Skip to main content

Posts

Showing posts from 2014

Tentang Memperingati 10 Tahun Smong

Jum'at, 26 Desember 2014. Bangun pagi kudapati matahari cerah bersinar, setelah dalam dua minggu terakhir Banda Aceh dikepung mendung serta hujan tak henti-henti.

Ini hari bersejarah bagi orang Aceh. 10 tahun lalu, 26 Desember 2004, laut mengamuk. Gelombang yang biasanya membelai lembut sepanjang garis pantai Aceh yang indah, hari itu berubah menjadi momok maha besar, hitam, seperti naga kalap menghantam daratan berikut isinya. Ratusan ribu manusia meninggal dunia, dan tak terhitung harta benda hilang dalam sekejap mata. Sekonyong-konyong semuanya ambruk, tersuruk, seperti apa yang disebut Chairil dalam puisinya; "... guyah lemah/Sekali tetak tentu rebah ..."

Dunia menyebut amuk laut itu dengan nama tsunami. Dua suku kata dari bahasa Jepang; tsu (pelabuhan) dan nami (gelombang), yang secara bebas bisa diartikan gelombang besar di pelabuhan. Aceh punya nama sendiri untuk gelombang maha dahsyat ini; ie beuna dan smong. Ie Beuna didapat pada sebuah naskah pantun lama yang …

Kain Sigli, Memoar Dua Kota Dalam Puisi

Di Sigli aku kembali berbaur dengan orang-orang yang tak pernah jenuh berlama-lama di warung kopi. Satu kali dari mulut seorang pemuda yang penampilannya bisa ditebak iaa adalah mahasiswa, aku dengar nama Sarjani disebut-sebut. Nama Bupati Kabupaten Pidie usungan partai politik lokal, yang setelah kemenangannya dalam pilkada lelucon-lelucon seperti, "Kalau sudah ada Sarjani, untuk apa lagi sarjana," beredar dari mulut ke mulut.

"Sarjani maunya begini, tapi anak buahnya berlaku begitu. Atau sebaliknya. Maka beginilah kita di sini. Sigli berdenyut antara hidup dan mati," kata si pemuda sambil terbahak kepada temannya. Mendengar ocehan itu aku berpaling. Si pemuda terus berbicara dengan suara lantang tanpa menggubris orang lain. Bersama temannya ia membicarakan kota kelahirannya yang pasif.

Pandanganku masih tersangkut di wajah pemuda itu. Di sana kutemukan raut kenangan tentang Sigli yang ringkih. Yang terus berusaha beranjak-bangun dengan langkah tertatih. "Ka…

Geureugui, Memoar Sebilah Pantai Di Meureudu

Geureugui adalah binatang sejenis kepiting atau ketam dengan ukuran tubuh paling mini dari binatang sebangsanya. Mereka hidup di pantai dengan sarang berupa lubang kecil seukuran tubuhnya. Sarangnya terbilang unik, tapi sangat-sangat patut masuk dalam kategori artistik. Itu bisa kau buktikan dengan bola-bola kecil dari gumpalan pasir sisa korekan lubang Geureugui yang membentuk ornamen-ornamen berpola tertentu seperti bentuk bintang misalnya. Geureugui, dalam ilmu hewani dikenal dengan nama Uca untuk bahasa latinnya, dan termasuk dalam keluarga besar Ocypodidae.

Dulu, sewaktu diajak ayah tarek pukat (menarik pukat) di pantai yang letaknya tak jauh dari belakang rumah, Geureugui adalah teman main kami yang paling setia. Yang tak pernah bosan dan tak pernah mengenal penat berlarian ke sana kemari saat kami kejar hingga membuat kami tersengal-sengal. Atau pada waktu yang lain, ketika musim Bungkueh (teri nasi)tiba dan orang-orang di kampung kami menjaringnya dengan menggunakan kelambu, …

Catatan Akhir Kampus

Maka di kampuslah kau bisa menimbang-nimbang isi kepala yang kau punya. Argumen-argumen yang kau paparkan kerap pupus oleh aduan argumen lain dari seorang teman sekelas dan juga dosen. Di kampus pulalah kau bisa menyejajarkan bahu dengan orang-orang (banyaknya merasa diri) berwawasan luas, banyak baca buku, paham pelbagai teori, untuk kemudian kau keluar dari ruang kuliah dalam keadaan was-was. Kau mendapati diri antara mengerti atau tidak; bahwa teori-teori yang kau pahami selama ini tidak sesuai dengan kerangka kurikulum misalnya. Bahwa kurikulum telah cukup berhasil membantu teman-teman sekelas untuk mengungkungkan diri dalam teori-teori tinggi tapi tak pernah bisa membumi ketika kau terapkan di meja-meja kedai kopi.

