Ketika Lagu-lagu Protes Mulai Dinyanyikan




Dalam diskusi bertajuk Musik Aspirasi Sakti di Kemang Jakarta Selatan 24 April 2014 lalu, Sawung Jabo, musisi senior Indonesia, berujar "Apalah gunanya berkesenian kalau enggak sesuai dengan kenyataannya.” Menurutnya, Indonesia adalah negara bebas beropini, dan penyanyi enggak usah takut-takut mengangkat tema sosial dalam berkesenian.

Maka sebagai apresiasi terhadap beberapa penyanyi atau band yang ada di Aceh yang mengangkat tema sosial dalam berkeseniannya, tulisan ini hadir sekadar untuk menggenapi tulisan Muhajir Abdul Aziz dalam rubrik Apresiasi berjudul Seungkak Malam Seulanyan, Minggu, 27 April 2014 lalu.

Muhajir benar, “Melawan membutuhkan lagu. Aceh adalah tempat di mana perlawanan pernah dilakukan sekaligus lagu-lagu tentang itu dinyanyikan.” Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa lagu, syair, atau hikayat adalah ‘viagra’ bagi sebuah perlawanan.

Tapi sudah barang tentu isi lagu, syair, atau hikayatnya itu harus bertema tentang perlawanan pula. Sebab adalah mustahil ketika genderang perang perlawanan ditabuh, lirik serupa “Meuheut hate nyoe jak saweu dinda. Peukeuh gata mantoeng sidroe. Peukeuh adoe mantong setia. Oh.....Dek Safira,” dinyanyikan massal dengan maksud menaikkan semangat perlawanan. Ini jelas-jelas tak mungkin, tentu saja.

Pertanyaannya, Aceh sudah sejak 2005 damai, tapi kenapa masih ada perlawanan? Di sinilah uniknya ini daerah yang berjuluk Serambi Mekkah. Perlawanan tak pernah berhenti ketika ketidakadilan dan segenap keluarganya masih merajalela dalam kehidupan masyarakat. Dan orang Aceh, barangkali, sudah dari sononya begini. Selalu ambil bagian untuk melawan.
Jika semasa konflik, perlawanan bersenjata terasa gencar dilakukan dengan musuh utama adalah ketidakadilan Jakarta (Pemerintah Pusat). Musuh perlawanan sekarang lain lagi. Sebab setelah damai 2005 hingga sekarang, laku politik, fakta bahwa masyarakat belum merasakan keadilan, kesejahteraan jauh di depan mata, dan tindak kekerasan masih kerap terjadi adalah bukti Aceh belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Dan untuk memperoleh kedamaian ini, sebagaimana pengalaman yang sudah-sudah, perlawanan tetap harus dilakukan.

Bedanya, kalau perlawanan dengan Jakarta dilakukan dengan naik gunung dan angkat senjata, perlawanan atas ketimpangan sosial sekarang dilakukan dengan media lain. Seni musik salah satu alternatifnya. Lirik-lirik lagu Seungkak Malam Seulanyan, sebagaimana telah diulas Muhajir sebelumnya adalah bentuk perlawanan melalui seni yang di maksud. 

Tapi Seungkak Malam Seulanyan tidak sendirian dalam aksi ini. Pasalnya, kelompok musik bernama Amroe & Pane Band, sebuah band indie yang setahun sebelumnya telah mengeluarkan album berjudul Eh Malam Gam, juga turut ambil bagian dalam melawan. Lagu berjudul Piyoh Pajoh Peng Kamoe (P3K), yang telah dinyanyikan dalam berbagai acara seni di Banda Aceh dan telah diunggah dalam laman youtube, adalah perihal kenapa band ini harus masuk dalam lingkungan musik perlawanan di Aceh masa sekarang. 

Dalam lagu ini, Amroe & Pane Band menyosor orang-orang yang gila uang dan gila kuasa paska damai sebagai musuh utama. Di mana bagi orang-orang yang untuk meraih dua hal itu, tindak korupsi menjadi pekerjaan wajib dan dianggap lumrah belaka. Tapi Amroe & Pane Band cukup mengerti bahwa korupsi dan tukang korup (koruptor) adalah sebenar-benarnya penyakit masyarakat. Yang derajat penyakitnya mungkin (atau jelas-jelas) dua, tiga tingkat di atas keberadaan kupu-kupu malam di Banda Aceh, yang sekarang harus berusaha lebih keras dan bekerja lebih lihai lagi untuk mengukuhkan eksistensinya oleh sebab WH terus menguntit keberadaan mereka.

Untuk melawan penyakit korupsi dan keberadaan koruptor sebagai sampah masyarakat, Amroe & Pane Band tak tanggung-tanggung. Lirik ekspresif mereka cipta dan nyanyikan. Penggalan liriknya bisa di baca: “Pike, peu kapike nyoe nanggroe Ma kah, hase nanggroe ka kuran keu droe. Peu kapike nyoe nanggroe Yah kah. Pike, peu kapike nanggroe Nek Tu kah, kamat nanggroe galak-galak kah. Peu kapike nyoe nanggroe Biek kah. Piyoh, hai tikoh pajoh peng.”

Menghadapi pelbagai penyakit sosial, lagu-lagu Amroe & Pane Band, juga lelagu Seungkak Malam Seulanyan, dengan lirik-lirik protes, kritis, dan melawan seperti itu adalah bagian terkecil dari sebuah perlawanan bermediakan seni. Di sini, dua band indie itu telah dan (semoga) terus melakukannya dengan media seni musik sebagai senjata.

Dan jika gaung lagu-lagu perlawanan itu tersebar secara masif, bisa dibayangkan bagaimana tidak nyamannya para begundal (biang ketimpangan sosial) hidup di Aceh. Bisa dibayangkan pula, bagaimana malunya seorang koruptor yang pada sebuah acara makan malam keluarga, seorang anaknya secara spontan bernyanyi, “Pike, peu kapike nyoe nanggroe Ma kah, hase nanggroe ka kuran keu droe. ... Piyoh, hai tikoh pajoh peng.”

Atau jika ingin ditambah lagi ilustrasi dari efek lagu-lagu perlawanan itu apabila serentak dinyanyikan. Bayangkan sendiri, bagaimana letoy-nya seorang panglima yang kemaruk uang ketika dihadapkan dengan lirik lagu Amroe & Pane Band lain berjudul Peng Griek:  

Rakyat lon teungoh mumang. Bak peutimang, heut dum panglima prang. Beutoi seujarah peugah. Gara-gara peng griek, ditiek pejuang. Beutoi Abua peugah. Gara-gara peng griek, panglima meu prang.Panglima teu khem seunang. Bak kursi leupon, punggong nyan han leukang. Panglima meu seunang-seunang. Rakyat ka dikliek, hanso na peuteunang.[]

Popular Posts