Tentang Keinginan Punya Buku Biografi Hasan Tiro Tapi Masih Urung Sebab Mahal Harganya

foto sampul belakang buku dari fb yang saya lupa mengambilnya dari akun siapa
Saya tak seberapa tahu siapa Hasan Tiro. Kecuali pemberontakan yang digelorakannya kepada segenap Agam-Inong Aceh pernah saya rasakan sendiri efeknya ketika masih duduk di bangku SD, SMP, MAN hingga semester-semester awal kuliah.

Keinginan saya untuk lebih banyak tahu tentang Hasan Tiro, itu tak lain ketika pada sebuah siang yang terik, Sabtu 11 Oktober 2008, saya berbaur dengan ratusan ribu orang menyambut kedatangannya di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Saya menyempil di antara lautan manusia yang datang dari delapan penjuru mata angin. Di sini penasaran saya bertambah.

Hasan Tiro adalah magnet. Adalah penyihir yang hari itu membuat saya tanpa sadar mengeluarkan air mata saat mendengar gemuruh takbir berkumandang serempak, membahana, manakala kakinya yang ringkih (dengan dipapah) naik ke atas panggung. Ia adalah sosok yang membuat bibir saya bergerak-gerak sendiri tanpa mengeluarkan sepatah kata, yang membuat degup jantung saya berdegup kencang dua kali dari biasanya demi menyaksikan antusiasnya lautan manusia, yang datang dari kampung-kampung terjauh, yang mau berterik-terik, berhimpit-himpit walau sekadar hanya untuk menyambut kedatangannya.

Dari sini saya tergugah dengan sosok ini. Saya penasaran tentang 'ajaran' apakah yang ia bawa hingga membuat seluruh Aceh atau bahkan Indonesia bergetar manakala mendengar namanya. Saya tak ingin taklid buta. Tapi saat itu saya menekankan diri untuk tak ingin penasaran buta, hingga harus mengidolakannya secara membabi buta tanpa tahu apa isi kepalanya.

Keinginan inilah yang membuat saya mencari-cari tulisan tentangnya, juga tulisan-tulisan buah pikir yang ditulis dengan pena atau mesin tiknya. Hingga sekitar tahun 2010 saya mendapatkan satu eksemplar buku copyan berjudul Demokrasi Untuk Indonesia yang ditulisnya pada tahun 1958. Itu buku kritis dan berani yang ditujukannya kepada pemerintahan Soekarno. Tentang cita-cita persatuan Indonesia yang terbagi dari pelbagai suku bangsa dalam sebuah tatanan negara republik adalah mimpi semu yang sama sekali tidak bisa menyejahterakan seisi penghuninya.

'Penerawangannya' tentang masa depan Indonesia yang mustahil adil sejahtera secara menyeluruh seperti tertuang dalam buku itu kemudian cukup terbukti. Kesejahteraan berpusat di Pulau Jawa saja. Daerah-daerah lain tertinggal dan ini semakin parah ketika Soeharto bertahta. Untuk kelanjutan (respon) dari prediksi magisnya itu, pada 4 Desember 1976 ia menggelar deklarasi. Deklarasi sederhana dengan tuntutan yang menggetarkan Indonesia: Merdeka!

Hasan Tiro tidak main-main. Ia telah menyiapkan banyak senjata untuk tuntutannya itu. Tidak hanya senjata fisik, tapi senjata intelektuil sudah jauh-jauh hari ia siapkan sedemikian rupa. Salah satu senjata intelektuil paling monumentalnya adalah buku yang memuat kliping koran-koran dunia dan catatan sejarah tentang keberadaan Aceh di mata bangsa-bangsa besar dunia. "Aceh Bak Mata Donya" judulnya. Ini buku terlarang pada masa pergolakan, berbahasa Aceh (mungkin ada bahasa Inggrisnya juga?) yang kelak, setelah damai ditabuh buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Bandar Publishing dengan judul "Aceh Di Mata Dunia."

Saya tak mendapatkan apa-apa dalam buku itu. Kisah-kisah kegemilangan masa silam sudah sering saya dengar dari cerita-cerita lisan orang tua atau bahkan dari mimbar-mimbar khutbah. Tapi satu hal yang membuat saya berpikir bahwa buku Aceh Bak Mata Donya adalah buku yang sangat-sangat pantas dijadikan bacaan wajib bagi seluruh orang Aceh, tak lain karena gelora identitas keacehan yang dibangkitkan di dalamnya. Bagaimana seorang Hasan Tiro dengan tekun, cermat, dan sabar mengumpulkan catatan-catatan sejarah, penggalan-penggalan berita koran lampau yang tersebar di berbagai negara, kemudian menyusun dalam sebuah risalah sederhana. Tidak tebal tapi punya daya magis untuk membangkitkan nasionalisme keacehan setiap orang Aceh yang membacanya.