Sabtu, 20 September 2014, pagi-pagi sekali aku bangun, mandi, pakai shampo, sabun, dan gosok gigi. Kemudian dengan gegas berpakaian rapi. Ada kelas di kampus yang mesti kuhadiri setelah dua tahun sebelumnya kutinggalkan begitu saja. Kupacu sepeda motor dari Emperom me…

Review Film The Bucket List

Sejatinya ini adalah film drama berkisah tentang bagaimana dua orang tua pesakitan menghabiskan waktu jelang ketibaan ajal masing-masing. Jelang tiba ajal sebab keduanya menderita kanker paru stadium akhir. 
Dua orang tua itu diperankan oleh aktor gaek hollywood, Jack Nicholson dan Morgan Freeman. Jack Nicholson memerankan seorang tua bangsawan, miliarder terkenal bernama Edward Perriman Cole. Punya sifat rada-rada angkuh dengan kepribadian “i’am the boss” dalam menghadapi semua bawahannya.  Edward adalah tipikal seorang borjuis modern yang menyukai segala hal yang serba wah, termasuk kopi yang digilainya tidak boleh lain kecuali Kopi Luwak.
Sementara Morgan Freeman berperan sebagai montir kulit hitam bernama Carter Chambers. Ia sosok sederhana. Tidak berlebihan secara materi, kecuali otaknya yang cukup cerdas. Berwawasan luas, ia pernah bermimpi menjadi seorang Professor sejarah. Tapi kandas sebab finansial hidup tak berpihak padanya, hingga sampai usia mencapai batas akhir sebab p…

Cara Gampang Mengelola Blog

"Jika ngeblog adalah sebuah pilihan. Maka bertanggung jawablah dengan itu pilihan. Seperti bagaimana bertanggung jawab dengan seorang istri setelah kau nikahi. Kau harus memberinya nafkah sehari-hari. Ngeblog begitu juga. Kau harus menafkahinya jika ingin disebut seorang yang bertanggung jawab. Jika tidak, ya tak usah tentukan pilihan."

Itulah opini yang saya bangun dalam pikiran untuk diri sendiri. Setelah memutuskan untuk belajar menjadi blogger, saya menekankan pada diri sendiri bahwa bertanggung jawab terhadap blog itu penting. Sepenting menafkahi seorang istri. Kira-kira begitulah.

Bertanggung jawab yang saya maksud di sini adalah dalam artian bagaimana mengelolanya agar blog kita eksis di mata dunia. Tidak semata-mata, setelah buat, lantas sudah. Terbengkalai tak menentu. Namun dalam mengelolanya, ada pentingnya juga untuk terlebih mengerti dulu dasar apa kita membuat sebuah blog. Intinya seperti ilustrasi gambar di atas. Ada banyak macam orientasi seseorang membuat …

Kita, Rindu Dan Kenangan Perih Masa Lalu

Ini malam tak berjadwal Kita lupa menggantung almanak di mana Kita abai bertukar kabar Tapi kita masih punya daya khayal Untuk sekadar menafsir sisa senyum bulan lalu Yang ujung-ujungnya, tanpa isyarat terlebih dahulu Kita ngakak, tertawa ber-hihi...hahaha

Sahur Di Aceh Pada Masa DOM dan Huzun-nya Orhan Pamuk

Dulu, sekira terhitung belasan tahun lalu, pernah kita merasakan suatu sahur yang payah. Sahur-sahur yang latah oleh sebab letus peluru. Kita menjalaninya dengan khusyu' sambil tak pernah lepas merapal do'a agar selamat hidup di dunia hingga mati dengan cara yang sewajar-wajarnya. Bukan mati di ujung moncong senjata. Bukan mati karena degup jantung berlebihan seusai disepak tulang kering dengan sepatu lars tentara. Sahur-sahur seperti itu adalah sahur yang tak pernah diterka oleh olah pikir siapa pun. Tak pernah juga diharapkan oleh benak seseorang yang benar-benar manusia.

