Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2014

Kain Sigli, Memoar Dua Kota Dalam Puisi

Di Sigli aku kembali berbaur dengan orang-orang yang tak pernah jenuh berlama-lama di warung kopi. Satu kali dari mulut seorang pemuda yang penampilannya bisa ditebak iaa adalah mahasiswa, aku dengar nama Sarjani disebut-sebut. Nama Bupati Kabupaten Pidie usungan partai politik lokal, yang setelah kemenangannya dalam pilkada lelucon-lelucon seperti, "Kalau sudah ada Sarjani, untuk apa lagi sarjana," beredar dari mulut ke mulut.

"Sarjani maunya begini, tapi anak buahnya berlaku begitu. Atau sebaliknya. Maka beginilah kita di sini. Sigli berdenyut antara hidup dan mati," kata si pemuda sambil terbahak kepada temannya. Mendengar ocehan itu aku berpaling. Si pemuda terus berbicara dengan suara lantang tanpa menggubris orang lain. Bersama temannya ia membicarakan kota kelahirannya yang pasif.

Pandanganku masih tersangkut di wajah pemuda itu. Di sana kutemukan raut kenangan tentang Sigli yang ringkih. Yang terus berusaha beranjak-bangun dengan langkah tertatih. "Ka…