Skip to main content

Perbedaan Kuda Prabowo dan Siamang BKSDA

Banyak sekali perbedaan antara kalian rupanya. Beda jenis, beda warna, beda suara, beda bentuk kelamin lagi.Perbedaan yang lain? Masih banyak. Tak habis dihitung dengan jari tangan, kecuali memakai hitungan kalkulator. Tapi perbedaan yang paling mencolok adalah kepemilikan dan tempat tinggal kalian tentu saja.

Jika Siamang ditangkap dari hutan terjauh belantara Aceh untuk kemudian dipaksa tinggal di kerangkeng Kantor BKSDA yang letaknya bersebelahan dengan rumahku. Kuda Prabowo lain lagi. Diberi nama Principe, konon katanya kuda ini diimpor seharga 3 milyar rupiah yang jika dikalkulasikan bisa membangun dua atau tiga bangunan kantor BKSDA lainnya berikut pelbagai perangkat yang dibutuhkan di dalamnya.

google image
Lalu apa? Hubungan apakah dua binatang (ingat: Prabowo bukan ya) penuh perbedaan ini disanding dalam tulisan ini? Itu tidak lain mengacu kepada pernyataan Adian Napitupulu, politisi nyeleneh PDIP di sebuah acara talk show televisi swasta tanah air. Ketika ditanya sisi positif seorang Prabowo yang menjadi calon presiden Indonesia tahun ini, dengan santai dan tenang, Adian menjawab, "Dia (Prabowo) pengurus kuda yang baik."

Membaca pernyataan Adian sebagaimana dilansir pelbagai media, saya jadi ingat Siamang. Jadi ingat BKSDA yang mengurus Siamang. Sebab kerangkengnya terletak tepat di depan kamar rumah saya yang hanya berjarak 5 meter dan hanya dibatasi tembok setinggi 2 meter, saya bisa mengatakan BKSDA bukanlah pengurus Siamang yang baik.

Adian punya banyak alasan ketika melontarkan pernyataan Prabowo seorang pengurus kuda yang baik. Begitu juga alasan saya mengatakan BKSDA bukanlah pengurus siamang yang baik tidak lebih beranjak dari apa yang saya lihat sehari-hari. Di mana siamang yang saban pagi, tiap waktu azan dhuhur tiba atau usai, berteriak senyaring-nyaringnya, yang suaranya sangat tidak cocok didengar oleh penderita sakit gigi.[] 

Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…