kedalaman/bintang-bintang yang dikalahkan ..." dan semuanya berteriak, semuanya, mereka berteriak dari ingatan mereka "... membangun kembali ancaman/keabadian yang kupopulasikan dengan tanganku ..."[]
***
Tulisan di atas adalah gambaran suasana prosesi penguburan penyair Pablo Neruda, sebagaimana dikutip Saut Situmorang dari buku Song of Protest-nya William Morrow, dan menjadi bagian dari essai pengantarnya yang berjudul, "Pablo Neruda dan Imperialisme Amerikat Serikat." Sumber: Pablo Neruda, Epic Song; Puisi-puisi Perlawanan, Jakarta: Hyena, 2004.

Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…