Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2015

Maop, Smartphone & Anak yang Baru Dilahirkannya Bernama Kaos Maop

Bagi pemakai smartphone macam merek sejagat Aceh yang dengannya mereka aktif di dunia media sosial (medsos) --serupa fesbuk, twitter, instagram, dan lain sebagainya-- mengenal, mengikuti, berteman, dengan akun Muhadzier Maop adalah niscaya, jika tidak ingin dibilang wajib. Kenapa? Sebab dialah seorang pemuda yang tekun dan sabar berbicara isu-isu sosial Aceh khususnya isu tingginya mahar sebagian besar perempuan Aceh melalui pelbagai media tersebut.  Menghabiskan waktu selama hampir 15 jam dalam sehari hanya untuk ngetwit, ngelike, bikin dan upload meme, update status, balas pesan, komentar sana-sini, bukanlah pekerjaan gampang. Dan itu membutuhkan kesabaran tingkat tinggi yang kita yakin tidak akan bisa ditandingi oleh seorang sufi mana pun. Pokoknya, maqam ini pemuda dalam bereksistensi di medsos sama sekali tak tertandingi oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi jangan sangka ia sudah tidak menginjak tanah lagi. Selagi memegang smartphone, ia masih tetap menyeruput kopi, menghela napas,…

Mereka yang Menggugat Jakarta

"Berbicara Indonesia adalah bicara bagaimana menyambung jilbab dengan koteka. Bagaimana menyambung jilbab dengan koteka? Saya juga tidak tahu. Tapi barangkali seni bisa melakukannya," kata Putra Hidayatullah pertengahan Juni lalu.
Putra Hidayatullah adalah seorang cerpenis Aceh, bergiat di Komunitas Tikar Pandan, yang sekarang sedang sibuk di perhelatan Jakarta Biennale 2015 di Jakarta. Di gelaran acara dua tahunan itu, ia terpilih sebagai kurator muda mewakili Aceh. Yang dengannya ia diberi kewenangan mengikutsertakan empat seniman daerah untuk menampilkan karya mereka bersama seniman-seniman lintas daerah dan sibuju nanggroe di dunia. 

Seperti dirilis di situs resmi Jakarta Biennale 2015, seniman-seniman yang ikut di ajang bertema "Maju Kena, Mundur Kena; Bertindak Sekarang", berasal dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Bali, Aceh, Makassar, Argentina, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, Taiwan, Jepang, Turki, Belanda, Romania, Selandia Baru, Denmark da…

Acara TerasSore di Komunitas Kanot Bu & Pertanyaan-pertanyaan yang Muncul Karenanya

TerasSore adalah nama sebuah acara yang mengusung tagline; diskusi, kopi dan akustik. Sesuai tagline-nya, acara ini berupa diskusi rutin anak muda lintas hobi yang dipandu oleh seorang host tetap dengan menghadirkan pembicara untuk mengulik sesuatu topik, yang di sela-selanya para peserta bisa ngopi bareng sambil mendengar dan menyaksikan penampilan musik akustik. Topik yang diangkat dalam diskusi beragam. Namun di TerasSore keberagaman itu diuraikan dalam sebuah cara pandang yang sama, yaitu topik-topik yang dipilih direspon oleh peserta dan pembicara berdasarkan sudut pandang seni.

TerasSore telah digagas dan dilaksanakan saban bulan oleh Komunitas Kanot Bu, sebuah komunitas yang konsen bergerak di jalur seni dan budaya di Banda Aceh.

Minggu, 4 Oktober 2015 TerasSore kali keempat mulai sekira pukul 17.09 WIB. Kali ini TerasSore mengangkat isu korupsi sebagai topik diskusinya, dengan tema, "Di Sini Seni Di Sana Korupsi." Ada Husaini Nurdin, bergiat di lembaga Masyarakat Tr…