Hadiah Ulang Tahun Untuk Putri

Putri, Selamat Ulang Tahun! Seperti tahun sebelumnya, lagi-lagi aku telat mengucapkannya. Dan lagi-lagi kau harus mengingatkanku dengan pesan singkat, bahwa 22 Mei adalah hari lahirmu. Maafkanlah.
Abangmu ini memang agak bermasalah dengan angka-angka. Pun angka almanak penting, termasuk tanggal hari lahirmu ini.Tahun ini usiamu bercokol di angka 19. Kau sudah gadis.

Kiat-kiat Mendirikan Bioskop Di Banda Aceh

Zaman sekarang, di tengah merebaknya berita-berita anarkis di hampir seluruh dunia, mulai dari serangan zionisla'natillahke Palestina, jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di Ukraina, kisruh hasil hitungan cepat Pilpres di seluruh Indonesia, sampai dipergoknya sepasang anak manusia non-muhrim yang diduga lagi khalwat di bulan puasa, mengemukakan ide pembangunan bioskop di Banda Aceh sama halnya seperti kataorang-orang tua di kampung, "Teungoh ta peu loet Leuek, ka tiek Mie lam geulanggang. That na teuh!" (Terjemahan sila lihat di keterangan paling bawah).

Piala Dunia: Antara Hambar Dan Candu

Tahun 1994 adalah tahun pertama sekali saya berkenalan dengan Piala Dunia. Itu tahun ketika saya masih benar-benar ingusan, penuh rengekan, yang selalu minta ikut Ayah atau Abang ketika mereka keluar rumah ingin menonton piala dunia. Itu tahun ketika ABRI sudah duluan masuk kampung tenimbang televisi. Maka tahun di mana menangis sejadi-jadinya adalah senjata paling ampuh saya agar boleh ikut nonton bola bersama Ayah atau Abang, televisi adalah barang mewah yang bisa dihitung jari dalam satu kampung. Beruntung, rumah saya berada di antara beberapa rumah tetangga mapan yang letaknya bisa ditempuh dalam tiga, empat kali tarikan nafas saja.

Kitab Omong Kosong, Buku Kalkulus, dan Bualan Dunia Kampus

Walau sekarang tak pernah mengaplikasikan lagi apa yang pernah saya terima di bangku kuliah, diakui atau tidak saya ini sarjana pendidikan matematika. Artinya sarjana pendidikan yang (entah) layak menjadi guru mata pelajaran matematika. Masuk tahun 2003, Maret 2009 dinyatakan lulus dari Jurusan Tadris Matematika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Sekarang telah berganti sebutan jadi UIN. Universitas Islam Negeri. Selama kuliah yang menghabiskan waktu di atas durasi tahun standar, banyak hal saya dapat di bangku kuliah. Salah satunya seperti yang akan saya ceritakan berikut. Cerita pengalaman bagaimana saya melewati mata kuliah Kalkulus yang bahasannya sangat memusingkan kepala orang-orang yang agak malas berurusan dengan angka-angka.

Mengoptimalkan Blog Itu Butuh Guru

Bahkan untuk sekadar makan atau mengisi perut pun, kita butuh guru. Ibu yang telah dengan sabar menyuapkan pisang wak (baca: makanan) semasa kita masih dalam gendongan adalah maha guru itu.

Apalagi setelah menjadi blogger seperti sekarang ini. Posisi guru dalam usaha mengoptimalkan blog yang sedang kita gawangi memang penting. Teramat penting malah. Seperti pentingnya teungku (ustadz) bagi santri yang ingin belajar nahu dan fiqh. Seperti pentingnya penghulu bagi sepasang pengantin yang ingin nikah. Tapi yang patut kita paham, guru itu aneka ragam. Ada guru jalanan, guru formal di ruang kelas, dan ada juga guru sebatas rujukan bacaan. Berhubungan dengan dunia blogging, google adalah alternatif sebenar-benarnya guru. Tapi bagi yang awam seperti saya ini, berguru kepada google saja tak cukup. 
Saya yang terlalu bloon hingga terkesan awam blogging, berguru kepada google saja sama seperti seorang santri magang yang ingin mendalami Kitab Al-Hikam-nya Syeikh Ibnu Athaillah yang masyhur itu.…

Memaksiatkan Bioskop Di Banda Aceh?

