Zulham Yusuf & Hal-hal yang Belum Selesai, Semacam Bagaimana Menangkal Sepinya Hidup Tukang Desain

Poster acara Komunitas Kanot Bu, garapan Zulham.
"Desain grafis itu ibarat warteg (warung tegal). Selama orang-orang di Pulau Jawa masih punya kehendak makan. Selama itu pula bisnis warteg akan tetap berjalan."

***

Zulham Yusuf itu anak muda kebanyakan. Seorang sarjana ilmu komunikasi, yang kerap, hanya karena melihat fisiknya orang-orang akan mengira ia masih anak ingusan. Tapi yakinlah ia adalah kebalikan dari anggapan seperti itu. Sebab selain memang sudah sarjana, karya-karyanya cukup membuktikan namanya patut diperhitungkan dalam dunia desain grafis.

Lahir di Matang, Kabupaten Bireuen, sejak masih di bangku SMA, Zulham sudah mendalami tata letak perwajahan sebuah produk media atau adverstising. Aplikasi-aplikasi desain semacam Corel Draw dan Adobe Photoshop ia mamah secara otodidak. Tanpa sekali pun mengikuti kelas-kelas pengembang skill dan bakat yang cara transfer ilmunya dicicil pelan-pelan layaknya seorang maha pelit saat bayar hutang.

Pelajaran otodidaknya mengantarkan Zulham lebih duluan duduk di meja redaksi surat kabar Harian Aceh sebagai layouter, tinimbang duduk di bangku kuliahan ketika setamat SMA ia pergi ke Banda Aceh. Itu terjadi pada Juli 2008. Masih berumur 18 tahun dan tercatat sebagai seorang paling junior di antara karyawan yang lain. "Jika Kak Seto tahu Zulham di sini, Harian Aceh pasti dituntut karena mempekerjakan anak di bawah umur," canda beberapa wartawan saat itu. Tentu candaan mereka merujuk pada fisiknya yang nampak seperti anak kecil.

Harian Aceh adalah tempat Zulham memahami bahwa dunia desain grafis yang digelutinya adalah dunia paling sepi. Dunia yang jauh dari lampu sorot. Jauh dari hiruk pikuk ketenaran, tak banyak dikenal orang. Berbeda jauh dengan para wartawan yang nama mereka kerap dilafal fasih oleh pecandu berita. Maka dalam usaha membunuh sepi itu, pada malam-malam panjang di mana ia biasa meringkuk menghadap monitor, Zulham menyelami pelbagai hal yang berhubungan dengan perangkat komputer. Baik aplikasi-aplikasi desain termutakhir seperti Adobe InDesign dan Illustrator maupun pemrograman dan jaringan.

Lepas dari Harian Aceh ia mulai mengepakkan sayapnya. Tahun-tahun ia menyelesaikan studi di kampus UIN Ar-Raniry adalah masa ketika ia mendesain perwajahan pelbagai media massa. Seperti koran, tabloid, majalah, poster, buku dan website yang semuanya terbitan Aceh. Khusus untuk wajah dan bentuk beberapa tabloid yang beredar antara 2012 hingga sekarang, jika ditilik lebih cermat, kau akan menemukan satu gaya khas yang hampir serupa. Yang jika ditelusuri lebih jauh, Zulham adalah satu desainer yang cukup bertanggungjawab atas kesamaan gaya itu. Sebagai bukti lihatlah bagaimana wajah tabloid The Atjeh Times yang kini telah mati, Pikiran Merdeka, dan Media Aceh yang dua-duanya masih terbit hingga kini.

Apakah Zulham bekerja di beberapa tempat berbeda dalam waktu bersamaan? Tidak. Lalu, kenapa karakternya sama? Itu karena gayanya diikuti oleh beberapa desainer lain yang tentu saja cukup diterima oleh wartawan dan para pemilik media.

Majalah The Atjeh, 


Karakter desain Zulham terletak pada bagaimana ia memanfaatkan ruang secara seimbang. Tulisan, gambar, dan bangun tipografi dari judul-judulnya dirancang dengan mengutamakan titik jeda para pembaca. Ia tak pernah membiarkan tulisan, judul dan gambar, silang sengkarut dalam sebuah tumpukan, kecuali memecahnya dalam ragam-ragam tata letak yang kadang tidak terpikirkan oleh desainer lain. Barangkali karakter inilah yang membuat salah satu karyanya masuk dalam 40 Magazine Cover Design Guaranteed to Inspire You. Diumumkan akhir April 2015 di inspirationfeed.com, situs garapan Igor Ovsynannykov, orang Rusia pemerhati fotografi dan desain grafis dunia yang banyak menulis artikel-artikel kewirausahaan khususnya di dunia desain grafis.

Karya yang masuk dalam nominasi tersebut adalah print template majalah yang dipajang di creativemarket dot com. Salah satu marketplace online yang cukup terkenal, yang menampung pelbagai macam produk desain grafis untuk diperjualbelikan dalam skala global.

Zulham dan desain grafis boleh dikatakan senyawa. Ia masih saja mendalami segala tetek bengek dunia yang hanya dikenal sayup-sayup oleh orang awam sampai ke detil terkecil. Pun belajar secara otodidak ia tidak menutup diri dari buku-buku bacaan. Trilogi karangan Surianto Rustan; Huruf Font Tipografi, Layout Dasar & Penerapannya, Mendesain Logo, telah ia khatamkan tanpa halangan suatu apa. Sementara pada waktu-waktu yang lain ia juga menyempatkan diri menyimak jejak Ajo Kawir, si sopir truk nomaden yang kemaluannya tidak bisa tegak dalam novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Setelah urusan kampusnya tuntas beberapa teman sempat menyarankannya untuk melanjutkan lagi studinya ke jenjang lebih tinggi. Zulham menggeleng. Cita-cita untuk bisa mendirikan sekolah desain grafis bagi anak-anak korban konflik dan anak-anak tak mampu sekolah adalah alasan kenapa tak ingin kuliah lagi. Menurutnya, itu lebih penting sebab desain grafis adalah alternatif pekerjaan yang lebih menjanjikan dari pada pegawai negeri.

Bisakah desain grafis menjamin pendapatan orang-orang sampai jauh hari ke depan? Zulham yakin bahwa kebutuhan desain akan semakin meningkat di masa mendatang. Dan itu adalah kesempatan. Atau dari pembicaraan-pembicaraan di waktu yang lain bisa ditarik kesimpulan:

"Desain grafis itu ibarat warteg (warung tegal). Selama orang-orang di Pulau Jawa masih punya kehendak makan. Selama itu pula bisnis warteg akan tetap berjalan. Kebutuhan informasi visual akan terus ada. Dari baliho kota hingga daftar menu warteg yang belum bisa menancapkan kukunya di Aceh dibanding Indomaret yang telah sukses menampakkan wujudnya kemana pun mata menoleh."[]

Popular Posts