Skip to main content

Kiat-kiat Meloloskan Diri Dari Cengkraman Kampus

Waktu yang paling kunikmati semasa duduk di bangku kuliahan adalah ketika sang dosen sibuk berorasi di depan kelas menjelaskan pokok bahasan dengan intonasi dan gaya berapi-api. Istilah-istilah dari pelbagai teori keluar dari mulutnya, masuk menyentuh gendang telinga, yang untuk kemudian kutangkap dengan seksama dalam ratusan goresan pena di kertas catatan. Kelak, ketika masa ujian telah di ambang mata, setiap goresan yang membentuk objek-objek tak bernama kumaknai kembali sambil berpura-pura mengerti tentang aneka ragam teorema berikut rumus-rumus penyelesaiannya. 

Lantas kuhadapi ujian bak seorang jagoan, layaknya seorang pecinta buku, dengan tenang. Seolah-olah lembar jawaban atas tanggungan soal-soal yang baru saja disebarkan adalah kanvas gratis untuk segera dibubuhi makna dari rasa sok tahu tinggi yang tak jarang pula berpadu dengan macam-macam rupa imajinasi. 

Akhirnya, tiba pula saat hasil ujian ditempelkan di papan pengumuman, dan nilaiku tetap baik-baik saja sebagaimana yang diharapkan dua orangtua. Tapi perihal paling jujur yang mesti kuutarakan saat masih berstatus mahasiswa adalah menghabiskan pagi di kasur lusuh kamar kostan sampai tak bersisa, tak berampas, puas dan pulas hingga jelang petang hari. Tapi nilaiku masih juga baik-baik saja, kecuali ketika transkrip direkap ulang berkali-kali, huruf D dan E bertaburan di sana-sini. 

Kata Roem Topatimasang, "Sekolah itu candu!" Kataku, "Kuliah tidak begitu. Sama sekali bukan candu, sebab untuk menyelesaikannya kau hanya perlu sedikit tahu ilmu tipu menipu. Setidaknya tahu cara menipu dosen bahwa telah berulang kali kau khatamkan banyak buku. Selebihnya kau dianjurkan untuk benar-benar sok tahu, di samping perlu juga kau hafal beberapa kata istilah. Ini penting agar gaya ungkap kau dianggap intelek, penuh prospek. Jika hal ini belum juga kau mengerti, ada baiknya kau kuntit sales asuransi mulai esok pagi."[]

Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…