Kota tanpa bioskop sama halnya seperti rumah mewah tapi tak punya perabotan di ruang tamu. Tak ubahnya sebuah pasar besar tapi hanya menjual satu mata barang di semua toko. Kota tanpa bioskop, menurut istilah kami di Meureudu adalah kota yang bugam. Bakai meunan. Dan hari ini, Banda Aceh adalah kota paling representatif untuk menjabarkan kota bugam alias bakai tersebut. Adalah kota yang cocok dengan amsal rumah mewah tapi tak punya perabotan. Atau kota selayak pasar besar tapi barang-barang jualannya terlalu membosankan untuk diminati para pembeli.
Tapi layakkah Kota Banda Aceh direpresentasikan begitu rupa? Dulu tidak. Sekarang, iya. Layak. Dulu Banda Aceh punya bioskop, sekarang tidak. Maka jika sekali waktu orang luar datang dan menanyakan bioskop kepada kita, cukuplah kita saling mengingatkan sesama begini: "Jika engkau ditanyai orang adakah bioskop di kota syar'i ini? Jujur saja. Dulu ada, sekarang jangan tanya." Dan jika orang luar itu, masih juga menanyakan perih…

Surat 'Cinta' Tanpa Amplop Untuk Mbak Titiek Yang Cantik

Selamat sahur Mbak Titiek yang baik.  Salam sejahtera, semoga Mbak makin cantik dan sehat wal afiat saja. Sebelumnya banyak maaf dari saya sebab telah terlalu berani menulis sepucuk surat kepada Mbak, yang boleh jadi ketika saya tulis, Mbak sedang buang air besar di toilet kediamannya yang tentu saja mewah itu. Atau boleh jadi juga sedang lelap dan bermimpi nostalgia masa lalu tentang indahnya malam pertama, kedua dan seterusnya. 
Malam ini Banda Aceh sedang gerimis, entah bagaimana cuaca di Jakarta sana?  Tapi itu tak penting. Sebab, perihal saya tulis surat ini adalah untuk membicarakan perkara berkenaan sinyalemen rujuknya kembali Mbak Titiek dengan kandidat capres kita tahun ini, Prabowo Subianto. Itu saya dapat berdasar berita-berita yang berseliweran di banyak media akhir-akhir ini. Bahkan di Republika Online misalnya, ada berita yang mengabarkan rujuk Mbak Titiek dengan sang capres akan dihelat hari ini, dan tak tanggung-tanggung, rencana prosesinya akan disiarkan live di sala…

Golput Tahun 1999 dan Tidak Golput Pada Pilpres Sekarang

Jelang hari pencoblosan calon presiden negara yang entah benar-benar kita cintai ini, suhu politik makin memanas saja. Suhunya mengalahkan panasnya cuaca siang hari Kota Banda Aceh akhir-akhir ini. Juga mengalahkan panasnya persaingan negara-negara kontestan Piala Dunia di Brazil sana. Tidak di laman sosial, tidak di portal berita, atau bahkan di hampir semua area publik (bisa dipastikan berserak seluruh Indonesia), pelbagai bentuk dan atribut kampanye diumbar sedemikian rupa untuk menarik perhatian para pemilih. 
Tim pemenangan dua kubu capres dan cawapres yang naik, Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK, jelas-jelas 'berperang' demi memenangkan pertarungan sengit pada 9 Juli 2014 mendatang untuk penentuan arah jalan Indonesia lima tahun ke depan. Begitulah, perang ini telah menghabiskan banyak 'amunisi', juga telah menyita perhatian rakyat Indonesia dari segala unsur lapisan masyarakat. Baik artis, akademisi, pejabat pemerintah, juru kabar, guru PAUD, teungku rangkang, ulama, s…

Review Buku Melukis Islam Karya Kenneth M. Goerge

Baru sekilas saya baca buku ini: Melukis Islam; Amal dan Etika Seni Islam di Indonesia, karangan Kenneth M. George. Yaitu, membaca beberapa bahasan secara acak berdasar judul-judulnya yang ada di halaman daftar isi. Setelah membaca secara acak dan sekilas inilah saya berkesimpulan: Ini buku penting!
Telah lama saya mendengar nama A.D. Pirous. Tapi tentang seluk beluk profil ini orang, saya gelap sama sekali. Kecuali hanya tahu bahwa pribadi ini adalah sosok seniman rupa gaek Indonesia. Khususnya seni rupa islami berupa seni kaligrafi.

