Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2014

Review Buku Melukis Islam Karya Kenneth M. Goerge

Baru sekilas saya baca buku ini: Melukis Islam; Amal dan Etika Seni Islam di Indonesia, karangan Kenneth M. George. Yaitu, membaca beberapa bahasan secara acak berdasar judul-judulnya yang ada di halaman daftar isi. Setelah membaca secara acak dan sekilas inilah saya berkesimpulan: Ini buku penting!
Telah lama saya mendengar nama A.D. Pirous. Tapi tentang seluk beluk profil ini orang, saya gelap sama sekali. Kecuali hanya tahu bahwa pribadi ini adalah sosok seniman rupa gaek Indonesia. Khususnya seni rupa islami berupa seni kaligrafi.

Namun dengan membaca buku terbitan Mizan dua tahun lalu ini, kegelapan saya tentang sosok A.D. Pirous jadi sedikit lebih terang dari sebelumnya. Dari buku ini, saya jadi tahu kampung asal seorang A.D. Pirous, proses kreatifnya, juga tentang pandangannya terhadap seni rupa Indonesia, baik dalam konteks seni itu sendiri, sosial, budaya, dan juga agama. Itu makanya alasan kenapa saya sebutkan buku ini adalah penting adanya. Penting bagi para seniman seni ru…

Ketika Lagu-lagu Protes Mulai Dinyanyikan

Dalam diskusi bertajuk Musik Aspirasi Sakti di Kemang Jakarta Selatan 24 April 2014 lalu, Sawung Jabo, musisi senior Indonesia, berujar "Apalah gunanya berkesenian kalau enggak sesuai dengan kenyataannya.” Menurutnya, Indonesia adalah negara bebas beropini, dan penyanyi enggak usah takut-takut mengangkat tema sosial dalam berkesenian.
Maka sebagai apresiasi terhadap beberapa penyanyi atau band yang ada di Aceh yang mengangkat tema sosial dalam berkeseniannya, tulisan ini hadir sekadar untuk menggenapi tulisan Muhajir Abdul Aziz dalam rubrik Apresiasi berjudul Seungkak Malam Seulanyan, Minggu, 27 April 2014 lalu.
Muhajir benar, “Melawan membutuhkan lagu. Aceh adalah tempat di mana perlawanan pernah dilakukan sekaligus lagu-lagu tentang itu dinyanyikan.” Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa lagu, syair, atau hikayat adalah ‘viagra’ bagi sebuah perlawanan.
Tapi sudah barang tentu isi lagu, syair, atau hikayatnya itu harus bertema tentang perlawanan pula. Sebab adalah mustahil ketika…

Perbedaan Kuda Prabowo dan Siamang BKSDA

Banyak sekali perbedaan antara kalian rupanya. Beda jenis, beda warna, beda suara, beda bentuk kelamin lagi.Perbedaan yang lain? Masih banyak. Tak habis dihitung dengan jari tangan, kecuali memakai hitungan kalkulator. Tapi perbedaan yang paling mencolok adalah kepemilikan dan tempat tinggal kalian tentu saja.

Jika Siamang ditangkap dari hutan terjauh belantara Aceh untuk kemudian dipaksa tinggal di kerangkeng Kantor BKSDA yang letaknya bersebelahan dengan rumahku. Kuda Prabowo lain lagi. Diberi nama Principe, konon katanya kuda ini diimpor seharga 3 milyar rupiah yang jika dikalkulasikan bisa membangun dua atau tiga bangunan kantor BKSDA lainnya berikut pelbagai perangkat yang dibutuhkan di dalamnya.

Lalu apa? Hubungan apakah dua binatang (ingat: Prabowo bukan ya) penuh perbedaan ini disanding dalam tulisan ini? Itu tidak lain mengacu kepada pernyataan Adian Napitupulu, politisi nyeleneh PDIP di sebuah acara talk show televisi swasta tanah air. Ketika ditanya sisi positif seorang P…