Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2014

Belajar Menggambar Di Pascasarjana [Tips Mengikuti Mata Kuliah S2]

Melihat objek gambar di atas, mungkin sama sekali tidak termasuk dalam kategori gambar atau lukisan. Ini tak jadi soal bagi saya. Sebab yang teringat ketika mata pena tergurat dalam lembaran kertas adalah bagaimana melepas limbah energi bosan dan suntuk keluar dari kepala. Yaitu enyah segera untuk kemudian diganti dengan perasaan santai, tanpa beban. Sesantai pikiran yang bebas dari tugas mencerna isi makalah satu matakuliah yang rujukan analisanya sangat-sangat membingungkan untuk dimaknai akal logika. Kata membingungkan tadi sengaja saya pakai untuk mengganti kata menjengkelkan. Jujurnya memang seperti itu. 
Oya, di Pascasarjana (sepengalaman saya), kau tak harus belajar tasawuf, ilmu nahu, mantiq atau ilmu filsafat sekalipun. Di kelas, kau cukup belajar menggambar sambil sesekali melirik teman-teman sekelas berikut menoleh sang dosen seraya sering-sering menyungging senyum. Lirikan yang kumaksud tak lain bisa kau artikan dengan membaca peta isi kepala atau membaca suasana lebih te…

Belajar Menggambar

Pertanyaan pertama sebelum belajar menggambar mulai, barangkali begini: Untuk apa menggambar? Atau boleh jadi juga, samakah menggambar itu dengan bercinta? Dalam postingan ini, saya tak berkeinginan menjawabnya karena saya memang tahu jawabannya apa. Kenapa sampai tak tahu menjawab? Jawabannya: tak tahu. Maaf.
Menggambar bagi saya hanyalah bersoal bagaimana memanfaatkan ruang yang kosong untuk dipenuhi dengan pelbagai objek. Boleh objek ghaib, semi ghaib, atau objek yang tak bisa disebut objek sekalipun. Bingung? Sama. Saya juga bingung. 
Definisi menggambar bagi saya adalah bagaimana mencurahkan sengkarut saraf imajinatif dalam kepala menjadi pelbagai bentuk guratan mata pena. Boleh juga mata kuas, mata pensil, dan sangat tidak boleh digurat dengan mata telanjang. Tidak mungkin soalnya. Kemudian itu guratan bisa dinikmati secara kasat mata walau pada tahapan berikutnya banyak orang mesti menggunakan alat bantu serupa ilmu nujum untuk mendalami maknanya. 
Namun hal yang paling mendas…

Pada Binar Dua Bola Mata

*:annisa ulfitra

Adakalanya kita terjerembab kalah saat ingin menerka binar dua bola mata. Adakalanya pula kenangan kita jungkal belasan tahun silam saat nanar dua bola matanya menatap dalam, menoleh tajam. Sampai di sini, kita jauh lebih mengerti bahwa tak ada anak yang tak mewarisi tetek bengek orang tuanya.

Maka malam ini, kita mengaku kalah. Terjerembab-jungkal saat hening yang kesekian kali hadir tatkala tanya terpaksa terucap lidah, sementara jawaban yang ada adalah hening itu sendiri. Hening yang sekonyong datang menunggang nanar dua bola mata diapit dua pipi merah jambu. Sendu yang membuat enyuh hati, lantas pilu.

Kita ingat seorang bijak berucap; "Kenangan silam adalah sejarah." Tapi mengungkit sejarah luka dari binarnya dua bola mata adalah serupa laku kutuk yang dengan sengaja meniup pelita di tengah kelamnya malam, di tengah pikiran yang menghitam.

Akhirnya, pada binar dua bola mata pula, kita berusaha meyakinkan diri bahwa sejarah luka memang patut diungkit ses…

Begini Cerita Buruh Di Mulut Pemodal

Malam ini bulan tak jadi membola. Seperti dua atau empat pekan lalu dimana mendung masih saja mewujud-nyata. Banda Aceh tak serta merta gigil walau angin berkesiur acak dan usil. Di beranda kantor yang baru menyelesaikan pajak tahunan perusahaannya, dua orang besar bertukar cakap. 

“Benarkah harapan pupus oleh sebab gaji yang belum mengada?”

“Nafas manusia tetap menguar karena kata harapan ada dalam kamus semua bahasa mereka. Makna agama akhirnya menuju ke kata harapan juga. Orang shalat berharap masuk surga contohnya.” 

“Tapi membuat utuh hati buruh yang telah keping cukup menguras tenaga.”

“Benar. Tapi di situlah bulan yang membola menunjukkan fungsi aslinya. Kita pakai jari telunjuk. Kita menunjuk. Menuding istilah kasarnya. Bahwa saat bulan yang membola dibalut mendung, tak ada jalan lain kecuali menggantung harap serta sama-sama menghalaunya, seiya sekata. Jika suatu kali mereka bimbang, bisa kita katakan almanak dan bulan tetap saja membawa harapan. Kesanalah kita sama-sama bermuara…

Menggenapkan Bandit Lokal Versi Idrus bin Harun

Idrus, torehan soalan bandit di blog-mu itu telah menggugahku untuk berolah pikir menulis hal yang sama juga di sini. Jika bandit yang kau ulas adalah produk lokal, saya kepincut mengulas bandit interlokal. Biar jadi sepasang maksudnya.

Sebab, keberadaan bandit lokal seorang diri, kerap dianggap ganjil dalam dunia; entah hitam atau putih? Hingga oleh alam sendiri atau secara alami kesendiriannya akan digenapkan dengan kedatangan bandit interlokal. Apakah itu kebetulan atau memang telah direncanakan sama sekali tak penting. Lagi pun, mempercayakan kemampuan yang lokalan akhir-akhir ini tak ubahnya seperti mempercayakan suatu pekerjaan kepada seorang amatiran yang tidak pernah mengerti pokok persoalan.

Adalah benar bandit lokal seperti yang kau sebutkan itu tidak hanya berpenampilan ala koboi sebagaimana lazim kita tonton di film-film hollywood. Dan begitu juga halnya dengan bandit interlokal. Jangan harap akan menemukan bandit interlokal berwajah garang, raut beringas dipadu penampila…

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…