Skip to main content

(Ironisma) Taman Perdamaian Fadhlan Bachtiar

Uraian tali plastik disimpul sedemikian rupa membentuk sebuah jaring besar tertambat pada sebatang pohon angsana yang tumbuh persis di depan stan Jaroe (Jaringan Aneuk Rupa Nanggroe) di Taman Sari, area Piasan Seni Banda Aceh 2013. Jaring dari temali itu ditambatkan pada akar pohon yang timbul menjalar atas tanah.

Dalam rangkaian jaring, menempel sejumlah benda pada batang pohon yang daunnya cukup rindang. Diletakkan pada kursi yang dililit pita tiga warna; merah, kuning dan hijau, benda tersebut berupa sebidang triplek yang di atasnya memuat apel bertancap paku di sekujurnya, stik playstation, dan pisau dapur. Sementara pada tripleknya sendiri bergambar bintang daud berwarna biru khas bendera negara penjajah bangsa Palestina.  
Pita tiga warna juga melilit batang pohon. Menjadi semacam pengikat beberapa benda lain di batang berukuran pangkal paha orang dewasa. Ada compact disc, sampul buku sejarah, serta popok bayi dalam lilitan pita tersebut.

Rangkaian benda-benda itu adalah salah satu karya seni instalasi (seni mengontruksikan benda-benda tertentu yang dianggap merujuk pada suatu konteks makna tersendiri) Fadhlan Bachtiar seorang perupa muda Aceh yang tergabung dalam stan Jaroe, peserta Piasan Seni Banda Aceh 2013.


“Kami beri seni instalasi ini dengan nama Taman Perdamaian,” kata Fadhlan Bachtiar, pelaku seni di Jaringan Aneuk Rupa Nanggroe, sesaat setelah menyelesaikan penyusunan benda-bendanya tersebut.

Dari keterangan dan gaya kontruksi benda-benda yang terangkum dalam seni instalasi itu, Fadhlan seperti ingin mengingatkan bahwa perdamaian yang terkecap sekarang masih menyimpan seribu macam ironi di dalamnya. Ada kemungkinan-kemungkinan baru yang belum terungkap, namun itu bisa saja terjadi di luar jangkauan khalayak.

Apel menjadi simbol kemakmuran. Tapi tancapan paku di sekujur apel ini seperti ingin menandaskan bahwa tidak ada satu kemakmuran pun di dunia tanpa tumbal di dalamnya. Popok bayi melambangkan kebutuhan pokok modern untuk setiap yang sedang tumbuh. Untuk segala apa yang disebut pertumbuhan.

Tapi celakanya, dengan tali stick playstation terselip di dalamnya, kebutuhan ini menandakan bahwa pertumbuhan itu pun bisa di atur sebagaimana kemauan si pengatur. Dalam konteks kekinian bisa dibahasakan dengan: bisa diatur sesuai isi perut para pemilik modal.

Sementara pisau dapur mengartikan alat yang penuh manfaat, tapi pada tahap lain ia bisa membunuh. Tapi lihatlah wadah tempat apel, pisau, stick playstation, berupa sebidang triplek itu. Dengan lambang negara zionis tergambar di atasnya, Fadhlan seperti ingin menyuarakan kepada kita bahwa dunia sekarang ini dikontrol oleh satu kekuatan besar milik negara yang dipaksakan lahir di tanah Palestina.

“Adakalanya untuk menyuarakan suatu hal tragik pada khalayak, kita cukup menggunakan simbol-simbol. Dan kepekaan akan apa yang terjadi di sekitar kita adalah modal ketika mengeluarkan subjektivitas untuk bisa diterima oleh siapa saja,” kata Fadhlan atas hasil karyanya.

“Saya menamakan instalasi ini dengan Taman Perdamaian. Tapi dengan simbol-simbol yang saya gunakan tersebut, saya ingin menyuarakan bahwa perdamaian kita hari ini penuh dengan ironi,” katanya.

Bukan hanya itu saja, Fadhlan mengaku, ada unsur kesengajaan ketika ia memilih menancapkan paku di sekujur akar pohon sebagai suatu yang salah. Dan ia punya cukup alasan untuk itu.

“Saya sengaja memang. Kalau dilihat sama anak pecinta alam atau pecinta lingkugan, saya pasti dikomplain. Tapi di sini, kesengajaan ini saya maksudkan bahwa untuk berbuat kebenaran saja, kita kerap menggunakan cara-cara tak benar. Ini sama halnya seperti orang yang berniat menafkahi anak istri sebagai sebuah amalan yang dianjurkan agama, tapi cara mencari nafkahnya itu malah dengan berjudi atau korupsi,” terangnya dalam nada serius.

"Itu masih masalah dalam dunia rumah tangga saja ya. Tidak dengan masalah-masalah yang lain lagi. Maka bisa dibayangkan sendiri bagaimana yang terjadi di dunia maha luas ini," tambahnya lagi.

Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…