Namun dengan membaca buku terbitan Mizan dua tahun lalu ini, kegelapan saya tentang sosok A.D. Pirous jadi sedikit lebih terang dari sebelumnya. Dari buku ini, saya jadi tahu kampung asal seorang A.D. Pirous, proses kreatifnya, juga tentang pandangannya terhadap seni rupa Indonesia, baik dalam konteks seni itu sendiri, sosial, budaya, dan juga agama. Itu makanya alasan kenapa saya sebutkan buku ini adalah penting adanya. Penting bagi para seniman seni ru…

Ketika Lagu-lagu Protes Mulai Dinyanyikan

Dalam diskusi bertajuk Musik Aspirasi Sakti di Kemang Jakarta Selatan 24 April 2014 lalu, Sawung Jabo, musisi senior Indonesia, berujar "Apalah gunanya berkesenian kalau enggak sesuai dengan kenyataannya.” Menurutnya, Indonesia adalah negara bebas beropini, dan penyanyi enggak usah takut-takut mengangkat tema sosial dalam berkesenian.
Maka sebagai apresiasi terhadap beberapa penyanyi atau band yang ada di Aceh yang mengangkat tema sosial dalam berkeseniannya, tulisan ini hadir sekadar untuk menggenapi tulisan Muhajir Abdul Aziz dalam rubrik Apresiasi berjudul Seungkak Malam Seulanyan, Minggu, 27 April 2014 lalu.
Muhajir benar, “Melawan membutuhkan lagu. Aceh adalah tempat di mana perlawanan pernah dilakukan sekaligus lagu-lagu tentang itu dinyanyikan.” Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa lagu, syair, atau hikayat adalah ‘viagra’ bagi sebuah perlawanan.
Tapi sudah barang tentu isi lagu, syair, atau hikayatnya itu harus bertema tentang perlawanan pula. Sebab adalah mustahil ketika…

Perbedaan Kuda Prabowo dan Siamang BKSDA

Banyak sekali perbedaan antara kalian rupanya. Beda jenis, beda warna, beda suara, beda bentuk kelamin lagi.Perbedaan yang lain? Masih banyak. Tak habis dihitung dengan jari tangan, kecuali memakai hitungan kalkulator. Tapi perbedaan yang paling mencolok adalah kepemilikan dan tempat tinggal kalian tentu saja.

Jika Siamang ditangkap dari hutan terjauh belantara Aceh untuk kemudian dipaksa tinggal di kerangkeng Kantor BKSDA yang letaknya bersebelahan dengan rumahku. Kuda Prabowo lain lagi. Diberi nama Principe, konon katanya kuda ini diimpor seharga 3 milyar rupiah yang jika dikalkulasikan bisa membangun dua atau tiga bangunan kantor BKSDA lainnya berikut pelbagai perangkat yang dibutuhkan di dalamnya.

Lalu apa? Hubungan apakah dua binatang (ingat: Prabowo bukan ya) penuh perbedaan ini disanding dalam tulisan ini? Itu tidak lain mengacu kepada pernyataan Adian Napitupulu, politisi nyeleneh PDIP di sebuah acara talk show televisi swasta tanah air. Ketika ditanya sisi positif seorang P…

Review Buku Aceh Bak Mata Donya

ACEH DI MATA DUNIA adalah peunawa paling mujarab bagi yang pernah merasa malu terlahir sebagai orang Aceh. Sebab, telah santer terdengar dari mulut ke mulut atau dalam istilah khas kita, radio meu igoe, bahwa banyak orang-orang kita yang enggan mengakui keacehannya karena telah dengan sepihak menyerap prasangka-prasangka buruk tentang tanah airnya sendiri. Ini sering terjadi pada masa ketika bedil masih kerap menyalak di hampir seisi Aceh. 
Bagi orang-orang seperti itu, yang ketika zaman damai ingin menanggalkan 'kemaluannya' untuk bisa kembali menyatu dalam komunal besar masyarakat Aceh, buku ini adalah buku paling wajib dijadikan referensi. Setidaknya saat aksi peu aceh-aceh droe keulayi, ia punya cukup pengetahuan yang bisa membuat orang awam mengangguk-angguk paham.

