Mengenangmu, Don Pablo

sumber: enothing
Dari beberapa sumber, aku paham kau yang bernama lengkap Ricardo Eliecer NeftalĂ­ Reyes Basoalto lahir Juli, meninggal September: 12 Juli 1904 - 23 September 1973. Maka awal Agustus ini, seabad lebih atau puluhan tahun rentang waktu lahir dan meninggalmu itu, aku ingin menulis tentangmu. Namun jujur adalah modal keberanianku untuk sekadar menoreh nama besarmu: Pablo Neruda panggil dunia. Mesti diakui, aku baru mengenalmu sekitar tiga tahun silam. Tahun-tahun ketika kampung kami baru saja lepas dan merangkak-anjak dari dua malapetaka raya: perang dan bencana.


Cara mengenalmu pun tak lain setelah kubaca (sambil sesekali mengerutkan dahi) esai-prosa obituarinya Fauzan Santa -penyair kampungku yang sungguh lihai menata kata- kepada Alm. AA Manggeng dan dimuat dalam kolom budaya salah satu koran harian. Aku ingat, itu tanggal 18 April 2010 silam. Tiga tahun lewat. Dimana sejak kelewatan tahun itu, Don Pablo, panggilan Fauzan Santa dalam esainya untukmu terasa ngiang mengiang ketika aku mencoba membekali diri menulis dua-tiga bait puisi.

Don Pablo? Gerangan siapakah nama ini hingga berkali-kali disebut-tulis oleh penyair tenar kampungku itu?

Maka untuk menghapus tanda tanya dalam kepala, kukais-kais sendiri tumpukan buku di pustaka-pustaka. Sampai akhirnya, titik terang tentang namamu terbuka saat secara tak sengaja, salah seorang teman membawa pulang sebuah buku mungil yang menghimpun puisi-puisi perlawanan. Epic Song, tajuknya. "Aku beli buku ini di kedai buku bekas," kata sang teman. Jika tak salah mengingat, si teman mengatakan ini dua tahun silam. Atau setahun dari pangkal waktu aku memulai pencarian: 2011.

Dari buku ini, tanda tanya memang memudar. Foto sosokmu yang terpampang jelas di sampul depan adalah asbab awal bagaimana tanda tanya itu pudar. Dan puisi-puisi di dalamnya, adalah asbab utama segala tanda tanya terjawab-habis-terbayar. Dua tahun itu, aku bergelut dengan buku kecilmu. Tapi kerap juga kucampakkannya begitu saja, ketika perut digaduhi aksi demonstrasi lambung sebab jatah kerja berat mereka secara tak sengaja korup oleh pasokan racun rokok dan cafein kopi. Tak ada asupan makanan seperti nasi, jagung, sagu atau ubi karenanya.

Don Pablo? Ah, aku jadi bernostalgia kembali ketika masyhuk menguliti Burung-burung Karibia atau Puerto Rico, Puerto Pobre-mu itu. Atau aku jadi tak ingin melupa lagi tentang diskusi singkat bersama sang teman tentang keberadaanmu berdasar tilikan atas esai-prosa Don Pablo, Dukacitaku ... Atau aku jadi merasa tak tahu diri, terhenyak dan malu sendiri ketika membuka kembali Epic Song malam tadi. Sekian tahun menguliti isi dalamannya, baru semalam aku sadar bahwa selama ini aku abai pada pengantar.

Aku tak tahu malu juga tak tahu diri. Aku malu denganmu, Don Pablo. Sekian jam aku terpana juga merana. Betapa kealpaan seperti itu telah menghilangkan rasa hormatku pada kematianmu. Hingga agar tak ingin larut dalam itu masalah, perasaan ini kutekan dalam-dalam dengan berbesar hati bahwa mengingat-ingat risalah Nabi -serupa risalah Daud, Sulaiman, Idris, Ilyasa, dan Luth- adalah kepentingan yang lebih Islami. Di sini, kuyakinkan diri sekali lagi: tak mengapa juga aku abai pada pengantar bukumu itu, asal tak abai pada risalah-risalah bernafas identitas keyakinanku.

Don Pablo, bukankah, selama hidupmu kau berjuang untuk merdekanya keyakinan semua orang? Aku pikir kau cukup maklum, walau tak seberapa mahfum. Maka untuk menebus keterabaianku di Epic Song yang magis itu, akan kukutip ulang tentang apa yang dikutip Saut Situmorang atas kesaksian suasana prosesi kematianmu itu. Kukutip lagi untuk mengenangmu kembali atau menata kembali kenanganku padamu yang masih belia ini!

[bersambung],

Popular Posts