Acara TerasSore di Komunitas Kanot Bu & Pertanyaan-pertanyaan yang Muncul Karenanya

Bivak Emperom, basecamp Komunitas Kanot Bu. Foto: Fajri Ben Ishak
TerasSore adalah nama sebuah acara yang mengusung tagline; diskusi, kopi dan akustik. Sesuai tagline-nya, acara ini berupa diskusi rutin anak muda lintas hobi yang dipandu oleh seorang host tetap dengan menghadirkan pembicara untuk mengulik sesuatu topik, yang di sela-selanya para peserta bisa ngopi bareng sambil mendengar dan menyaksikan penampilan musik akustik. Topik yang diangkat dalam diskusi beragam. Namun di TerasSore keberagaman itu diuraikan dalam sebuah cara pandang yang sama, yaitu topik-topik yang dipilih direspon oleh peserta dan pembicara berdasarkan sudut pandang seni.

TerasSore telah digagas dan dilaksanakan saban bulan oleh Komunitas Kanot Bu, sebuah komunitas yang konsen bergerak di jalur seni dan budaya di Banda Aceh.

Minggu, 4 Oktober 2015 TerasSore kali keempat mulai sekira pukul 17.09 WIB. Kali ini TerasSore mengangkat isu korupsi sebagai topik diskusinya, dengan tema, "Di Sini Seni Di Sana Korupsi." Ada Husaini Nurdin, bergiat di lembaga Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), sebagai pembicara. Juga ada Mahmuddin mewakili aktivis anti korupsi yang bergiat di Sekolah Anti Korupsi Aceh (SAKA) sebagai tandemnya.

Kecuali dimoderatori oleh host tetap Muhadzdzier M Salda alias Maop, TerasSore kali keempat ini juga dihadiri seorang pelukis muda Aceh, Iswadi Basri. Ia ikut bermural ria di dinding BilikRoepa PaskaDOM, ruang tempat berlangsungnya acara ketika diskusi sedang berjalan. Lalu ada Fuady Keulayu yang dikenal sebagai musisi dan pehikayat muda tampil membawakan dua buah lagu garapannya bersama awak Komunitas Kanot Bu di sela-sela diskusi.

Dua nama terakhir, Iswadi dan Fuady, adalah dua seniman di antara empat seniman muda Aceh yang diundang ke Jakarta untuk menampilkan karya mereka di event dwitahunan Jakarta Biennale 2015, November ini. Duanya lagi Idrus bin Harun dan Cut Putri Ayasophia.

Miswar Ibrahim Njong, salah satu mahasiswa paskasarjana UIN Ar-Raniry yang sebelumnya mengenyam pendidikan di Dayah MUDI Mesra Samalanga, didapuk sebagai pembaca do'a ketika acara bermula. Pertama sekali pemuda ini jadi pembaca do'a, itu terjadi di TerasSore ketiga, September 2015 yang dihadiri oleh dua seniman perempuan dari Pulau Jawa sebagai pembicara. Riksa Afiaty dari Ruang Rupa Jakarta dan Octora Chan, seniman asal Bandung yang di bidang seni instalasi Indonesia sudah cukup terkenal namanya.

Seperti yang sudah-sudah, diskusi berlangsung hangat. Para peserta yang datang, jumlahnya sekitar 20-an, nampak antusias menyimak atau sesekali menimpali dengan pertanyaan dan tanggapan kepada pembicara. Saat sesi akustikan di mana Fuady Keulayu menyanyikan lagunya yang hampir semua liriknya berisi kritikan terhadap fenomena jahat sosial seperti korup, kemaruk uang, dan lain sebagainya, suasana diskusi jelas terasa lebih semarak.

Berbagi pendapat, sharing informasi dalam suasana hangat, akrab dan kerap berujung pada celetukan-celetukan kocak dari siapa pun adalah klimaks dari diskusi di sini. Bahkan hal ini bisa terus bersambung walau pun acara telah usai sekian menit sebelumnya.

Usai acara sebagian peserta memilih bertahan di BilikRoepa PaskaDOM, ruang tanpa atap yang dibatasi tiga bilah dinding beton rumah sisa amukan smong. Dinamakan BilikRoepa PaskaDOM, sebab di tiga bilah dinding itulah Idrus bin Harun, dedengkot Komunitas Kanot Bu, menarasikan kekinian (baca: rentang waktu konflik hingga paska damai) Aceh dalam karya muralnya. Tak lebih sama dengan lirik lagu-lagu Fuady, objek mural Idrus bisa dikatakan semuanya berisi kritikan terhadap fenomena jahat sosial.
BilikRoepa PaskaDOM. Foto: Fajri Ben Ishak
"Komunitas ini anti pemerintah ya?" tanya Nisa.

Nisa adalah salah satu Duta GenRe BKKBN Aceh, mahasiswi Universitas Malikus Saleh (UNIMAL) Lhokseumawe. Bersama tiga temannya, ini kali pertama mereka bertandang ke basecampe Komunitas Kanot Bu untuk turut ambil bagian di acara TerasSore.

"Saya lihat, dari lagu-lagu ditambah gambar-gambar yang dilukis di dinding kayaknya berisi kritikan semua," Nisa menguatkan pertanyaannya.

Pertanyaan seperti yang diajukan Nisa barangkali adalah klimaks dari apa yang ingin dicapai oleh Komunitas Kanot Bu dengan acara TerasSore-nya. Bahwa dengan diskusi, juga dengan produk-produk seni lain tidak selamanya berujung pada keniscayaan lahirnya sebuah solusi. Ia digagas demi menghidupkan, menjaga dan melestarikan wacana berpikir para penikmatnya agar tanda tanya terus mengada di setiap kepala umat manusia. Khususnya anak muda Aceh, tentu saja.

Tanda tanya harus selalu ada di kepala manusia, kata Nek Wod, seorang tua di sebuah desa pedalaman Nagan Raya, sekali waktu. "Ianya penting sekali. Sebab, tidak ada tanya sama dengan tidak ada jawaban. Ketika ada tanya, orang akan mencari jawaban. Nah, proses mencari jawaban inilah kelak melahirkan banyak ilmu pengetahuan di dunia," terangnya lagi.

Apa yang disebutkan Nek Wod sepadan dengan apa yang diinginkan Komunitas Kanot Bu. Dan pertanyaan Nisa, yang ketika salah satu awak Komunitas Kanot Bu ingin menjawabnya, ia malah ditarik oleh teman-temannya untuk berfoto ria, jadi semacam bukti. Bahwa anak-anak muda di Aceh punya seabrek tanya sekaligus sedang berproses mencari jawabannya.

"Gimana dengan pertanyaan saya tadi?" sosor Nisa lagi seusai foto-fotoan tadi.

"Kalau komunitas ini anti pemerintah, mungkin acara tadi tidak pernah ada, dan Nisa tidak akan pernah ke sini. Kalau orang-orang di komunitas ini anti pemerintah, dan jika takdirnya kami dan Nisa ditemukan dalam sebuah kesempatan, bisa jadi kita bertemunya di penjara," jawab salah satu awak Komunitas Kanot Bu.

Nisa terbahak.[]

Popular Posts