Ini bisa dikatakan, bahwa dasar pemikiran orang Aceh dalam berkehidupan selalu bersandar pada hal-hal yang bersifat keagamaan dan akar sejarah yang tak pernah lekang dari ingatan. Menguasai salah satunya atau…

Bersoal Maaf Buat Seorang Prabowo

Persoalan minta maaf adalah lumrah. Manusia tak jauh-jauh dari kata khilaf. Sudah fitrahnya begitu. Tak jauh-jauh dari pelbagai perbuatan salah, yang di kemudian hari lumrah juga ia tobat. Insaf, lantas minta maaf. Selanjutnya, adalah manusiawi pula jika orang yang dimintamaafi tak menggubris sama sekali. Tak memaafkan walau si peminta maaf telah jauh-jauh datang untuk hajat pertobatan, oleh sebab-sebab tertentu yang jika diungkapkan satu-satu akan semakin memanjangkan kalimat ini.
Tapi ihwal permintaan maaf seorang Prabowo Subianto tanggal 12 Maret 2014 lalu, adalah permintaan maaf dalam bentuk lain. Boleh dikatakan permintaan maaf paling politis sepanjang tahun. Kenapa dikatakan seperti itu? Semua orang tahu, bahwa Aceh yang pernah banjir darah beberapa tahun silam tidak jauh dari campur tangannya Prabowo selaku Danjen Kopasus saat itu.
Tanpa harus menjabarkan bagaimana aksi para tentara pada masa lalu di bawah komando sosok tambun yang telah meminta maaf itu, persoal…

Kagumnya Alphonse de Lamartine Terhadap Pribadi Nabi Muhammad

Alphonse Marie Louis de Prat de Lamartine nama lengkapnya. Adalah politikus cum budayawan cum sastrawan kawakan dunia, yang lahir pada 21 Oktober 1790 di Macon, Burgundy, Prancis. Terlahir di kalangan ningrat, orang besar ini telah menghasilkan banyak karya sastra yang telah diterjemahkan dalam pelbagai bahasa dunia. Tapi di samping karya-karya monumentalnya seperti Meditation Poetiques (1820), tahun 1854 de Lamartine yang meninggal pada 28 Februari1869 menulis sebuah risalah sejarah berjudul Histoire de la Turquie (Sejarah Turki). Di buku inilah seorang tokoh besar Prancis ini mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Muhammad رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Sebagaimana dikutip Raghib As Sirjani, dalam karya tersebut, de Lamartine menulis: "Apabila parameter untuk menyebut manusia genius dengan merujuk kriteria; talenta hebat, minim sarana, tapi punya hasil spektakuler, lalu adakah manusia genius dalam sejarah kemanusiaan kontemporer yang mampu mengungguli kegeniusan Muhammad? …

Aduh Subuh –mengenang sejarah–

Sementara, kami telah melewati banyak subuh di sini. Ribuan subuh yang cekam oleh amuk perang. Hingga kami menamakannya dalam hati: subuh penuh peluh. Tapi kami melewatinya senantiasa. Sambil berpura-pura gembira seperti tidak pernah terjadi apa-apa. 

Tahun 90-an, Subuh; bagi kami adalah pertanda agar liang mesti siap dibuka. Akan ada tubuh diliput subuh. Tak berpeluh, hanya darah yang membasuh. Dan kami, dengan sigap merangkai kafan sambil saling sembunyi badan. Sebab di balik subuh, ada intai tak bertubuh oleh mata yang tak pernah utuh. Inilah resiko kerja kifayah, kata imum meunasah. 
Sementara, kami telah melewati banyak subuh di sini. Subuh yang kerap kabur oleh banyaknya jerit mengaduh. Hingga, ketika jam malam berangsur usai, kami berteriak serempak: Aduh subuh! Tapi kami melewatinya dengan rona muka biasa. Sambil berpura-pura gembira seperti baru saja ditraktir makan mertua kaya.

