Belajar Menggambar Di Pascasarjana [Tips Mengikuti Mata Kuliah S2]

Judul. Menghias Cover Makalah, kertas A4, pulpen belang-belang itu.
Melihat objek gambar di atas, mungkin sama sekali tidak termasuk dalam kategori gambar atau lukisan. Ini tak jadi soal bagi saya. Sebab yang teringat ketika mata pena tergurat dalam lembaran kertas adalah bagaimana melepas limbah energi bosan dan suntuk keluar dari kepala. Yaitu enyah segera untuk kemudian diganti dengan perasaan santai, tanpa beban. Sesantai pikiran yang bebas dari tugas mencerna isi makalah satu matakuliah yang rujukan analisanya sangat-sangat membingungkan untuk dimaknai akal logika. Kata membingungkan tadi sengaja saya pakai untuk mengganti kata menjengkelkan. Jujurnya memang seperti itu. 

Oya, di Pascasarjana (sepengalaman saya), kau tak harus belajar tasawuf, ilmu nahu, mantiq atau ilmu filsafat sekalipun. Di kelas, kau cukup belajar menggambar sambil sesekali melirik teman-teman sekelas berikut menoleh sang dosen seraya sering-sering menyungging senyum. Lirikan yang kumaksud tak lain bisa kau artikan dengan membaca peta isi kepala atau membaca suasana lebih tepatnya. Dan ini penting. 

Penting? Iya. Memang penting. Ketika suasana sudah terbaca dengan seksama, kau tahu kapan waktunya bertanya, menyela, dan tahu kapan waktunya menganggukkan kepala. Bahkan jika sudah mahir membaca suasana, kau akan benar-benar tahu kapan waktu paling tepat untuk memejamkan mata. Selanjutnya, persoalannya hanya berkutat tentang bagaimana kau bernafas teratur agar tak keluar itu bunyi dengkur.[]

Popular Posts