Kiat-kiat Meloloskan Diri Dari Cengkraman Kampus

Waktu yang paling kunikmati semasa duduk di bangku kuliahan adalah ketika sang dosen sibuk berorasi di depan kelas menjelaskan pokok bahasan dengan intonasi dan gaya berapi-api. Istilah-istilah dari pelbagai teori keluar dari mulutnya, masuk menyentuh gendang telinga, yang untuk kemudian kutangkap dengan seksama dalam ratusan goresan pena di kertas catatan. Kelak, ketika masa ujian telah di ambang mata, setiap goresan yang membentuk objek-objek tak bernama kumaknai kembali sambil berpura-pura mengerti tentang aneka ragam teorema berikut rumus-rumus penyelesaiannya. 

Lantas kuhadapi ujian bak seorang jagoan, layaknya seorang pecinta buku, dengan tenang. Seolah-olah lembar jawaban atas tanggungan soal-soal yang baru saja disebarkan adalah kanvas gratis untuk segera dibubuhi makna dari rasa sok tahu tinggi yang tak jarang pula berpadu dengan macam-macam rupa imajinasi. 

Akhirnya, tiba pula saat hasil ujian ditempelkan di papan pengumuman, dan nilaiku tetap baik-baik saja sebagaimana yang diharapkan dua orangtua. Tapi perihal paling jujur yang mesti kuutarakan saat masih berstatus mahasiswa adalah menghabiskan pagi di kasur lusuh kamar kostan sampai tak bersisa, tak berampas, puas dan pulas hingga jelang petang hari. Tapi nilaiku masih juga baik-baik saja, kecuali ketika transkrip direkap ulang berkali-kali, huruf D dan E bertaburan di sana-sini. 

Kata Roem Topatimasang, "Sekolah itu candu!" Kataku, "Kuliah tidak begitu. Sama sekali bukan candu, sebab untuk menyelesaikannya kau hanya perlu sedikit tahu ilmu tipu menipu. Setidaknya tahu cara menipu dosen bahwa telah berulang kali kau khatamkan banyak buku. Selebihnya kau dianjurkan untuk benar-benar sok tahu, di samping perlu juga kau hafal beberapa kata istilah. Ini penting agar gaya ungkap kau dianggap intelek, penuh prospek. Jika hal ini belum juga kau mengerti, ada baiknya kau kuntit sales asuransi mulai esok pagi."[]

Popular Posts