Awal 2000-an,
Subuh; tak lebih sama. Dua, tiga, atau tujuh tetua sudah kembali berjama’ah seperti dul…

Kiat-kiat Meloloskan Diri Dari Cengkraman Kampus

Waktu yang paling kunikmati semasa duduk di bangku kuliahan adalah ketika sang dosen sibuk berorasi di depan kelas menjelaskan pokok bahasan dengan intonasi dan gaya berapi-api. Istilah-istilah dari pelbagai teori keluar dari mulutnya, masuk menyentuh gendang telinga, yang untuk kemudian kutangkap dengan seksama dalam ratusan goresan pena di kertas catatan. Kelak, ketika masa ujian telah di ambang mata, setiap goresan yang membentuk objek-objek tak bernama kumaknai kembali sambil berpura-pura mengerti tentang aneka ragam teorema berikut rumus-rumus penyelesaiannya. 
Lantas kuhadapi ujian bak seorang jagoan, layaknya seorang pecinta buku, dengan tenang. Seolah-olah lembar jawaban atas tanggungan soal-soal yang baru saja disebarkan adalah kanvas gratis untuk segera dibubuhi makna dari rasa sok tahu tinggi yang tak jarang pula berpadu dengan macam-macam rupa imajinasi. 
Akhirnya, tiba pula saat hasil ujian ditempelkan di papan pengumuman, dan nilaiku tetap baik-baik saja sebagaimana yan…

Bengalnya Aksi Panggung Amroe & Pane Band

Menikmati acara live musik, bagi orang muda atau bagi orang tua yang masih berjiwa muda, aksi panggung si pemusik adalah pemikat utama di samping mutu musik yang dibawakannya. Layaknya susuk bagi perempuan yang ingin memikat lawan jenis, aksi panggung menjadi wajib bagi si pemusik untuk menarik perhatian publik.

Bicara aksi panggung pemusik di Aceh setahunan terakhir, lupakan sejenak Banta Yan, Rafly, Moritza, Imum John, atau Seuramoe Reggae sekalipun. Kenapa? Karena Amroe & Pane Band hadir dengan gayanya yang beda. Kalau tak percaya, sila lihat sendiri dalam video di atas. Tinggal klik, lantas dengar dan nikmatilah bagaimana band baru itu beraksi.

Tak ada catatan resmi tentang band ini sebenarnya. Kecuali yang kutahu sang vokalis, yang dalam aksi panggungnya selalu tampak heboh, bernama Zulfan Amroe, komposisi biodata pemusik dalam band ini pun terasa agak minim. Kupikir hal ini lazim, sebab Amroe & Pane Band sendiri bisa dikatakan sebagai pendatang baru di blantika musik…

Foto-foto Paska Kebakaran Pasar Meureudu September 2013 Lalu

Meureudu, satu kota kecamatan yang kemudian menjadi ibukota Kabupaten Pidie Jaya, setelah Kabupaten Pidie (entah) membelah diri dan melepas sebagian wilayah timurnya. Berjarak sekitar 160 km dari Kota Banda Aceh, kota kecil ini bisa ditempuh sekira 3 jam perjalanan darat dengan mobil penumpang L.300 atau sekitar 10 sampai 12 jam jika jalan daratnya disusur dengan kereta angin. Kota kecil yang berada tak jauh dari bantaran Krueng Meureudu ini pernah mengalami kebakaran besar pada September 2013 lalu. Tepatnya pada Selasa dini hari tanggal 17 September 2013. Sebanyak 24 ruko ludes dilalap api, yang penyebabnya sampai postingan ini dipublis masih masuk dalam kategori misteri. Kerugian mencapai miliaran rupiah menurut para korban yang sebagian besarnya langsung mencibir jika disinggung persoalan bantuan. Foto ini diambil sehari setelah kejadian, pukul 12.33 siang di mana kamera yang dipakai adalah kamera bawaan sepotong handphone merk Nokia type 5230 yang resolusinya tak lebih dari 2,0 a…