Jalan 32

The Persistence of Memory by Salvador Dali

Dunia mengecil, seiring memuainya pikiran oleh pelbagai ilmu pengetahuan. Namun, ingatan telah tercecer satu persatu. Tersemat di ranting kayu, menghilang dibawa angin: entah kemana?

Orang-orang dekat datang dan pergi. Ada yang singgah lama, bertukar kabar, berbagi informasi, untuk kemudian pamit setiba di sebuah simpang. Yang hadir sebentar adalah orang-orang yang sedang berjibaku dengan waktu. Bersua kebetulan, pas-pasan di sebuah ruas jalan, senyum tanpa tegur sapa, lantas sibuk pada titik pandang masing-masing.

Di jalanan siapa pun tak bisa berhenti seenak hati. Waktu adalah jalanan terpadat yang menuntut semua pengendara harus awas dengan pandangannya.

Tahun 1931 Salvador Dali menyelesaikan sebuah lukisan. The Persistence of Memory. Saya memaknai sederet judul lukisan itu seperti ini: "Kekacau-balauan Ingatan." Objek jam saku yang meleleh lembut tercecer di sembarang tempat. Di dahan kering, di sebuah bidang dua dimensi, dan di atas sebuah alas pada padang yang mengejawantah. Adalah hasil kontemplasinya tentang ruang, waktu, dan ingatan. Dali seperti memperingatkan. Bahwa ingatan tak akan bertahan lama setelah menumpuk dalam ruang sebesar batok kepala yang senantiasa terus diintip sang waktu untuk dimangsa.

Rangkuman ingatan yang telah dimangsa waktu. Hampir semuanya hilang tak berjejak, kecuali kenangan-kenangan sentimentil yang setia meringkuk dalam ingatan. Ingatan yang kian hari kian menua. Ada detil-detil masa lalu yang hilang begitu saja. Umpama kapan pertama sekali kau jatuh cinta? Siapa orang pertama yang mau menghutangi kau sejumlah uang? Mestinya tetap kau ingat jika saja waktu tak merenggutnya diam-diam dari pustaka ingatan. Setidaknya sampai esok hari, sebelum kau ditemukan mati.

Namun, perkara-perkara yang hari ini kau alami. Orang-orang sekitar yang baru kemarin sore kau jumpai, adalah perihal faktual yang kadang-kadang menuntut curah pikiran sekaligus menantang nyali untuk dibicarakan dalam sebuah perenungan diri.

Kau pernah terjebak dengan kata idealisme yang sampai hari ini belum kau ketahui maknanya dengan baik. Dan sejak beberapa tahun lalu--sengaja atau tidak--kau bersinggungan dengan orang-orang yang gara-gara memikul kata tersebut hidup dalam kondisi tak menentu dalam segi finansial. Beberapa teman yang sudah mengantongi rekening gaji tetap di instansi pemerintahan menyamadengankan ketidakmenentuan ini dengan sebutan masa depan suram dan tentu saja harus ditanggapi serius dengan rasa kasihan yang kerap melahirkan petuah-petuah basi dan membosankan.

"Ada banyak kebutuhan yang harus kau tunaikan," kata beberapa di antara mereka pada sebuah acara reuni mendadak di sebuah kedai kopi. Lantas kau mendengar ocehan-ocehan filosofis tentang untuk apa hidup, kenapa harus hidup, tujuan hidup, dan bagaimana cara membuat hidup terkesan lebih hidup. Kau telah bisa menebak, ocehan-ocehan itu hanya akan berujung pada pengklaiman bahwa sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang dapat membuat kau aman sampai beranak cucu kelak. Tak jadi soal sekalipun kau harus bertindak culas demi itu pekerjaan.

Sekali lagi, seperti halnya satu-dua tahun sebelumnya, perkara cara pandang idealisme dalam lingkungan orang-orang yang kau temui hari ini hanya bermuara pada perihal yang bersifat materialistik. Di sini makna kebutuhan dengan makna keinginan (baca: nafsu) telah tak bertabir. Keduanya bercampur baur dalam pemikiran-pemikiran pragmatis dan kerap melahirkan argumen-argumen bernada individualis.[]

Popular Posts