Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2014

Sahur Di Aceh Pada Masa DOM dan Huzun-nya Orhan Pamuk

Dulu, sekira terhitung belasan tahun lalu, pernah kita merasakan suatu sahur yang payah. Sahur-sahur yang latah oleh sebab letus peluru. Kita menjalaninya dengan khusyu' sambil tak pernah lepas merapal do'a agar selamat hidup di dunia hingga mati dengan cara yang sewajar-wajarnya. Bukan mati di ujung moncong senjata. Bukan mati karena degup jantung berlebihan seusai disepak tulang kering dengan sepatu lars tentara. Sahur-sahur seperti itu adalah sahur yang tak pernah diterka oleh olah pikir siapa pun. Tak pernah juga diharapkan oleh benak seseorang yang benar-benar manusia.

Hadiah Ulang Tahun Untuk Putri

Putri, Selamat Ulang Tahun! Seperti tahun sebelumnya, lagi-lagi aku telat mengucapkannya. Dan lagi-lagi kau harus mengingatkanku dengan pesan singkat, bahwa 22 Mei adalah hari lahirmu. Maafkanlah.
Abangmu ini memang agak bermasalah dengan angka-angka. Pun angka almanak penting, termasuk tanggal hari lahirmu ini.Tahun ini usiamu bercokol di angka 19. Kau sudah gadis.

Kiat-kiat Mendirikan Bioskop Di Banda Aceh

Zaman sekarang, di tengah merebaknya berita-berita anarkis di hampir seluruh dunia, mulai dari serangan zionisla'natillahke Palestina, jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di Ukraina, kisruh hasil hitungan cepat Pilpres di seluruh Indonesia, sampai dipergoknya sepasang anak manusia non-muhrim yang diduga lagi khalwat di bulan puasa, mengemukakan ide pembangunan bioskop di Banda Aceh sama halnya seperti kataorang-orang tua di kampung, "Teungoh ta peu loet Leuek, ka tiek Mie lam geulanggang. That na teuh!" (Terjemahan sila lihat di keterangan paling bawah).

Piala Dunia: Antara Hambar Dan Candu

Tahun 1994 adalah tahun pertama sekali saya berkenalan dengan Piala Dunia. Itu tahun ketika saya masih benar-benar ingusan, penuh rengekan, yang selalu minta ikut Ayah atau Abang ketika mereka keluar rumah ingin menonton piala dunia. Itu tahun ketika ABRI sudah duluan masuk kampung tenimbang televisi. Maka tahun di mana menangis sejadi-jadinya adalah senjata paling ampuh saya agar boleh ikut nonton bola bersama Ayah atau Abang, televisi adalah barang mewah yang bisa dihitung jari dalam satu kampung. Beruntung, rumah saya berada di antara beberapa rumah tetangga mapan yang letaknya bisa ditempuh dalam tiga, empat kali tarikan nafas saja.

Kitab Omong Kosong, Buku Kalkulus, dan Bualan Dunia Kampus

Walau sekarang tak pernah mengaplikasikan lagi apa yang pernah saya terima di bangku kuliah, diakui atau tidak saya ini sarjana pendidikan matematika. Artinya sarjana pendidikan yang (entah) layak menjadi guru mata pelajaran matematika. Masuk tahun 2003, Maret 2009 dinyatakan lulus dari Jurusan Tadris Matematika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Sekarang telah berganti sebutan jadi UIN. Universitas Islam Negeri. Selama kuliah yang menghabiskan waktu di atas durasi tahun standar, banyak hal saya dapat di bangku kuliah. Salah satunya seperti yang akan saya ceritakan berikut. Cerita pengalaman bagaimana saya melewati mata kuliah Kalkulus yang bahasannya sangat memusingkan kepala orang-orang yang agak malas berurusan dengan angka-angka.

Mengoptimalkan Blog Itu Butuh Guru

Bahkan untuk sekadar makan atau mengisi perut pun, kita butuh guru. Ibu yang telah dengan sabar menyuapkan pisang wak (baca: makanan) semasa kita masih dalam gendongan adalah maha guru itu.