"Soe mantong djipeutuwoe keu seudjarah, meumakna ka djipeulamiet droe bak gob."

Itu kalimat yang sampai detik ini menyemat dalam benak dan kepala saya, yang saya dapatkan dari buku Aceh Bak Mata Donya itu. Lantas saya beralih ke tulisan-tulisan orang tentang sosok Hasan Tiro. Dari tulisan-tulisan lepas, ada empat tulisan yang ditulis oleh lima orang berbeda yang sampai hari ini masih saya baca berulang-ulang ketika menyebut nama Hasan Tiro. Pertama, kolom Majalah ACEHKINI edisi November 2008 karya Azhari Aiyub berjudul "Warisan Kehampaan". Kedua, esai KOMPAS edisi 19 Oktober 2008 milik Nezar Patria berjudul "Hasan Tiro, Nietzsche, dan Aceh" (kemudian saya dapatkan juga dimuat dalam buku Hasan Tiro, The Unfinished Story Of Aceh dan di catatan akun facebooknya). Ketiga, reportoar Arif Zulkifli berjudul "Dua Jam Bersama Hasan Tiro" yang dimuat di TEMPO No.13/XXIX/29 Mei-4 Juni 2000. Yang terakhir, adalah tulisan duet Nurlis E. Meuko dan Muhammad Shaleh yang berjudul Hasan Tiro Pembual Besar yang dimuat di Majalah GAMMA pada tahun 1999.

Dari bacaan-bacaan itu, saya berkesimpulan Hasan Tiro adalah sosok yang bisa dibilang panjang usianya, sosok biasa, tapi punya gagasan luar biasa, berjiwa merdeka, yang ciri khas pribadinya adalah tidak mau dijajah kedaulatan negerinya oleh pihak mana pun. Kesimpulan ini tentu saja belum cukup, dan hanya berkisar gegara bacaan-bacaan yang mesti diakui banyak di antaranya masih belum bisa saya pahami dengan baik. Dan untuk menuju ke arah penyempurnaan kesimpulan itu, saya sedikit menaruh harapan ketika mendengar informasi buku biografi sosok ini telah ditulis, dicetak dan diterbitkan tahun ini.

Hasan Tiro; Jalan Panjang Menuju Damai Aceh, yang ditulis oleh Murizal Hamzah dan lagi-lagi diterbitkan oleh Bandar Publishing adalah tempat saya menaruh harap itu. Ada rasa senang ketika tokoh besar dengan pemikirannya yang monumental diangkat dalam sebuah kronik biografi dan dapat dibaca tanpa ada larangan pihak mana pun. Tapi rasa senang ini berubah tidak benar-benar terlalu senang ketika tahu harga buku yang baru terbit ini tidak terjangkau isi saku celana saya yang hampir semuanya berupa celana jeans belel. Ada rasa kecewa sembari berharap-harap dapat rezeki lebih untuk mendapatkan buku idaman itu.

Kecewa sekaligus maklum tepatnya. Sebab, untuk menulis sebuah biografi orang besar seperti Hasan Tiro bukanlah pekerjaan sehari dua hari, yang ambil data mentah sana sini, tulis, cetak, lantas jadi. Ini adalah pekerjaan maha serius, harus dengan riset mendalam yang tentu saja menghabiskan banyak energi fisik sekaligus energi materi. Untuk hal-hal teknis begini rupa, saya kira di satu sisi harga itu buku memang lumrah adanya.

Namun, demi menambal kecewa yang masih menetap dalam kepala, saya kepikiran, kenapa tidak Pemerintah Aceh, yang notabene jabatan pentingnya diduduki oleh orang-orang dekat Hasan Tiro masa perjuangan dulu, anak-anak asuh ideologinya, mau mengongkosi buku yang saya perkirakan sangat bermutu ini. Dicetak dengan skala besar, sehingga cost produksinya bisa sedikit turun yang otomatis harga jual di pasaran bisa dijangkau oleh siapa pun. Hmmm... Barangkali pikiran begini sudah terlebih dahulu dipikirkan oleh Murizal Hamzah sebagai penulisnya, juga oleh orang-orang Bandar Publishing sebagai penerbitnya. Atau jika iya, saya curiga pasti ada yang bikin mentok pikiran-pikiran bajik begitu rupa. Atau jika tidak. Baiklah, saya pinjam saja dari teman yang sudah membelinya. Lalu nanti saya katakan padanya, "Maaf, kawan. Bukumu dicuri orang. Tabung gas juga hilang bersamanya. Aku menyesal."[]

Popular Posts