Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2013

Menelusuri Makam Sultan Aceh Pewakaf Blang Padang Untuk Masjid Raya

Sabtu pagi, 2 Maret 2013, saya berkesempatan pergi ke sebuah makam yang terletak di Jl. Mohd. Jam Banda Aceh. Persis di belakang sebuah kedai kuliner, warung bakso Hendra Hendri. Menuju lokasi makam, kita harus melewati gang yang sama untuk masuk ke warung bakso Hendra Hendri. Setiba di sana, sebuah plat kira-kira seukuran 2x kertas A4 menempel di tembok pagar Kantor Departemen Agama Kota Banda Aceh. Plat itu terbuat dari kuningan dan tertulis keterangan dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Aceh, Inggris dan Indonesia. Dalam bahasa Aceh terbaca:
“Makam Poteu Jeumaloy” “Di sinoe makam Sultan Jamal ul-Alam Badr ul-Munir, Sultan Aceh Darussalam keuturunan Arab nyang mat keurajeuen bak thon 1703 – 1726 M.”
Beberapa referensi sejarah menulis namanya sebagai Sultan ke-20. Tapi ada juga yang menyebutnya sebagai Sultan ke-21 dari semua Sultan yang pernah memegang tampuk kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam. Sultan Jamalul Alam Badrul Munir merupakan nama lengkap sultan itu. Dia memerintah sejak tahun 1…

Abuwa Min, Sang Pahlawan Adipura

LALU-lalang kendaraan di Jalan Sudirman, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, tak menganggu lelaki tua itu, Rabu sore, 12 Juni 2013. Di depan sebuah musalla, di bawah sebatang pohon palem yang tumbuh di atas trotoar, ia mengaso. Ia duduk memanfaatkan beton trotoar sebagai alas.
Sebatang rokok daun nipah disulutnya. Matanya menerawang jauh, seperti menembus seliweran kendaraan bermotor yang dengan deru suaranya saja terasa memusingkan kepala. Tapi pria itu duduk santai seperti tak peduli. Tubuhnya yang kurus dibalut seragam warna orange. Ia memakai sepasang sandal jepit warna biru yang alasnya mulai menipis. Namun di balik kulitnya yang keriput, pria ini seperti menyimpan ketegasan dan wibawa.

Makna Sastra

Bermula jikalau engkau ditanyai orang kenapa sastra dibutuhkan dunia? Kau boleh jawab tidak semua realita, tidak semua fakta dan tidak semua berita bisa dimaknai dengan akal logika. Sebab, sungguh dunia ini penuh dengan tamsilan, perumpamaan, imaginary, dan lain sebagainya, hingga memungkinkan sastra itu ada. Namun, setelah kau jawab begitu rupa, dan seseorang menanyakan kembali rujukan mana jawaban itu punya pasal? 
Kau sebutlah, di zaman yang serba apatis ini, orang-orang tak lagi hidup sebab rujukan. Selama ia pernah menggunakan akal, otak serta hati dalam beberapa masalah dengan baik dan benar. Jika ditanyai kembali tentang standar baik dan benar. 
Kau tukas saja, "Baik dan benar adalah perilaku yang manakala ia dirujuk atau diteladani orang, para perujuk dijamin tak merasa berdosa, dan tak akan membuatnya gila sebagai bentuk penderitaan dunia." Maka jikalau engkau dicemoohi sebab jawaban yang tak dapat dipegang ini. Senyumlah dalam hati, sembari beranjak ke s…

Berita Tololnya Orang-orang NASA

Suatu kali, ketika di angkasa luar seorang astronot NASA dalam pesawat ulang-aliknya ingin menulis surat cinta untuk seorang kekasihnya yang tinggal di bumi. Sambil melayang-layang dengan seragam serupa robot itu, ia merogoh kocek. Diambilnya kertas, setelah pulpen sudah di tangan kiri. Ia torehkan kata-kata cinta yang tulus ikhlas dengan segenap hati. Tapi apa pasal. Angkasa luar bikin tinta beku. Pulpen tak fungsi, kata cinta tak bisa tertoreh di kertas. Petugas NASA keki. Hilang akal kecuali mengingat sekuat tenaga kejadian ini untuk disampaikan pada petinggi-petinggi penting sesampai di bumi. Agar kasus ini harus dilakukan penelitian agar di lain hari tak lagi terulang.

Singkat cerita, kejadian yang dikatakan oleh petugas yang baru saja kembali dari luar angkasa itu dicari penyelesaiannya dengan penelitian. Lantas disahkan penelitian tentang mencari tinta pena yang tidak buku di luar angkasa yang melibatkan puluhan ilmuwan dunia. Melibatkan anggaran milyaran dollar …