Apalagi setelah menjadi blogger seperti sekarang ini. Posisi guru dalam usaha mengoptimalkan blog yang sedang kita gawangi memang penting. Teramat penting malah. Seperti pentingnya teungku (ustadz) bagi santri yang ingin belajar nahu dan fiqh. Seperti pentingnya penghulu bagi sepasang pengantin yang ingin nikah. Tapi yang patut kita paham, guru itu aneka ragam. Ada guru jalanan, guru formal di ruang kelas, dan ada juga guru sebatas rujukan bacaan. Berhubungan dengan dunia blogging, google adalah alternatif sebenar-benarnya guru. Tapi bagi yang awam seperti saya ini, berguru kepada google saja tak cukup. 
Saya yang terlalu bloon hingga terkesan awam blogging, berguru kepada google saja sama seperti seorang santri magang yang ingin mendalami Kitab Al-Hikam-nya Syeikh Ibnu Athaillah yang masyhur itu.…

Memaksiatkan Bioskop Di Banda Aceh?

Kota tanpa bioskop sama halnya seperti rumah mewah tapi tak punya perabotan di ruang tamu. Tak ubahnya sebuah pasar besar tapi hanya menjual satu mata barang di semua toko. Kota tanpa bioskop, menurut istilah kami di Meureudu adalah kota yang bugam. Bakai meunan. Dan hari ini, Banda Aceh adalah kota paling representatif untuk menjabarkan kota bugam alias bakai tersebut. Adalah kota yang cocok dengan amsal rumah mewah tapi tak punya perabotan. Atau kota selayak pasar besar tapi barang-barang jualannya terlalu membosankan untuk diminati para pembeli.
Tapi layakkah Kota Banda Aceh direpresentasikan begitu rupa? Dulu tidak. Sekarang, iya. Layak. Dulu Banda Aceh punya bioskop, sekarang tidak. Maka jika sekali waktu orang luar datang dan menanyakan bioskop kepada kita, cukuplah kita saling mengingatkan sesama begini: "Jika engkau ditanyai orang adakah bioskop di kota syar'i ini? Jujur saja. Dulu ada, sekarang jangan tanya." Dan jika orang luar itu, masih juga menanyakan perih…

Surat 'Cinta' Tanpa Amplop Untuk Mbak Titiek Yang Cantik

Selamat sahur Mbak Titiek yang baik.  Salam sejahtera, semoga Mbak makin cantik dan sehat wal afiat saja. Sebelumnya banyak maaf dari saya sebab telah terlalu berani menulis sepucuk surat kepada Mbak, yang boleh jadi ketika saya tulis, Mbak sedang buang air besar di toilet kediamannya yang tentu saja mewah itu. Atau boleh jadi juga sedang lelap dan bermimpi nostalgia masa lalu tentang indahnya malam pertama, kedua dan seterusnya. 
Malam ini Banda Aceh sedang gerimis, entah bagaimana cuaca di Jakarta sana?  Tapi itu tak penting. Sebab, perihal saya tulis surat ini adalah untuk membicarakan perkara berkenaan sinyalemen rujuknya kembali Mbak Titiek dengan kandidat capres kita tahun ini, Prabowo Subianto. Itu saya dapat berdasar berita-berita yang berseliweran di banyak media akhir-akhir ini. Bahkan di Republika Online misalnya, ada berita yang mengabarkan rujuk Mbak Titiek dengan sang capres akan dihelat hari ini, dan tak tanggung-tanggung, rencana prosesinya akan disiarkan live di sala…

Golput Tahun 1999 dan Tidak Golput Pada Pilpres Sekarang

Jelang hari pencoblosan calon presiden negara yang entah benar-benar kita cintai ini, suhu politik makin memanas saja. Suhunya mengalahkan panasnya cuaca siang hari Kota Banda Aceh akhir-akhir ini. Juga mengalahkan panasnya persaingan negara-negara kontestan Piala Dunia di Brazil sana. Tidak di laman sosial, tidak di portal berita, atau bahkan di hampir semua area publik (bisa dipastikan berserak seluruh Indonesia), pelbagai bentuk dan atribut kampanye diumbar sedemikian rupa untuk menarik perhatian para pemilih. 
Tim pemenangan dua kubu capres dan cawapres yang naik, Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK, jelas-jelas 'berperang' demi memenangkan pertarungan sengit pada 9 Juli 2014 mendatang untuk penentuan arah jalan Indonesia lima tahun ke depan. Begitulah, perang ini telah menghabiskan banyak 'amunisi', juga telah menyita perhatian rakyat Indonesia dari segala unsur lapisan masyarakat. Baik artis, akademisi, pejabat pemerintah, juru kabar, guru PAUD, teungku rangkang, ulama, s…