Skip to main content

Geureugui, Memoar Sebilah Pantai Di Meureudu

Geureugui adalah binatang sejenis kepiting atau ketam dengan ukuran tubuh paling mini dari binatang sebangsanya. Mereka hidup di pantai dengan sarang berupa lubang kecil seukuran tubuhnya. Sarangnya terbilang unik, tapi sangat-sangat patut masuk dalam kategori artistik. Itu bisa kau buktikan dengan bola-bola kecil dari gumpalan pasir sisa korekan lubang Geureugui yang membentuk ornamen-ornamen berpola tertentu seperti bentuk bintang misalnya. Geureugui, dalam ilmu hewani dikenal dengan nama Uca untuk bahasa latinnya, dan termasuk dalam keluarga besar Ocypodidae.

Dulu, sewaktu diajak ayah tarek pukat (menarik pukat) di pantai yang letaknya tak jauh dari belakang rumah, Geureugui adalah teman main kami yang paling setia. Yang tak pernah bosan dan tak pernah mengenal penat berlarian ke sana kemari saat kami kejar hingga membuat kami tersengal-sengal. Atau pada waktu yang lain, ketika musim Bungkueh (teri nasi) tiba dan orang-orang di kampung kami menjaringnya dengan menggunakan kelambu, Geureugui tetap saja menjadi guru terbaik kami dalam belajar bagaimana bisa cepat berlari, lincah mengelak, gesit mengecoh. Kelak ketika kami beranjak remaja, kami menjadikan ilmu pengetahuan ini sebagai modal dasar bermain sepakbola dalam turnamen tujuhbelasan di lapangan ibukota kecamatan.

Tapi pernah juga kami mengalami tahun-tahun tanpa Geureugui. Itu tahun-tahun ketika Marinir mulai mengkapling pantai kami dengan pagar-pagar posnya yang angker untuk dilalui. Maka pada tahun-tahun itu, bermain di bibir pantai adalah tabu terbaru dari emak atau ayah ketika hendak bermain di luar rumah. Dan kami yang masih bocah, yang belum mengerti kenapa harus ada letup senjata, jam malam atau suasana mencekam mulai meninggalkan pantai tanpa banyak tanya. Kini kami beralih ke sungai sebagai tempat main yang tak kalah asyiknya dengan bibir pantai.

Mulai saat itu kami mulai melupakan Geureugui. Bola-bola pasir kecil di pinggir lubang tempat mereka bersarang tidak lagi bisa kami jadikan penanda apakah Geureugui bersembunyi di dalamnya atau tidak. Waktu itu kami sama sekali tak tahu menahu bahwa karena semakin banyaknya tentara di rata sagoe (sudut) kampung telah merampas banyak ruang bermain kami secara paksa. Kami hanya mengandalkan naluri para bocah untuk menciptakan ruang bermain baru ketika larangan, "tak boleh main di sana, jangan main ke situ," semakin sering ditegaskan oleh ibu sepulang sekolah.

Itulah tahun-tahun di mana pantai berubah menjadi sunyi. Di mana salah satu puncak segala kesunyiannya adalah paska ditembaknya tiga nelayan oleh tentara pada sebuah Jum'at yang tanggal dan bulannya alpa kami tandai. Maka pantai terasa semakin jauh bagi kami. Atau memang kamilah yang sengaja menjauhinya. Meninggalkan kawanan Geureugui kehilangan teman mainnya yang tengil, jahat, dan tentu saja sangat mengganggu. Tapi kami tahu saat itu mereka tetap memendam rindu.[]

Popular posts from this blog

Satu Jam Bersama Ibu & Putri Ishak Daud Di Rumah Kak Na

Marlina atau akrab dipanggil Kak Na, istri Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dengan balutan gaun biru muda terlihat sumringah sore ini. Duduk berbaur bersama sejumlah ibu-ibu berusia lanjut di Aula rumah dinas di Jalan Syeich Muda Wali Banda Aceh, Rabu sore 31 Juli 2013, Kak Na menggelar acara silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan Nyak-nyak pedagang kaki lima. 
Di aula yang terletak di samping kanan rumah dinas itu, sejumlah penganan buka puasa mewah sudah tersedia di meja bulat yang kerap dipakai oleh pejabat teras pemerintah. Namun, hari ini, atas undangan Kak Na meja dengan hiasan bordiran khas Aceh ini dipakai oleh sekitar 50-an lebih pedagang kaki lima. 
Saat saya masuk ke ruangan ini, Kak Na duduk di meja paling depan dan akrab bergurau dengan seorang gadis kecil yang duduk di samping kanannya. Tepat di depannya seorang nenek duduk sambil sesekali tersenyum melihat Kak Na bersenda dengan gadis kecil tersebut. 
“Selain Nyak-nyak yang hadir sebagai tamu khusus, Kak Na punya tam…

'Mabok Halal' Ala Kopi Aceh

"Di Aceh tak ada minuman halal lain yang bikin pening alias mabok kecuali kopi. Yang haram tapi bikin mumang? Ada, dan saya tak bilang banyak. Kalau mau dicari Ie Jok Masam salah satunya."

Sopir Nyentrik dan Gosip Para Perempuan Tentang Profil Calon Gubernur Aceh Kedepan

Dalam angkutan umum Minibus L.300 jurusan Banda Aceh-Lhokseumawe. Penumpang penuh. Dua orang perempuan di samping sopir, tiga orang perempuan di jok belakang sopir, dua perempuan dan satu laki-laki di baris ketiga. Saya bersama satu penumpang laki-laki lainnya duduk di jok paling belakang.
Aku menumpangi mobil ini saat pulang ke Meureudu akhir Januari lalu. Ini mobil penumpang yang mangkal di terminal angkutan umum antar kota dalam provinsi di Batoh, Banda Aceh. Mobil yang kutumpangi adalah salah satu mobil yang tergabung dalam perusahaan jasa angkutan CV. Mandala. Setidaknya inilah yang tertulis dengan stiker putih di bagian atas kaca depannya.
Sang sopir adalah seorang pria setengah baya. Agak nyentrik untuk ukuran sopir L.300 yang sering kutemui ketika bolak balik Banda Aceh-Meureudu atau ketika aku bepergian ke daerah-daerah lain di Aceh. Minibus L.300 adalah satu-satunya jenis mobil penumpang alternatif yang menjangkau seluruh kabupaten kota di Aceh.
Si sopir yang kubilang nyentri…