Review Buku Aceh Bak Mata Donya

ACEH DI MATA DUNIA adalah peunawa paling mujarab bagi yang pernah merasa malu terlahir sebagai orang Aceh. Sebab, telah santer terdengar dari mulut ke mulut atau dalam istilah khas kita, radio meu igoe, bahwa banyak orang-orang kita yang enggan mengakui keacehannya karena telah dengan sepihak menyerap prasangka-prasangka buruk tentang tanah airnya sendiri. Ini sering terjadi pada masa ketika bedil masih kerap menyalak di hampir seisi Aceh. 

Bagi orang-orang seperti itu, yang ketika zaman damai ingin menanggalkan 'kemaluannya' untuk bisa kembali menyatu dalam komunal besar masyarakat Aceh, buku ini adalah buku paling wajib dijadikan referensi. Setidaknya saat aksi peu aceh-aceh droe keulayi, ia punya cukup pengetahuan yang bisa membuat orang awam mengangguk-angguk paham.

Ini bisa dikatakan, bahwa dasar pemikiran orang Aceh dalam berkehidupan selalu bersandar pada hal-hal yang bersifat keagamaan dan akar sejarah yang tak pernah lekang dari ingatan. Menguasai salah satunya atau malah keduanya secara bersamaan menjadi modal termurah untuk bisa berbaur dengan masyarakat kebanyakan. Karena perihal yang paling tak bisa dimaafkan dalam kehidupan masyarakat kita adalah sifat kacang lupa kulitnya atau seperti leumo lheueh jipeuteungoh lam mon.

Di lain pihak, dengan mengenyampingkan menjadi perkakas terbaik bagi orang yang insaf dari prasangka buruk tentang negerinya sendiri, buku ini tak ubahnya makanan bergizi yang lengkap dengan vitamin dalam menguatkan identitas keacehan bagi semua generasi. Atau bagi generasi yang sama sekali tak tahu dari mana ia punya asal, mempelajari buku ini umpama belajar membaca aleh ba atau abu tausi, jai ha khu dau dzi ... ketika seseorang ingin mahir membaca Kitab Suci.

Tapi dari semua perumpamaan yang tercatat di atas, Teungku Hasan M. di Tiro, telah mengemukakan bahwa risalah penting yang telah ditulisnya ini, "Sebagai sebuah jembatan yang bisa menghubungkan masa lalu dengan masa depan sebagai sambungan dari tali hubungan yang telah putus, agar generasi Aceh kini mengerti dan paham seperti apa negara yang sudah dibangun dan dipertahankan oleh nenek moyangnya dulu. Seperti apa kemuliaan yang sudah diraih dan bagaimana Aceh diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain di muka bumi.
...
Dengan mengetahui seperti apa "Aceh di Mata Dunia" dan seperti apa bangsa-bangsa lain di seluruh dunia melihat bangsa Aceh, maka pengetahuan ini menjadi satu solusi bagi kita generasi Aceh kini untuk melihat dan memandang dirinya sebagai sebuah bangsa yang mulia sehingga tahu bagaimana mencapai hidup mulia dan mati terhormat dalam mempertahankan harga diri bangsa. Begitu juga, Aceh bisa membangun kembali apa yang sudah hancur dan mengembalikan kembali apa yang sudah hilang." (Lihat, Pengantar Penulis, hal 6-8)

Terakhir bisa dibayangkan, lepas khatam membaca buku ini suatu perasaan lain akan timbul dari pikiran dan hati. Di mana untuk menjabarkan perasaan itu seseorang akan spontan menguraikannya dengan memakai istilah-istilah politis yang ujung-ujungnya -disengaja atau tidak- akan bersinggungan dengan soalan-soalan ideologis.[]

Popular Posts