DN Ibnoe Hadjare

Droeneuh Nyan Ibnoe Hadjare. Frasa 'Droeneuh Nyan (DN)' adalah penggambaran dari sebuah lakap penghormatan sekaligus ketakziman mendalam. Frasa ini setingkat dua tingkat melebihi frasa sanjungan (kau boleh menyamadengankan kata ini dengan kata jilatan) semisal Paduka Yang Mulia (PYM), yang kepopulerannya sezaman dengan peletakan batu pertama bangunan megah tepi jalan Sukarno-Hatta yang belum selesai-selesai sebab kemacetan anggaran di Lampeuneurut sana.

Dan adalah meusoe-soe sinyak yang layak menyandang lakap DN ini. Tidak Muhaddzier Maop, tidak juga Muhajir Pemulung. Apalagi sosok berinisial M lain yang lebih dulu ketiban gelar PYM itu. Sungguh tidak pantas sama sekali.

DN Ibnoe Hadjare. Dengan reben ala jagoan dalam film Top Gun, topi gaya musisi kenamaan Tompi, sebatang cerutu (saya tidak yakin ini produk KW-1), sebilah smartphone baru, Ibnoe telah sukses berpose selayak-layaknya 'bajingan' yang membela kepentingan rakyat banyak. Laiknya tokoh kontroversi Si Pitung bagi orang Betawi pada masa kolonialis, atau Robin Hood bagi rakyat udik di tanah nun jauh Britania, Eropa pada masa abad pertengahan.

Tapi jangan coba-coba menyandingkan DN Ibnoe Hadjare dengan dua legenda itu. Ibnoe tak pernah berkelahi apa lagi mencuri, sekalipun itu untuk kepentingan orang banyak. Tubuhnya tak segempal Si Pitung, tidak juga seatletis Robin Hood, yang dengannya mereka berani main fisik. Ibnoe tahu betul dengan keterbatasannya. Itu sebabnya ia lebih mengandalkan otak untuk melawan membela kepentingan orang banyak. Ia melawan dengan kemahirannya bercerita. Lisan maupun tulisan.

Cerita lisannya yang paling masterpiece, dan hanya diperdengarkannya khusus kepada beberapa orang yang dianggapnya pantas seperti Zulham Yusuf, Muhaddzier Maop, dan Zulfan Amroe di Komunitas Kanot Bu, adalah sebuah cerita berjudul, "Bui, Ma Bui dan Lhee Droe Aneuk Bui yang Batat Nyan." 

Itu sebuah cerita tentang sebuah keluarga kecil babi melawan keserakahan manusia yang dengan budaya konsumtif atas anjuran agama kapitalis yang mereka anut, mengeruk habis sumber daya alam yang sejatinya tercipta sebagai rezekinya para babi. Dan dalam cerita lisan itu, kau menerima ganjaran, bahwa jangankan manusia, babi pun pantas mempertahankan diri untuk hidup. Sekalipun cara mereka bertahan hidup dalam cerita yang dikisahkan Ibnoe, mampu mengocol perut para pendengarnya.

Dalam hal membela kepentingan orang banyak lainnya, DN Ibnoe menulisnya dalam pelbagai cerita pendek dan telah banyak dimuat di surat kabar. Dua cerita pendek teranyarnya berjudul Hujan dan Penambang Pasir, yang dua-duanya telah dimuat di surat kabar Serambi Indonesia. Punya kisah berlatar konflik RI versus GAM yang tentu saja masih menyisakan trauma dahsyat bagi hampir seluruh rakyat Aceh, khusus untuk cerpen Hujan, konon, sempat mendapat perhatian khusus dan menjadi bahan diskusi dua sastrawan Aceh terkenal.

Ibnoe Hadjare adalah muka muda dalam ranah sastra Aceh. Pengalaman di bidang jurnalistik dan kemampuan bertuturnya dalam merangkai cerita adalah paduan yang jarang dimiliki muka muda sastra Aceh lainnya. Selentingan kabar, cerita lisan yang pernah diperdengarkannya kepada Zulham dan kawan-kawan, akan dituliskannya dalam bahasa Indonesia dengan tetap mempertahankan judul aslinya.

Bui, Ma Bui &  Lhee Droe Aneuk Bui yang Batat Nyan.[]

Popular Posts