Kita, Rindu Dan Kenangan Perih Masa Lalu


Malei, karya Fadhlan Bachtiar
Ini malam tak berjadwal
Kita lupa menggantung almanak di mana
Kita abai bertukar kabar
Tapi kita masih punya daya khayal
Untuk sekadar menafsir sisa senyum bulan lalu
Yang ujung-ujungnya, tanpa isyarat terlebih dahulu
Kita ngakak, tertawa ber-hihi...hahaha
Lihatlah sembul bulan yang entah
Bisa disebut menyembul malu-malu
Atau memang sejak adanya sudah begitu
Ia menghormati jadwalnya sendiri,
Sementara kita tak mesti peduli dengan
Jejadwal yang terlalu mengekang kaki
Kita bisa beranjak kemana suka, kapan saja
Sebab satu hal yang tak pernah kita lupa
Adalah jalan pulang sesuai jejak langkah
Sebelumnya

Saat aku pergi, bukankah kau tahu
Bagaimana cara menunggu?
Ya, itu. Kita pernah membahasnya beberapa waktu lalu

Cara menunggu adalah seperti apa yang ibu kita
Lakukan ketika musim jam malam berlaku

Menunggu adalah apa yang tersemat
Dalam raut wajah ibu, dulu,
Ketika radio meu-igoe menyiarkan haba
Ada banyak selongsong peluru tumpah di
Keudee Meureudu, sementara suaminya,
Ayah kita, baru saja berangkat kerja
Membuka lapak jualan buah-buahan
Depan toko milik Apa Raman Sagoe

Tapi sejauh apa pun langkah kita menyasar
Kita sepakat untuk tak terlalu nampak gusar
Sebab apa yang sama-sama telah kita pahami
Bahwa gusar adalah tipikal orang-orang yang
Tak mampu berdamai dengan diri sendiri
Tak mampu mendamaikan pikirannya sendiri
Seperti gusarnya orang-orang BKO yang ketika
Bedil sering menyalak, mereka menghalau jalan
Dengan palang kawat zig-zag

Kau tahu? Kampung kita adalah
Tempat terbaik untuk saling berjarak
Hingga rindu terus membuncah, tumpah ruah

Tapi lagi-lagi kita sepakat, bahwa
Rindu kita adalah rindu kerdil
Rindu yang membuat kita mengaku malu
Jika disanding dengan rerindu saudara
Kita di Gampong Janda sana.[]

Meureudu, Agustus 2014.

Popular Posts